Ekonomi

Teknologinya Masih Sederhana Bikin Indonesia Kalah Saing di Pasar Minyak Atsiri Internasional

TANAMAN penghasil minyak atsiri memang banyak. Saat diolah dan menjadi minyak atsiri, fungsinya berbeda-beda. Ada yang menjadi obat oles, ada yang menjadi bumbu dapur, ada yang bisa dioral atau dimakan.

Ahli Farmasi Indonesia Prof Amri Bachtiar MS DESS, Apt mengatakan, tidak semua minyak atsiri punya fungsi sama.

“Ada yang bisa diaplikasi di kulit, ada yang bisa dimakan. Dijadikan bumbu dapur. Saat masih menjadi tanaman, kandungannya rendah. Namun ketika sudah diambil minyak atsiri nya, rasanya bede. Cengkeh misalnya, akan menjadi kuat efeknya dan tidak bisa dikonsumsi ketika sudah dijadikan minyak atsiri,” ungkapnya.

Begitu juga dengan minyak nilam. Komponen utama yang menentukan menjadi minyak atsiri adalah patchouli alkohol.

“Kandungannya mencapai 30 persen. Untuk yg lain, bobot jenis, warna, aroma, kalau mau mendekati 100 persen harus menggunakan teknik destilasi,” terangnya.

Minyak sereh juga tidak bisa langsung digunakan. Harus diambil komponen tertentu. Dibuat lagi senyawa-senyawa turunan.

“Minyak atsiri sereh bahan baku yang bisa langsung digunakan, bisa juga digunakan senyawa lain atau semi sintesis,” tambahnya.

Fungsi minyak atsiri sebagai fragrance juga digunakan untuk menutupi bau tak sedap bahan-bahan lain seperti obat pembasmi serangga yang diperlukan oleh industri bahan pengawet dan bahan insektisida.

Industri pengolahan minyak atsiri di Indonesia telah ada sejak zaman penjajahan. Namun dilihat dari kualitas dan kuantitasnya tidak mengalami banyak perubahan. Sebab sebagian besar unit pengolahan minyak atsiri masih menggunakan teknologi sederhana atau tradisional dan umumya memiliki kapasitas produksi yang terbatas.

“Inilah kendala bagi mereka yang bermain di bidang minyak atsiri. Hanya sedikit saja pengusaha yang mampu memiliki mesin penyulingan dengan ukuran besar,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, minyak atsiri memiliki persoalan utama yaitu mutu yang rendah serta harga yang rendah dan berfluktuasi. Mutu yang rendah sangat erat kaitannya dengan beberapa faktor penyebab, antara lain rendahnya kapasitas SDM sebagai petani maupun penyuling, pengelolaan bisnis yang tradisional dengan segala keterbatasannya, dan teknologi serta teknik produksi yang masih tradisional dan berkualitas rendah.

Rendahnya kapasitas SDM industri minyak atsiri merupakan salah satu penyebab rendahnya mutu dan rendahnya harga minyak atsiri dan sekaligus merupakan tantangan dan ancaman bagi kelangsungan usaha industri minyak atsiri dimasa yang akan datang.

“Untuk mendalami ilmunya saja mahal. Untuk sekadar membedakan bau minyak nilam misalnya, harus menyiapkan uang sebanyak 250 juta untuk mendatangkan ahlinya dari Prancis. Itu hanya baru mengenal bau, belum yang lainnya. Di sinilah keterbatasan SDM kita. Dan ahlinya pun masih sedikit,” paparnya.

Produksi minyak atsiri merupakan proses yang kompleks. Peningkatan efisiensi produksi memerlukan peningkatan produktivitas tanaman, perbaikan penanganan pasca panen, ekstraksi dan peningkatan nilai tambah yang didukung pengendalian dan jaminan mutu agar diperoleh mutu tinggi dan konsisten.

“Kekayaan alam dengan banyaknya tamnaman penghasil minyak atsiri tidak menjamin petani kita sejahtera. Begitu mereka menanam salah satu jenis tanaman rempah, mereka masih tergantung pada tengkulak. Harganya murah karena kadang sebelum panen tiba mereka sudah butuh uang. Dan para tengkulak itulah yang mengatasinya,” terangnya.(***)

Most Popular

To Top