Nasional

Bila Jokowi Perintah Turun ke Jalan, Para Alumni Universitas dari Seluruh Indonesia ini Siap jadi Martir

Ayonews, Jakarta
Aksi demonstrasi penolakan terhadap RUU KUHP yang berlangsung nyaris tiap hari di ibukota dan beberapa kota lainnya di Indonesia membuat banyak pihak gemes. Aktifitas masyarakat terganggu, korban berjatuhan, infrastruktur rusak, investor mulai banyak yang kabur, dan berbagai imbas negatif lainnya.

Sebagai wujud keprihatinan atas dinamika sosial dan politik yang terus memanas, ratusan alumni dari seratusan universitas dari seluruh Indonesia pun berkumpul untuk memberikan pandangan serta dukungan moral kepada Presiden Joko Widodo, di sebuah rumah di Kawasan Cikatomas, Jakarta Selatan, Senin (30/9/2019).

Pertemuan antaralumni dari berbagai universitas bertajuk “Alumni-Alumni Universitas di Indonesia Bersama Jokowi” ini mengeluarkan sikap akan menjaga Presiden Jokowi hingga 19 hari ke depan sampai kembali dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 – 2024 dari berbagai ancaman.

“Tidak ada agenda politik dalam pertemuan ini, melainkan agenda moral,” kata salah satu inisiator pergerakan alumni-alumni universitas seluruh Indonesia, Bambang Heru.

Menurut  Heru, pertemuan ini sebagai wujud dukungan moral kepada Presiden Jokowi, bahwa Jokowi tidak sendirian.

“Masih lebih banyak masyarakat yang mendukung. Kita tidak tinggal diam. Kalau perintah Presiden Jokowi turun, kami akan turun mengawal,” tegas Heru.

Heru mengajak seluruh civitas, akademisi dan seluruh lapisan masyarakat pendukung untuk bergerak bersama Jokowi.

“Ajakan ini harus kita share ke mana-mana. Semua pendukung Jokowi harus bersiap untuk bergerak. Bukan cuma nonton TV. Orang lain (oposisi, red) lima langkah depan kita, kita baru jalan. Kita siap jadi martir,” ujarnya.

Demonstrasi yang belakangan marak ini, menurut Heru, memang dijamin oleh Undang-undang. Namun, ada indikasi kalau gerakan moral mahasiswa BEM Seluruh Indonesia (SI) itu telah ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik yang ingin menghancurkan dan memecah belah bangsa.

“Jangan sampai ditunggangi, terlebih digunakan sebagai agenda pelengseran Presiden (impeachment) yang dilakukan dengan anarki,” kata Penasehat Organisasi Medalwangi tersebut.

“Kita ingin menyikapi 19 hari ke depan. Ada indikasi demo dibikin chaos,” tambahnya.

Dengan ditemukannya bom molotov, celurit dan granat aktif yang bisa membunuh ratusan orang beberapa hari sebelumya oleh aparat kepolisian, sambung Heru, merupakan indikasi kuat kalau demo-demo itu memang sengaja akan dibuat rusuh.

“Mustahil tidak ada yang menunggangi. Ini ada kelompok yang menunggangi. Para pelajar STM dikorbankan. Beberapa tayangan video yang beredar viral di media sosial, para pelajar itu saja terlihat bingung saat ditanya mau apa demo. Jadi demo ini memang disiapkan untuk rusuh karena kepentingan mereka terancam bila Jokowi kembali memimpin negeri ini,” paparnya.

Dalam kesempatan berbeda, ahli Hubungan Internasional yang turut hadir pada kegiatan ini, Suzie Sri Suparin mengatakan bahwa masyarakat Indonesia harus lebih kritis dalam melihat fenomena beberapa hari ini.

“Jangan sampai kita dimanfaatkan oleh mesin kapitalisme berbalut agenda politik atau agama,” ucap akademisi lulusan Amerika tersebut.

Suzie berpesan agar masyarakat mau aktif mengakses informasi secara lebih menyeluruh dan tidak setengah-setengah, agar tidak mudah dipecah belah.

“Jangan sampai Republik Indonesia ini hancur karena kepentingan politik adu domba, masyarakat harus ikut mengawalnya Bersama,” tandasnya.(Tim WRC)

Most Popular

To Top