Nasional

Tahun 2018 BPJS Kesehatan Tanggung 94,297 Triliun, Hingga Maret 2019 Sudah 25 Triliun APBN Terkuras

Ayonews, Jakarta

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan dinilai hanya produk populis. Program yang dikerjakan terlalu menggebu-gebu. Tidak mempertimbangkan beban besar yang bakal ditanggung negara.

Dan sekarang, BPJS jadi benang kusut. Entah masih diurai atau bisa diurai dalam waktu yang lama.

“Sudah saatnya kita mendigdayakan ethno wellness. Sebagai pengobatan tradisional, sudah seharusnya masuk dalam program BPJS Kesehatan. Apalagi peluang untuk mengembangkannya sebagai wisata kesehatan (health tourism) sangat luas,” ujar pakar spa Indonesia, Agnes Lourda Hutagalung, di Jakarta, Minggu (22/9/2019).

Berdasarkan UU Kesehatan No 36 Tahun 2009, kesehatan adalah hak asasi manusia sebagai salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan.

Secara definisi UU tersebut, kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Sedangkan menurut WHO, Kesehatan adalah keadaan mental, fisik dan kesejahteraan sosial yang berfungsi secara normal tidak hanya dalam keabsenan suatu penyakit.

“Saya akan membuat beberapa dokumen soal ethno wellnes. kita submit ke presdien, Menko PMK, Mensos dan Menkes,” ujarnya.

Pemerhati kesehatan dari perkumpulan Amert, Teguh Mudjiyono mengatakan, pelayanan kesehatan itu ada dua jenis.

“Pelayanan kesehatan secara moderen dan tradisional. Sayangnya, cuma 34.41% warga negara yang bisa mengakses layanan kesehatan secara moderen. Sementara, sisanya yang banyak masih menggunakan pengobatan tradisional,” papar Teguh.

Semakin ke wilayah Timur Indonesia pengguna layanan kesehatan tradisional semakin lebih tinggi.

“Agar manfaat BPJS Kesehatan lebih merata, idealnya layanan kesehatan tradisional masuk dalam program BPJS Kesehatan,” ujarnya.

Teguh mengungkapkan beban penyakit yang menjadi tanggungan BPJS Kesehatan lebih banyak dari penyakit tidak menular.

Dari hasil riset kesehatan sejak 2013 hingga 2018, hipertensi menjadi jenis penyakit tidak menular yang paling banyak dicover BPJS Kesehatan.

Pada 2013, pengguna BPJS Kesehatan karena hipertensi mencapai 25,8% dan pada 2018 sebesar 34,1%. Artinya ada kenaikan mencapai 8,3%. Kemudian dilanjutkan dengan penyakit diabetes melitius, ginjal kronis, stroke dan kanker.

Namun, secara beban biaya, ada 8 jenis penyakit tidak menular yang ditanggung BPJS Kesehatan.

Dari data BPJS Kesehatan, beban terbesar dari penyakit jantung. Selama 2018, BPJS Kesehatan menanggung pasien jantung dengan biaya mencapai 10.545.485.639.809,- .

Sementara hingga Maret di tahun 2019 beban penyakit jantung yang ditanggung BPJS mencapai 2.818.697.372.221,- atau mencapai 49,81%.

Kemudian dilanjutkan dengan penyakit gagal ginjal sebesar 11,72% di tahun 2018, 11,88% di Maret tahun 2019, kanker 16,67% tahun 2018 dan 17,83% hingga Maret 2019, stroke 12,56% di tahun 2018 dan 12,36% hingga Maret 2019, Thalassaemia 2,40% di tahun 2018 dan 2,63% hingga Maret 2019, Cirrosis hepatitis 1,64% tahun 2018 dan 1,64% hingga Maret 2019, leukimia 1,63% di tahun 2018 dan 1,93% hingga Maret 2019, Haemophilia 1,75% di tahun 2018 dan 1,93% hingga Maret 2019.

Prosentase tersebut dari total keseluruhan bebab biaya pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan sepanjang 2018 yang mencapai 94,297 triliun rupiah. Dan hingga Maret 1019 mencapai 25,511 triliun lebih.(WRC Jakarta)

Most Popular

To Top