Gaya Hidup

Tren Khasiat Minyak Kutus-kutus, Antara Klaim & Fakta

MENGOBATI penyakit dengan cara tradisional masih menjadi tren di masyarakat. Karena pengobatan alami ini dipercaya manjur dan aman dipakai tanpa adanya efek samping. Salah satu obat tradisional yang sedang viral di masyarakat adalah minyak kutus-kutus. Minyak ini diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Meski secara medis belum diuji secara ilmiah, tapi minyak ini sah-sah saja dipakai sebagai alternatif penyembuhan. Karena memang bahan-bahannya juga berasal dari tanaman obat-obatan. Dan namanya pengobatan tradisional selalu diiringi keyakinan dan sugesti bakal sembuh.

Minyak kutus-kutus ini sudah terdaftar di Badan POM (BPOM) Indonesia. Bahkan, sudah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun demikian, masih dibutuhkan banyak penelitian medis untuk memastikan keamanan dan efektifitas minyak kutus-kutus sebagai bagian dari pengobatan alternatif..

“Pengobatan tradisional ini juga sudah ada peraturannya. Dalam UU Kesehatan obat tradisional itu ada jamu, ada obat herbal, ada yang dalam bentuk minyak dan lain-lainnya. Ada direktoratnya di BPOM. Jadi belum tentu keyakinan memakai minyak kutus-kutus menyalahi aturan,” kata ahli Farmasi Prof Amri Bachtiar MS DESS, Apt, saat dihubungi di Jakarta, (29/9/2019).

Minyak kutus-kutus juga diyakini bisa menyembuhkan orang lumpuh dan stroke. Tapi Prof Amri Bachtiar menegaskan bahwa minyak kutus-kutus belum teruji secara ilmiah.

“Saya kira tidak sesederhana itu. Gangguannya di syaraf lantas menyembuhkannya menggunakan obat luar atau minyak gosok. Harus dibuktikan dulu secara ilmiah. Pengujian secara ilmiah pun harus melalui beberapa tahapan,” tegasnya.

Menurut mantan Guru Besar Farmasi Universitas Andalan Sumatera Barat tersebut, minyak kutus-kutus bisa saja masuk dalam kategori obat tradisional. Karena memang kandungan minyak kutus-kutus berasal dari bahan-bahan alami yang sudah turun-temurun dipakai sebagai bagian pengobatan tradisional.

“Tapi perlu diingat bahwa pengobatan itu bisa masuk dalam kategori sebagai pengobatan tradisional harus melalui tiga generasi atau masa 60 tahun. Misalnya, dari neneknya, ayahnya, kemudian dilanjutkan oleh anaknya.

Hingga kini, Prof Amri mengatakan bahwa ia belum menguji secara ilmiah minyak kutus-kutus yang kini sedang tren di masyarakat.

“Liat dulu ramuannya. Bahan obat tradisional ada minyak kelapa. Dan minyak kelapa murni ini sudah banyak yang menggunakananhya. Jadi boleh saja. Diliat juga dari mana literaturnya. Kalau bicara berasal dari minyak murni kelapa, monyak telon juga mengandung 30 persen minyak kelapa,” ujarnya.

Asal Muasal

Seperti diketahui, minyak kutus-kutus adalah minyak rempah herbal buatan Servasius Bambang Pranoto pada tahun 2012. Bambang, sapaan akrabnya, meracik minyak itu sendiri untuk mengobati kelumpuhan yang ia alami akibat kecelakaan di tahun 2011.

Setelah menggunakan minyak yang belakangan dinamakan minyak kutus-kutus selama kurang lebih tiga bulan, Bambang mengaku kesehatannya berangsur membaik. Dari situlah Bambang mencoba melakukan berbagai eksperimen untuk memperbaiki kualitas minyak yang ia ciptakan.

Setelah memasarkan dari mulut ke mulut, lama-lama permintaan minyak ini semakin meningkat. Banyak orang yang mengaku sembuh dari penyakitnya karena menggunakan minyak ini secara teratur.

Minyak kutus-kutus dibuat secara tradisional menggunakan bahan dasar minyak kelapa asli dan campuran 48 jenis tanaman herbal berkhasiat lainnya. Pembuatnya menyatakan bahwa tidak ada unsur hewani dan bawang yang terkandung dalam minyak ini. Minyak kutus-kutus juga tidak mengandung bahan kimia sama sekali.
Fakta klaim

Salah satu klaim manfaat minyak kutus kutus yang paling fenomenal adalah kemanjurannya mengobati berbagai macam penyakit. Mulai yang ringan seperti meriang hingga penyakit kronis seperti kanker.

Meski mengandung puluhan jenis tanaman herbal, ada 8 bahan dasar yang terkandung dalam minyak kutus-kutus, yaitu:

1. Daun neem
Neem atau yang memiliki nama latin Azadirachta indica adalah tanaman asal India. Tanaman herbal ini sudah sejak dahulu dipakai untuk mengatasi berbagai penyakit. Tak hanya daunnya, kulit, bunga, buah, biji dan bahkan akarnya juga bisa dimanfaatkan sebagai obat.
Beberapa studi menemukan bahwa herbal satu ini dapat digunakan untuk membantu melawan plak serta mengobati bisul dan kanker. Beberapa studi lainnya juga menjelaskan bahwa herbal ini dapat digunakan untuk mengatasi gangguan penglihatan, mimisan, cacingan, gangguan pencernaan, penyakit kardiovaskuler, mengendalikan gula darah bagi pasien diabetes, mengurangi peradangan, mengatasi infeksi saluran, hingga meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Sayangnya, penelitian yang sudah dilakukan bersifat terbatas. Sehingga masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa ekstrak herbal minyak kutus-kutus ini ampuh untuk mengatasi berbagai kondisi yang disebutkan di atas.

2. Daun ashitaba
Ashitaba adalah tanaman herbal yang banyak tumbuh di negara Jepang. Akar, daun, dan batang tanaman ini dapat digunakan sebagai obat. Biasanya, tanaman ini digunakan untuk mengatasi mulas karena gangguan pencernaan seperti GERD.
Ekstrak ashitaba dalam minyak kutus-kutus digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, asam urat, sembelit, dan demam. Minyak ini juga digunakan untuk mengatasi cacar, retensi cairan, pembekuan darah, hingga keracunan makanan.
Para ahli percaya bahwa senyawa kimia yang terkandung dalam daun ini bekerja sebagai antioksidan. Beberapa senyawa kimia lainnya juga membantu menghambat sekresi asam di lambung. Namun, belum ada informasi spesifik yang mampu menjelaskan bagaimana daun ashitaba bisa mengatasi berbagai kondisi di atas.

3. Purwaceng
Di Indonesia, purwaceng dikenal sebagai obat herbal untuk meningkatkan gairah seksual pria. Herbal ini bahkan sering disebut sebagai obat viagra alami. Hampir seluruh bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan. Namun, bagian akarnyalah yang paling dimanfaatkan.
Selain meningkatkan kejantanan pria, purwaceng juga diklaim dapat digunakan untuk melancarkan sirkulasi darah, mengatasi infeksi saluran pernapasan atas, infeksi saluran kencing, batu ginjal, dan retensi cairan (edema). Tak hanya itu, herbal ini juga dapat digunakan untuk membantu meredakan nyeri, demam, hingga gangguan pencernaan. Sayangnya, masih sedikit penelitian yang membuktikan manfaat-manfaat purwaceng tersebut.

4. Bunga lawang
Bunga lawang juga sering disebut dengan kembang lawang atau pekak. Rempah ini berasal dari Tiongkok Selatan dan Vietnam. Bagi masyarakat Asia, bunga lawang digunakan dalam banyak masakan.
Berdasarkan penelitian yang sudah ada, bunga lawang diketahui bermanfaat untuk mengobati infeksi bakteri dan jamur. Antioksidan yang terkandung dalam bunga lawang juga dipercaya dapat membantu mencegah penuaan dini pada kulit dan bahkan menguragi perkembangan sel kanker.

5. Temulawak
Manfaat temulawak telah terbukti dalam pengobatan Cina tradisional. Mereka banyak yang menggunakan temulawak, baik temulawak asli maupun temulawak krim, sebagai obat anti peradangan serta penyembuh luka.
Herbal satu ini juga sering digunakan untuk membantu mengatasi gangguan pencernaan, osteroarthritis, serta membantu pengobatan kanker. Walaupun masih sangat sedikit penelitian yang tersedia terkait manfaat temulawak dengan pengobatan kanker, namun beberapa ahli percaya temulawak dapat berguna untuk membantu pengobatan kanker prostat, kanker payudara, dan kanker usus.
Beberapa manfaat temulawak juga belum terbukti secara ilmiah. Misalnya, untuk mengatasi ekzema, sirosis, penyakit jantung, masalah kesehatan mulut, serta batu empedu.Dibutuhkan banyak penelitian lanjutan untuk memastikan manfaat temulawak dalam minyak kutus kutus untuk kesehatan.

6. Pule
Pule merupakan sebuah pohon yang memiliki nama latin Alstonia scholaris. Di Indonesia sendiri, tanaman ini dikenal dengan berbagai macam nama, mulai dari pulai, kayu gabus, lame, lamo, dan jeletung. Kulit kayu dan daun merupakan dua bagian dari pohon pule yang sering diolah menjadi minyak kutus-kutus.

Pule sering digunakan untuk mengatasi penyakit malaria, anemia, arthritis, dan tekanan darah tinggi. Tanaman ini juga sering digunakan sebagai stimulan. Sayangnya lagi, belum banyak penelitian yang dapat membuktikan manfaat-manfaat tersebut.

7. Kayu gaharu
Gaharu merupakan salah satu kayu yang memiliki nilai jual tinggi. Pasalnya, batang, daun, hingga ekstrak minyak tanaman ini menawarkan banyak sekali manfaat kesehatan. Gaharu sering digunakan sebagai aromatik dalam pembuatan dupa.
Setelah diolah menjadi minyak kutus kutus, batang tanaman ini dipercaya dapat membantu mengatasi penyakit ginjal kronis seperti batu ginjal dan gagal ginjal. Gaharu juga diketahui membantu mengatasi asma, kebotakan, gangguan pencernaan, pembengkakan, hingga merileksasikan pikiran. Sama seperti tanaman herbal pada umumnya, berbagai manfaat gaharu masih perlu diteliti lebih lanjut.

8. Minyak kelapa
Minyak kelapa tak hanya enak diolah menjadi makanan. Faktanya, minyak ini juga menawarkan banyak manfaat untuk kesehatan. Bahkan, minyak kelapa dapat dikategorikan sebagai superfood berkat kekayaan nutrisinya yang baik untuk kesehatan tubuh.
Berbagai penelitian menemukan bahwa minyak ini bermanfaat untuk mengurangi peradangan karena kandungan antioksidannya yang tinggi. Minyak ini juga dapat membantu mencegah penyakit gusi dan karies gigi, menstabilkan gula darah, membakar lemak perut, hingga memelihara kesehatan rambut dan kulit. Ketimbang minyak jenis lainnya, minyak kelapa lebih mudah diserap kulit.***

Most Popular

To Top