Gaya Hidup

Dilemma Potensi Wisata Kesehatan Indonesia Demi Menambah Devisa Negara

Ayonews, Jakarta

Keindahan alam, keanekaragaman tradisi dan budaya membuat Indonesia menjadi salah satu tujuan wisata dunia yang paling banyak diminati.

Salah satu destinasi wisata yang mulai dilirik adalah wisata kesehatan atau health tourism.

Indonesia kaya akan rempah-rempah obat. Indonesia juga memiliki banyak jenis layanan kesehatan dan pengobatan tradisional.

Salah satu layanan kesehatan tradisional adalah ethno  wellness dan ethno spa yang berpotensi dalam pengembangan wisata kesehatan.

Pakar ethno spa Indonesia, Agnes Lourda Hutagalung memaparkan betapa potensinya tradisi spa Indonesia untuk menambah devisa negara dari sektor pariwisata.

Ethno wellness Indonesia sudah menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan mancanegara.

“Sudah 15 ethno wellness spa Indonesia yang terdaftar dalam Standar Kompetensi Kerja Naional Indonesia (SKKNI). Masih banyak lagi ethno wellness lainnya dari beragam budaya Indonesia untuk terus digali. Betapa kayanya negara ini bila pemerintah bisa mengembangkan potensi ethno wellness spa Indonesia,” papar Lourda di tengah-tengah Forum Group Discussion tentang BPJS dan Kesehatan Bangsa bersama Komunitas Anak Bangsa (KAB) di Jl Cikatomas, Jakarta Selatan, Kamis (19/9/2019).

Menurut Lourda, negara lain sudah banyak mengembangkan health tourism sebagai penambah devisa negara.

“Percaya nggak ada orang (wisatawan) yang datang ke Indonesia sengaja untuk akupuntur? Yang ada orang itu harus ke Beijing untuk pengobatan pakai perantara jarum. Karena memang tradisi akupuntur asalnya dari China,” kata Lourda.

Negeri Tirai Bambu tersebut, lanjut Lourda, sudah lama memanfaatkan tradisi-tradisi negeri mereka sebagai health tourism yang bisa menambah pundi-pundi negara.

” Bahkan, mahasiswa-mahasiswa kedokteran di China, mereka kuliah umum selama 4 tahun. Satu tahun selanjutnya mendalami ilmu pengobatan dan kesehatan asli leluhur mereka, salah satunya akupuntur,” terang pengusaha yang sudah menggeluti usaha spa selama puluhan tahun ini.

Setelah lulus kuliah, para dokter-dokter itu tetap ada yang berpraktik seperti dokter pada umumnya. Namun mereka tetap memelihara pengobatan tradisional mereka.

Bahkan pemerintah China menjadikan tradisi kesehatan luluhurnya sebagai health tourism.

“Indonesia ini kaya akan beragam budaya. Termasuk health tourism yang harus dikembangkan. Saya baru memperjuangkan 15 ethno wellness spa Indonesia agar dikenal dunia, pasahal masih banyak lagi yang bisa digali dan dikembangkan,” terangnya.

Di antara ethno wellness spa Indonesia yang sudah diperjuangkannya sebagai salah satu destinasi wisata di antaranya, spa Batak, Spa Padang, Sunda, Betawi, Jawa, Madura, Bali dan beberapa lainnya.

“Sampai hari ini kita masih meributkan soal anggaran kesehatan BPJS. Padahal, pengobatan tradisional kita pun malah lebih berpotensi memberikan devisa buat negara. Seandainya BPJS Kesehatan ikut mengcover ethno wellness sebagai bagian dari program mereka, tentu akan dirasakan secara merata oleh mereka yang berada jauh dari akses kesehatan yang dijamin BPJS,” tuturnya.

Lourda mengatakan, meski banyak potensi, untuk mengembangkan pengobatan tradisional sebagai health tourism, kenyataannya masih jauh api dari panggang.

“Bicara soal regulasi, masih belum ada jaminan. Banyak dokter kita bahasa Inggris saja tidak bisa. Padahal mereka ditugaskan di rumah sakit besar yang juga pasiennya para turis yang sedang berwisata,” jelasnya.

Lourda bercerita bagaimana seorang turis menolak resep yang diberikan seorang dokter rumah sakit besar di Yogyakarta lantaran dokter tersebut tidak bisa berbahasa Inggris.

“Padahal sudah pakai penerjemah. Tapi turis itu tidak mau menerima resep. Dia butuh penjelasan langsung dari si dokter yang tak bisa berbahasa Inggris. Ini dilemmanya,” ujarnya.

Lourda mencontohkan betapa ribetnya regulasi perkuliahan kedokteran di Indonesia. Padahal, banyak kampus kelas Internasional memiliki fakultas kedokteran tapi tak diizinkan untuk membuka jurusan dokter spesialis.

“Jangankan mau buka jurusan dokter spesialis, untuk membuka fakultas kedokteran saja harus tebang pilih. Tergantung orientasi politik kampus dengan pejabatnya. Dengan kondisi begini, kita masih jauh menjadikan health tourism sebagai nilai tambah ,” terangnya.

Seperti diketahui, wisata kesehatan di Indonesia mencakup dua aspek, yaitu aspek medical tourism dan aspek wellness tourism.

Medical Tourism adalah perjalanan wisata untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Sedangkan Wellness Tourism adalah perjalanan wisata untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan pendekatan holistik untuk pemeliharaan kesehatan dan bersifat promotif – preventif.

Salah satu bentuk wellness adalah perawatan Spa (sehat pakai air). Metode Spa Jawa dan Spa Bali sudah banyak dipakai di negara-negara Asia (Malaysia, Singapura, Jepang), Eropa (Turki, Rusia, Jerman, Belgia, Bulgaria, Ceko) dan Amerika (Amerika Serikat dan Kanada).

Bahkan salah satu majalah kecantikan dan kesehatan Jerman menganugrahkan The Best Destination in The World kepada Bali Spa pada tahun 2009. Sayangnya, kesuksesan ini belum didukung oleh basis ilmiah kesehatan di dalam negeri sehingga sulit untuk berkompetisi secara global.***

Most Popular

To Top