Internasional

Jangan Mau Diremehkan! Minyak Atsiri Indonesia Menguasai Dunia, Sudah Saatnya Kita Jual Mahal ke Negara Lain

MINYAK Atsiri atau yang biasa disebut juga dengan essential oils, etherial oils, atau volatile oils menjadi salah satu komoditas yang berpotensi untuk menambah devisa negara. Minyak atsiri merupakan hasil ekstraksi dari jenis tumbuhan tertentu, baik berasal dari daun, bunga, kayu, biji-bijian bahkan putik bunga.

Ahli farmasi Indonesia Pofesor Amri Bachtiar MS DESS, Apt menyatakan, pasar potensial hasil produksi minyak atsiri Indonesia adalah pasar Eropa dan Amerika. Sebab, orang Eropa dan Amerika berfikirnya rasional.

“Kalau kita buktikan bagus. Bersertifikasi mereka akan beli. Begitu juga sebaliknya, jika tidak bagus, tentu tidak akan diterima di kedua benua yang menjadi pasar potensial itu,” ujarnya.

Prof Amri menyatakan, setidaknya ada 900 jenis tanaman yang bisa menghasilkan minyak atsiri di Indonesia yang bisa dikembangkan dan digali lgi lebih dalam. Di perdagangan pasar internasional ada 40 jenis. Di antaranya ada di Indonesia. Namun yang bisa diproduksi di Indonesia baru 12 jenis yang masuk klasifikasi sebagai komoditi ekspor. Itu pun hanya sebatas bahan mentahnya berupa minyak atsiri saja.

Sebagai produsen minyak atsiri terbesar di dunia untuk beberapa komoditi, tentu saja Indonesia memiliki kepentingan terhadap perkembangan minyak atsiri saat ini. Khususnya minyak nilam (patchouli oil). Jenis nilam dikenal memiliki mutu terbaik dalam pasar essential oil dunia. Produk minyak nilam Indonesia mampu menguasai pangsa pasar perdagangan minyak nilam dunia hingga 80 – 90%.

Untuk bisa lebih bersaing lagi dengan pasar dunia, Prof Amri mengatakan perlu mencari sumber-sumber baru lagi selain 12 jenis tersebut. Sayangnya untuk menjual minyak atsiri ke negara-negara Eropa dan Amerika persyaratannya memang betul-betul ketat sekali.

“Harus melalui beberapa proses pengawasan melalui federasi minyak atsiri internasional. Sebuah produk baru minyak atsiri baru harus melalui penelitian yang panjang. Mulai dari manfaatnya, apakah menyebabkan alergi atau ada efek negatif lainnya, harus dalam pengawasan ketat,” ujarnya.

Pakar aromaterapi Indonesia, Agnes Lourda Hutagalung menjelaskan, manfaat minyak atsiri sangat banyak, tergantung dari jenis tumbuhan yang diambil hasil sulingnya. Yang paling memberikan hasil maksimal ketika minyak atsiri digunakan sebagai bahan baku minyak wangi, aromaterapi, komestik dan obat-obatan.

Minyak atsiri juga digunakan sebagai kandungan dalam bumbu maupun pewangi (flavour and fragrance ingredients). Industri komestik dan minyak wangi menggunakan minyak atsiri sebagai bahan pembuatan sabun, pasta gigi, shampoo, lotion dan parfum.

Industri makanan juga menggunakan minyak atsiri sebagai penyedap atau penambah cita rasa. Industri farmasi menggunakannya sebagai obat anti nyeri, anti infeksi, pembunuh bakteri. Fungsi minyak atsiri sebagai aromaterapi. Bisa juga bermanfaat untuk wewangian menutupi bau tak sedap bahan-bahan lain seperti obat pembasmi serangga yang diperlukan oleh industri bahan pengawet dan bahan insektisida.

“Peluang pasar komoditi minyak atsiri Indonesia masih terbuka luas. Namun hanya sebagian kecil jenis minyak atsiri yang telah diproduksi di Indonesia. Permintaan minyak atsiri ini pun diperkirakan terus meningkat dengan bertambahnya populasi penduduk dunia,” terangnya.

Sayangnya, sambung Lourda, produksi dalam negeri kita masih dibilang terlalu murah untuk dipasarkan ke perdagangan Internasional. Sebab, Indonesia hanya mampu menjual bahan mentahnya dalam bentuk minyak atsiri saja, bukan bahan jadi.

“Yang untung besar tentu saja Singapura atau negara lain yang kemudian mengolahnya menjadi bahan jadi seperti yang disebutkan di atas,” tambahnya.

Komoditi minyak atsiri banyak dikembangkan oleh negara-negara, seperti Amerika Serikat, Singapura, Perancis, India, Spanyol, Jerman, Swiss, Belanda, dan Inggris.

“Sebagai negara yang kaya akan bahan baku minyak atsiri, Indonesia melihat peluang yang cukup prospektif untuk pengembangan ekspor ke berbagai negara tersebut,” tambahnya.

Karena itu, Lourda bertekad akan menggandeng seluruh stakeholder yang bermain di bidang ini untuk menyadarkan bahwa minyak atsiri ini kalau bisa diolah menjadi bahan jadi di dalam negeri tentu saja memberikan dampak yang lebih baik, harganya pun akan tinggi.

“Tujuan saya pertama, mengangkat harga di level petani. Kedua, membuat orang Indonesia mengkonsumsi minyak atsiri bahan jadi. Karena ekspor ada tantangannya. Boleh saja kita melakukan ekspor dengan harga lebih baik bukan harga sekarang. Kalau lewat Singapur kan untungnya sudah mandeg di Singapura saja. Keempat, kita ingin mengangkat nama Indonesia sebagai dominan power of essential oil of the world. Saat ini kan yang dikenal cuma Singapura dan Malaysia saja. Bukan Indonesianya,” tandasnya.***

Most Popular

To Top