Ekonomi

Ini 8 Strategi Agar Minyak Atsiri Indonesia Unggul di Pasar Dunia

TANAMAN yang menjadi bahan baku minyak atsiri sangat beragam jenisnya. Sayangnya, Indonesia hanya mampu mengekspor minyak atsiri dalam bentuk apa adanya. Produsen-produsen minyak atsiri dalam negeri belum mampu membangun industri hilir berupa industri flavour dan fragrance di Indonesia.

Jika Indonesia sudah mampu membangun kedua industri tersebut, niscaya minyak atsiri memiliki nilai tambah. Tak hanya itu, hasil olahan minyak atsiri bisa lebih banyak dinikmati di dalam negeri. 270 juta adalah pasar dalam negeri yang cukup besar untuk membangun industri flavour dan fragrance.

Dengan demikian, pasar minyak atsiri tidak mutlak tergantung dengan pasar ekspor tetapi tercipta melalui kebutuhan dalam negeri. Ketimbang mengimpor produk jadinya yang lebih mahal dan akan menghabiskan banyak devisa negara.

Di samping itu keberadaan industri flavor dan fragrance dapat berfungsi sebagai lokomotif untuk menumbuhkan industri penunjang lainnya. Di antaranya industri aroma chemical berbasis turpentine yang selama ini hampir semuanya diekspor ke India untuk memenuhi industri flavor dan fragrance di sana.

Salah satu upaya yang harus dilakukan agar menjadi industri flavor dan fragrance, harus mengoptimalkan mutu (quality), biaya (cost), dan penyediaan (delivery). Perlu menetapkan visi bersama untuk mencapai mutu produk yang sesuai dengan permintaan pasar, punya komitmen bersama dalam penyediaan bahan baku berkualitas, penerapan GAP (Good Agricultural Practices) maupun GMP (Good Manufacturing Practices), efisiensi biaya proses, tataniaga, serta sistem pasokan bahan baku dan produk yang terkendali untuk mencapai kapasitas tepat jumlah dan tepat waktu sesuai permintaan.

Sistem pemasaran minyak atsiri juga harus dibangun sehingga terjamin ketersediaan pasokan dengan harga yang adil. Pada saat ini, sistem pemasaran yang kurang efisien masih sering terjadi, mengingat produsen minyak atsiri adalah industri kecil menengah yang berbasis bahan baku alam, maka sering terjadi kekurangan stok atau kelangkaan.

Ketimpangan pada pengambilan nilai tambah dan panjangnya rantai pemasaran juga menyebabkan sulit berkembangnya industri minyak atsiri dan cenderung terbentuk kelompok yang dominan dalam pemasaran. Strategi pengembangan dan peningkatan daya saing industri minyak atsiri antara lain sbb.:

Pertama, menetapkan komoditas Unggulan. Di antara beragam produk ekspor minyak atsiri Indonesia, minyak nilam, minyak akar wangi, minyak pala dan minyak cengkeh perlu mendapatkan perhatian khusus. Jenis-jenis ini harus terus dikembangkan mengingat tingginya ekspor dan memiliki posisi penting di pasaran dunia. Minyak nilam sendiri sudah menguasai 85-90% pasar dunia.

Kedua, pengembangan sentra produksi terhadap komoditas tanaman atsiri. Dukungan berupa akses terhadap sarana produksi dapat meningkatkan produktivitas dan mutu bahan baku suatu sentra produksi.

Ketiga, peningkatan mutu produk dan pengembangan dengan cara penerapan standar proses produksi , standar alat, standar mutu yang berlaku dan sesuai dengan permintaan pasar, serta standar harga. Untuk itu diperlukan dukungan semua pemangku kepentingan untuk terwujudnya berbagai standar tersebut.

Keempat, harus ada keseimbangan supply & demand pasar dunia. Karena itu pemerintah dan eksportir harus lebih intensif dalam memberikan pembinaan, penyuluhan dan informasi kepada para petani dan penyuling untuk mengantisipasi kondisi dan kebutuhan pasar dunia.

Kelima, pentingnya memikirkan kesejahteraan petani/penyuling. Peningkatan keuntungan dapat diupayakan melalui peningkatan produktivitas dan peningkatan efisiensi proses produksi. Hal lain yang sangat penting adalah kepastian pasar. Pembinaan yang lebih intensif dan terarah dari pemerintah/lembaga litbang dan kemitraan dengan eksportir sangat diperlukan.

Keenam, penguatan kelembagaan petani dan penyuling. Hampir semua petani dan penyuling minyak atsiri mempunyai posisi tawar yang lemah terhadap berbagai pihak. Saat belum panen, mereka sudah butuh uang. Yang memiliki uang adalah para tengkulak. Tak heran kalau daya tawar mereka sangat rendah. Karena itu perlu dibangun kelembagaan kelompok petani/penyuling yang berfungsi baik dapat memperbaiki akses kepada modal usaha dan pasar.

Ketujuh, mencarikan solusi karena nilai tambah produksi minyak atsiri Indonesia masih rendah. Di lain pihak telah tersedia kapasitas litbang di Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian untuk menghasilkan produk turunan minyak atsiri yang bernilai tambah tinggi. Pemanfaatan hasil kegiatan penelitian dan pengembangan harus dilakukan melalui diseminasi ke pelaku usaha dalam rangka peningkatan nilai tambah produk minyak atsiri Indonesia. Misalnya proses ekstraksi dan fraksinasi minyak atsiri menjadi turunan/derivatnya (flavour and fragrance).

Kedelapan, perlu pengembangan minyak atsiri baru. Setidaknya terdapat 7 jenis minyak atsiri baru yang sangat potensial untuk dikembangkan secara komersial. (1) Minyak anis (anis oil), (2) Minyak permen (cornmint oil), (3) Minyak kemangi (basil oil, Reunion Type), (4) Minyak sereh (lemongrass, East Indian Type), (5) Minyak sereh dapur (lemongrass, West Indian Type), (6) Minyak jeringau (calamus oil), dan (7) Minyak bangle.***

Most Popular

To Top