Ekonomi

Tiru Donk VOC… Indonesia Bisa Jadi Singa Ekonomi Dunia Asal Bisa Memproduksi Minyak Atsiri Sendiri

Ayonews, Jakarta
Tokoh spa Idonesia Agnes Lourda Mardohar sudah kenyang makan asam garam dalam menggeluti bisnis spa. Pahit getirnya sudah bosan ia nikmati. Membangun usaha spa tak semudah membalikan telapak tangan. Banyak tantangan dan rintangan. Modal materi tentu saja harus ada. Belum lagi proses dan waktu yang cukup lama untuk menjadikan usaha ini bisa berjalan, mental baja pun harus disiapkan.

Ketua Umum Wellness Health & Enterpreneur Association (Whea) ini terbilang sukses dalam menjalankan usahanya. Beberapa cabang usaha spa yang ia beri nama Gaya Spa sudah banyak berdiri di beberapa daerah. Hotel-hotel bintang lima skala nasional dan internasional sudah lama menjalin kerjasama dengan Gaya Spa. Produk spa dengan label Essentia Natural yang ia produksi pun sudah mendunia.

“Yang paling utama saat membuka usaha apa pun tentu saja harus memikirkan untung dan rugi,” kata dedengkot spa yang akrab di kalangan pengusaha spa disapa Lourda saat menjadi pembicara di acara seminar bertema “Creative Solutions for The Spa Business” di Gaya Spa di Jl Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan, Rabu (4/9/2019).

Meski sukses, Lourda tak pelit untuk berbagi tips dan ilmunya kepada semua orang. Menurutnya, ada tiga syarat menjadi sukses saat menjalankan sebuah usaha, termasuk bisnis spa yang hingga kini terus ia geluti. Ketiganya yakni; creative solution (solusi kreatif), mental dan network (jaringan).

Dengan gayanya yang ceplas ceplos, Lourda memaparkan persiapan apa saja ketika akan membuka usaha spa. Pertama, produk apa yang akan dipasarkan (minyak atsiri), kedua tempat usaha, ketiga membuat skema harga, keempat membangun manajemen marketing (offline atau online/digital marketing), kelima target pasarnya dan jaringan, keenam tenaga terapis, ketujuh financial projection.

Lourda terkenal tegas dan keras dalam menerapkan manajemen di perusahaannya. Usaha spa yang dibangunnya tidak asal-asalan. Untuk menjamin kualitas, Lourda pun memproduksi sendiri bisnis peralatan dan bahan-bahan spa, seperti minyak atsiri dan aromatherapynya.

“Dalam usaha spa harus ada leader atau manajer. Kalau manajer nggak bisa ngasih untung, good bye saja. Cari yang lain. Masih banyak orang yang bisa bekerja dan ngasih untung. Terapis pun harus yang bersertifikasi nasional. Tapi tergantung orangnya juga sih, kadang sudah bersertifikat tetap saja tidak bisa bekerja professional. Tapi bagaimanapun, sertifikasi sudah menjadi standar usaha spa standar nasional maupun internasional,” papar Lourda.

Namun, untuk saat ini Lourda mulai mengubah orientasi bisnisnya. Ia tidak lagi bicara ekonomi mikro. Tapi sedang berjuang untuk membangun ekonomi makro. Terutama pemberdayaan para petani rempah yang menjadi mitra bisnisnya selama ini.

“Saya mulai fokus 70% untuk di level ekonomi makro. Saya fokus bekerja secara lebih luas untuk mengawal masa bangsa Indonesia agar menjadi lebih maju,” tegas Lourda.

Demi mewujudkan tekadnya, Lourda membuat sebuah komunitas yang ia beri nama Komunitas Anak Bangsa (KAB). Selain terdiri dari relawan, pengusaha, birokrat, akademisi, politisi, komunitas ini punya salah satu program buat petani yang ia sebut sebagai Program Panen Raya.

Menurut Lourda, ada dua fokus kegiatan KAB dalam Panen Raya, yakni program panen petani minyak atsiri dan petani kopi. KAB punya tugas membuat kelompok-kelompok yang terdiri dari para stakeholder untuk dua program petani rempah bahan minyak atsiri dan petani kopi.

“Orang luar taunya produksi minyak atsiri itu dari Singapura dan Malaysia. Padahal, kebutuhan bahan baku atsiri dunia 85% nya berasal dari Indonesia. Yang jadi pertanyaan, emangnya di Singapura ada kebon jahe, ada kebon sereh? Semua bahan baku itu kan asalnya Indonesia. Sayangnya Indonesia belum punya system purifikasi untuk mengolah rempah-rempah menjadi bahan jadi,” paparnya.

Yang menyedihkan lagi, lanjut Lourda, jutaan hektar lahan di Indonesia yang seharusnya bisa menjadi garapan petani atsiri, justru dihabisi menjadi ladang kelapa sawit atau tambang batubara.

VOC, sebut Lourda, menjadi perusahaan terbesar di dunia karena berhasil menjarah kekayaan Indonesia berupa rempah-rempah. Bukan karena membawa tambang atau bahan bakar minyak ke negeri asalnya.

“Karena minyak kita pun sudah mau habis. Kalau para petani kita diberi lahan luas untuk menanam rempah-rempah, kemudian kita olah sendiri menjadi minyak atsiri, memproduksi menjadi bahan jadi, seperti parfum, tentu saja devisa negara ikut terdongkrak. Parfum-parfum berkelas dunia itu bahannya dari mana? Ya dari Indonesia. Kalau kita olah sendiri menjadi bahan jadi, Indonesia bukan cuma jadi Macan Ekonomi Asia, tapi jadi Singa Ekonomi Dunia karena kekayaan dan produksi rempah-rempahnya,” tandas Lourda.***

Most Popular

To Top