Gaya Hidup

Ini Potensi Pasar Olahan Minyak Atsiri Untuk Kaum Milenial

BERMACAM sebutan untuk minyak atsiri. Ada yang mendefinisikan sebagai essential oils, etherial oils, atau volatile oils. Namun yang pasti, minyak atsiri adalah hasil ekstraksi alami dari berbagai jenis tumbuhan yang berasal dari daun, bunga, kayu, biji-bijian bahkan putik bunga.

Setidaknya ada 150 jenis minyak atsiri yang selama ini diperdagangkan di pasar internasional. Dari 150 itu, 40 jenisnya diproduksi di Indonesia. Sayangnya, baru 12 jenis yang layak diekspor ke luar negeri. Sisanya bukan karena tidak diminati, namun masih mengalami kendala untuk dipasarkan di pasar internasional.

“Banyak jenis minyak atsiri dari berbagai macam tumbuhan yang bisa diproduksi di Indonesia. Banyak faktor yang bisa menghambat untuk menggembangkannya. Selain dukungan pemerintah yang masih minim, tenaga ahli untuk menjadikan minyak atsiri sebagai produk jadi juga masih sedikit,” papar ahli Farmasi Indonesia Prof Amri Bachtiar MS DESS. Apt.

Menurutnyam minyak atsiri banyak fungsinya. Tapi itu juga tergantung dari jenis tumbuhan yang diambil hasil sulingannya. Minyak atsiri bisa dipakai sebagai bahan baku penyedap rasa/flavour, pewangi, kosmetik dan parfum.

“Untuk industri makanan, minyak atsiri diolah sebagai penambah cita rasa. Industri farmasi menggunakannya sebagai obat anti nyeri, anti infeksi, dan pembunuh bakteri.

Untuk bicara pengembangan di dalam negeri sepertinya masih jauh api dari panggang. Pemerintah masih dinilai belum serius mengembangkan dari sektor ini. Buktinya, dari seluruh daerah yang banyak tumbuh tanaman yang menghasilkan minyak atsiri, baru satu Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang dibangun pemerintah.

“Memang baru ada satu di Sumatera Barat untuk UPTD di bawah Departemen Perindisutrian. UPTD ini memiliki mesin penyulingan ukuran besar. Tugas UPTD memang membantu para petani yang kesulitan saat menanam hingga melakukan penyulingan agar menghasilkan minyak atsiri yang bagus. Sayangnya, ketika mereka nggak ada kerjaan, ya pegawai UPTD itu cuma duduk-duduk saja,” ujarnya.

Di Tawangmangu, Solo juga ada sebuah museum atsiri. Sayangnya, museum itu dibangun cuma sekadar untuk menyalurkan hobi semata. “Yang saya dengar ceritanya mau mewariskan kepada anak-anaknya di bidang minyak atsiri. Karena dia arsitek. Sayangnya anaknya tidak tertarik di bidang ini,” tambahnya.

Adanya data 3000 an pengusaha yang bermain di bidang minyak atsiri, menurut Prof Amri, dinilai masih sedikit. Padahal prospek di bidang usaha minyak atsiri ini sangat bagus.

“Nggak usah ekspor, pasar dalam negeri juga potensial. 270 juta orang Indonesia itu pasar yang bagus. Perlu ada terobosan baru ketika harga minyak atsiri kita di pasar dunia masih dinilai terlalu murah,” terangnya.

Tak hanya kurang seriusnya peran pemerintah. Ketika ada pihak swasta yang ingin mengembangkan minyak atsiri dan kemudian diekspor ke luar negeri pun tidak mudah. Harus melalui proses yang panjang dan betul-betul ketat.

“Saya mempunyai kawan di Padang yang memproduksi minyak atsiri dari tanaman masoi. Itu pun melalui proses yang panjang. Namun sekarang dia agak kesulitan mendapatkan bahan baku yang asalnya dari Papua. Dia punya pengalaman menjual minyak atsiri menjualnya ke Spanyol. Pasar Eropa dan Amerika lebih pasti, mereka lebih fair ketimbang menjual ke China atau India,” ungkapnya.

Dengan berbagai kendala tersebut, Prof Amri menyarankan kepada para pengusaha yang bermain di bidang minyak atsiri untuk fokus ke pasar domestik. Selain masih banyak jenis tanaman lain yang diolah, prosedurnya pun tentu akan lebih mudah.

Jika ekspor, sambung Prof Amri, harus melalui federasi minyak atsiri dunia. Prosesnya betul-betul ketat. Harus melalui penelitian yang panjang. Padahal ada market baru di pasar dalam negeri, yakni market kaum milenial.

“Kita sadarkan dewan atsiri Indonesia untuk bersama-sama mengembangkan hasil olahan kekayaan alam Indonesia untuk kembali dinikmati bangsa ini. Misalnya, Fresh Care itu kan sebetulnya minyak angin. Diramu dalam bentuk lain. Mempromosikannya menggunakan orang yang sesuai dengan jamannya. Orang milenial. Dikemasnya pun dalam bentuk yang beda.

Selain itu, lanjut Prof Amri, pada kenyataannya orang Indonesia itu masih banyak yang sehat, ketimbang sakit. Namun sehat itu belum tentu bugar. Di samping olahraga, aromaterapi yang bisa bikin bugar. Apakah dengan spa atau sauna.

“Kesadaran akan sehat dan bugar inilah yang harus terus digaungkan. Selain sehat, spa dan sauna yang menggunakan bahan minyak atsiri juga akan membuat masyarakat bugar,” tutupnya.***

Most Popular

To Top