Ekonomi

Pemerintah Masih Belum Serius Membina Para Petani Tanaman Penghasil Minyak Atsiri

EKSPOR minyak atsiri Indonesia ke dunia setiap tahunnya tak menentu. Berdasarkan data International Trade Center (ITC), nilai ekspor minyak atsiri Indonesia pada 2009 sebesar USD 91 juta. Di tahun 2011 melonjak hingga USD 161 juta. Sementara menurun pada tahun 2013. Nilai ekspor ke pasar dunia turun di angka USD 123 juta. Namun demikian, Indonesia berada di peringkat ke-9 eksportir terbesar di dunia.

Indonesia memiliki lima jenis minyak atsiri yang menjadi produk unggulan dunia. Diambil minyak cengkeh, minyak nilam, sereh wangi, minyak pala dan minyak masoi. Di dunia ini ada sekitar 200 jenis minyak atsiri yang ditawarkan oleh luas. Sembilan puluh persen produk ini disetujui.

Dari data Federasi Internasional Minyak Esensial dan Aroma Perdagangan (IFEAT) yang belum lama ini menggelar acara tatap muka dengan pemasok, pelanggan, petani, pengedar, pengepul dan pemroses yang bergerak di bidang minyak atsiri dari 60 Negara di Mulia Hotel, Nusa Dua, Bali , terungkap bahwa produksi minyak atsiri Indonesia per tahun mencapai masing-masing minyak cengkih 4000-5000 ton, minyak nilam 1500 ton, sereh wangi 1000 ton, minyak pala 300-500 ton dan minyak masoi 20 ton.

Pegiat dan pengamat minyak atsiri Indonesia, Agnes Lourda Hutagalung yang sudah berumur bertahun-tahun berkecimpung di dunia aromaterapi mengaku belum puas dengan posisi Indonesia hanya menjadi pengekspor minyak atsiri yang dibutuhkan dunia.

“Ironis, kita kaya akan tanaman dan rempah penghasil minyak atsiri. Kemudian disuling dan dijual ke negara lain masih dalam bentuk mentah. Kita jual harga murah. Kemudian bahan yang sudah jadi parfum, obat-obatan, sabun mandi yang diperlukan di luar negeri, kembali kita impor dengan harga yang mahal. Kenapa kita tidak bisa memproduksi sendiri sampai bahan itu jadi, baru kita ekspor. Kan keuntungannya berkali lipat, ”ucap Lourda.

Menurut Lourda, tanaman dan rempah-rempah yang dihasilkan dari bumi Indonesia tidak hanya sampai di tingkat penyulingan minyak atsiri saja. Karena minyak atsiri bukan produk akhir.

“Menjadi sabun, losion, parfum atau apa saja, jika bisa dibikin distribusinya internasional. Misalnya obat-obatan, leadingnya Jerman. Parfum Prancis leadingnya. L’Oreal itu kan mau membeli produk Indonesia yang dibeli. L’Oreal yang menguasai pasar. Bikin aja penyembuhan parfum. Pasar Indonesia sendiri masih besar. 270 juta jiwa itu jelas membutuhkan produk akhir minyak atsiri. Kita ajak semua mata rantai, yang di Medan, Padang, Semarang, untuk sama-sama menggunakan minyak atsiri tidak disetujui, tetapi juga menghasilkan produk jadi yang dibutuhkan, ”paparnya.

Dengan penggunaan di dalam negeri meningkat, lanjut Lourda, ekspor bisa berkurang. Karena orang dalam negeri yang pakai. Konsumsi bahan baku meningkat. Harga di petani juga bagus. Baru kemudian ekspor kompilasi hasil produksi meningkat.

“Ini mata rantai. Bagaimana setiap pemain dapat berkontribusi dengan meraih pasar dalam negeri, ekspor juga meningkat. Ada 3000 – 4000 penyuling minyak esensial di Indonesia, ”tambahnya.

Ahli Farmasi Indonesia Profesor Amri Bachtiar MS DESS. Apt mendukung keingingan seluruh pemangku kepentingan minyak atsiri Indonesia untuk meningkatkan tanaman dan rempah-rempah untuk tidak mendukung minyak atsiri sebagai bahan baku mentah. Tapi bisa jadi produk jadi.

Namun, menurutnya, saat ini masih banyak yang harus dipindahkan. Kekayaan hasil alam di Indonesia belum dapat dimaksimalkan untuk menjadi komoditas ekonomi karena banyak faktor. Diambil, masih minimnya dukungan pemerintah, ahli ahli, berbagai masalah di petani dan lain sebagainya.

“Kita maunya bermainnya di mana? Kita hanya bermain di minyak atsiri yang ada saat ini saja. Pengalaman di Padang tidak sederhana. Saat diberi bibit, para petani memang akan menanam. Setelah memutuskan, siapa yang menjamin apa yang dihasilkan itu bisa dibeli? Misalnya saja, satu kali suling satu ton minimal. Biayanya harus besar. Harus dikerjakan dalam jumlah besar. Baru ada nilai ekonomisnya. Beda dengan nilam harga mahal dan menjadi salah satu produk ekspor unggulan, ”terangnya.

Demikianlah, tambah dukungan pemerintah, Prof Amri mengungkapkan, saat ini hanya baru satu-satunya di Indonesia UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) di bawah Kementerian Perindustrian yang khusus membahas produksi minyak atsiri.

“Ini hanya satu-satunya yang ada di Padang, Sumatera Barat. Sama seperti di Sidoarjo di sana ada sentra kulit, di Manado ada sentra kelapa, dan UPTD yang meminta itu hanya di situ saja. Sementara banyak daerah penghasil minyak atsiri lainnya. Akhirnya UPTD di bangun di Sumbar. Padahal Aceh lebih serius. Jadi UPTD ini jangan cuma satu daerah, tapi dibuat di daerah lain yang memang banyak menghasilkan tanaman bahan bakar atsiri, ”katanya.

Dijelaskan Prof Amri, UPTDapat mengumpulkan petani bagaiamana menghasilkan minyak atsiri yang lebih baik. Terkait proses dari hulu ke hilir dalam pelayanan dan pengembangan minyak atsiri. Misalkan ada petani yang menentang teknik penyulingan dan sebagainya, mereka akan membantu petani.

Bahkan UPTD juga punya alat ukuran besar, 200 Kg. Dipakai untuk pelatihan penyulingan tanaman nilam dan sereh wangi. Bagaiamana tambah minyak atsiri yang bagus hingga hulu menjadi produk, tidak perlu tenaga ahli yang tetap untuk terus mendampingi para petani tersebut.

“Kalau bicara minyak atsiri, harus sekolah dulu. Jika mau murah ke India atau Prancis. Prancis siap menyediakan 20 orang guru dengan mengajar satu hari 5 jam, dalam 1 minggu, nilanya mencapai 250 juta. Itu sekolah hanya untuk mengenal baunya saja, belum yang lain-lain. Dari bau mereka tau ini nilam Aceh, ini nilam Brasil, ”paparnya. ***

Most Popular

To Top