Internasional

Kasusnya Kayak Petral, Selalu Dihargai Murah, Pengusaha & Petani Minyak Atsiri Indonesia Siap Perang dengan Mafia Singapura

INDONESIA kaya akan rempah-rempah yang bisa membuat minyak atsiri, minyak berharga tinggi. Ada sekitar 900 jenis tanaman yang bisa dibuat minyak atsiri. Dari 900 jenis itu, baru 12 jenis yang memiliki nilai ekonomis untuk dijual ke pasar dunia. Sayangnya, hingga saat ini Indonesia belum mampu menjual dengan harga mahal.

Justru yang untung besar dari minyak atsiri (terutama jenis nilam) Indonesia itu Singapura. Mereka tak punya lahan buat ladang, mereka juga tak punya petani. Tapi Singapura mampu menjual minyak atsiri yang penting dari Indonesia, kemudian dijual dengan harga mahal ke pasar dunia.

“Singapura membeli minyak atsiri dari Indonesia dengan harga yang murah, karena mereka memiliki mesin besar dan mampu mengolah menjadi minyak atsiri murni. Harganya bisa dijual ke pasar dunia empat kali lipat dari minyak atsiri asli asal Indonesia, ”papar pakar aromaterapi Indonesia Agnes Lourda Hutagalung di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Salah satu unggulan minyak atsiri asal Indonesia adalah minyak nilam dan sereh. Selain Indonesia, negara pengekspor minyak nilam adalah Cina, Filipina, Malaysia, Brasilia, Paraguay, dan Madagaskar. Sementara negara pengimpor di Amerika, Singapura, Prancis, India, Belanda, Inggris, Jerman, Swiss, Australia dan Spanyol.

“Tapi Indonesia menguasai 85% jenis minyak atsiri nilam di pasar dunia,” kata Lourda.

Pakar Aromaterapi Indonesia Agnes Lourda Hutagalung di seminar tentang ethno wellness Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Minyak nilam yang diluncurkan sudah dimurnikan (minyak seperti minyak malinda) atau minyak bentuk atsiri kasar (berwarna kecoklatan). Di negara pengimpor sebagian besar Singapura, minyak ini kembali diolah dan dimurnikan. Setelah digunakan sebagai bahan industri kosmetik, mode tren, aromaterapi, farmasi, serta bahan pengikat dalam industri parfum.

Minyak nilam juga dapat diolah menjadi minyak rambut, sabun, saus tembakau, obat herbal peradangan tubuh seperti infeksi kulit atau iritasi, radang sendi dan asam urat.

“Hasil olahan jadi yang dikirim ke negara, termasuk yang dikembalikan ke Indonesia. Ini kan ironis. Kenapa tidak kita sendiri saja yang mengolahnya menjadi bahan jadi. Kemudian bahan jadi kami jual ke pasar dunia, jelas untungnya lebih besar, ”papar pakar ethno wellness Indonesia ini.

Kenyataan ini, lanjut Lourda, menunjukkan, lebih besar hasil berlipat yang diperoleh Singapura. Selain minyak atsiri nilam yang mereka beli dari Indonesia, termasuk dari Aceh, dalam kisaran harga yang rendah.

“Kita mengganti defisit 3-5 kali lipat dari nilai ekspor. Informasi ini saya dapatkan langsung dari Pemda Aceh, ”ungkapnya.

 

Klaim sesat

Mantan Duta Besar RI untuk Swiss, Djoko Susilo juga pernah mengatakan dalam satu diskusi di Bogor pada 2014 yang diterbitkan 90% produksi minyak atsiri nilam dunia ada di Indonesia. Namun, yang ditolak malah dinikmati Singapura. Karena menjual dan yang mengolah itu Singapura.

“Tingginya harga jual minyak atsiri yang dilakukan Singapura karena mereka diklaim bisa menjual minyak atsiri dengan kemurnian mencapai 99,7%. Saya memang bukan ahli kimia, ilmu saya di hilir, tinggal nyampur-nyampur minyak atsiri agar menghasilkan bau yang nyaman. Bisa saja Singapura mengklaim sesat ini, ”terang Lourda.

Sebagai pengusaha di bidang aromaterapi, Lourda menyatakan bahwa ia berada di garda terdepan mata rantai perdagangan minyak atsiri.

“Singapura jelas membeli dari Indonesia kemudian dimasukkan dalam salah satu mesin tertentu yang besar. Jika minyak atsiri diekstraksi, kemudian dijual empat kali lipat dari yang dijual di Indonesia. Jika kita bisa menjual langsung ke dunia, sertifikasinya terpercaya, ini kan menjadi lebih baik buat semua, harga mahal di petani juga tinggi, ”paparnya.

Namun demikian, Lourda punya pengalaman dengan para petani Indonesia. Harga petani Indonesia dapat ditingkatkan semurah mungkin. Karena memang pada umumnya masalah di petani Indonesia itu saat panen belum tiba, mereka sudah membutuhkan uang. Dibutuhkan ijon-ijon atau pengepul yang dibutuhkan oleh petani. Mereka pun memenangkan harga semurah-murahnya.

“Saya memang belum bisa mencapai tingkat membantu keuangan para petani. Tapi saya mencari jalan agar harga jual kita lebih baik, jadi kompilasi ditarik ke belakang (petani) juga lebih mahal, ”tambahnya.

Dengan kondisi demikian, Lourda menyatakan siap memutus rantai perdagangan dengan Singapura dengan harga murah untuk kesejahteraan bangsa, terutama demi kesejahteraan petani khusus tanah.

“Kita akan berperang dengan Singapur. Ini kasusnya agak sama kayak Petral. Ada mafia yang mempermainkan harga. Jadi berbisnis dengan Singapura, rakyat dan negara kita kalah dirugikan, ”tegasnya.

Sesungguhnya mereka melakukan pendapat sesat di media massa. Di dunia maya mereka menggunakan robot akun-akun yang menduplikasi sesuai perencanaan kita dengan menghasilkan banyak artikel di internet yang memproduksi minyak atsiri terbaik di dunia itu ada di Singapura.

“Ini tugas kita membalikkan opini ini ke dunia bahwa minyak atsiri itu berarti Indonesia dan kita juga mampu mengekstraksinya lebih baik dari Singapura yang notabene tidak memiliki sumber daya alam. Bahkan mereka membeli hasil dari petani kita dengan harga murah. Karena itu, sudah saatnya Indonesia mengeluarkan minyak atsiri yang asli dan terbaik dari Indonesia, ”paparnya.

Ahli farmasi Indonesia Pofesor Amri Bachtiar MS DESS, Apt. Foto Istimewa

Ahli farmasi Indonesia Pofesor Amri Bachtiar MS DESS, Apt menyatakan aromaanannya jika minyak atsiri yang dihasilkan Singapura dinyatakan terbaik di dunia.

“Yang mengklaim itu adalah apa, komponennya apa? Kemurnian itu maksudnya sudah tercampur alkohol atau apa? Di farmasi menjawab 99 sekian persen. Itu kalau bicara komposisi murni. Misal ada mangosten dari kulit manggis, 99 koma sekian persen itu bisa. Ketika berbicara minyak, diumumkan 99 koma sekian persen, maksudnya apa? ”Ujar mantan guru besar bidang Farmasi Universitas Andalas ini, heran dengan klaim tersebut.

Menurutnya, jika membicarakan minyak atsiri arahnya aromaterapi, perlu juga diminta benar minyak atsiri ini dikirim langsung ke Singapura. Karena pada umumnya minyak atsiri hasil bumi Indonesia juga dikirim ke Eropa, Jepang dan Amerika.

“Kita tidak tahu data akurat dari Kementerian perdagangan seperti apa. Tapi yang jelas minyak atsiri yang bisa diekspor dari Indonesia ada 12 jenis. Yang paling besar itu minyak nilam dan sereh wangi, ”tambahnya.

Menurut Prof Amri,  ekspor minyak nilam terbesar dari Aceh. Kualitasnya bagus. Minyak nilam Aceh mengandung rendemen (kandungan zat minyak) 2,5 hingga 3,3%, sedangkan rata-rata nilam di dunia hanya mencapai 2,5%.

Seperti diketahui, produksi nilam Aceh tersebar di Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Sabang.

“Padahal, di Indonesia ada 900 jenis tanaman yang mengandung minyak atsiri. Jadi masih banyak sekali yang bisa digali selain 12 jenis itu, ”terangnya.

Prof Amri mencontohkan tentang kawannya di Padang yang menghasilkan minyak atsiri dari kulit Masowi. Masowi ini bahannya dari Papua. Untuk bahan bakunya seharga 70 ribu rupiah perkilo.

“Saat sudah jadi minyak harganya mencapai 8 juta perkilogram. Kemudian di ekspor ke Eropa, terutama Spanyol,” tandasnya. ***

Most Popular

To Top