Gaya Hidup

Peluang Bagus Ethno Wellness Spa Indonesia Genjot Devisa dari Sektor Pariwisata

Ayonews, Jakarta
Sektor pariwisata bisa menjadi daya dongkrak paling efektif untuk menambah devisa negara. Pasalnya, pariwisata dinilai memiliki potensi terbesar kedua setelah ekspor kelapa sawit. Dari sektor ini, Indonesia tak hanya memiliki sumber daya manusia (SDM) yang banyak, sumber daya alam pun melimpah ruah.

Bila sektor pariwisata terus digenjot, tidak menutup kemungkinan menjadi pendongkrak devisa terbesar mengalahkan sektor lainnya. Banyak yang bisa diolah dari sektor pariwisata. Tak hanya keindahan alamnya, seni budayanya, tapi sumber daya alam sebagai penunjang pariwisata masih menjadi harta karun terpendam.

Salah satu yang masih sedikit dilirik dari sektor pariwisata adalah adalah pengembangan usaha spa. Padahal, spa sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Dari 34 provinsi, 15 ethno wellness spa Indonesia sudah ditetapkan Kemenakertrans dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) berdasarkan Kepmenakertrans RI No 46 Tahun 2017.

Usaha spa sangat berpeluang. Spa sudah menjadi kebutuhan masyarakat modern. Spa juga sudah menjadi gaya hidup masyarakat di kawasan bisnis dan perkotaan. Usaha ini sebenarnya sudah meluas dan ada di seluruh kota provinsi. Sayangnya, bidang ini masih terkesan eksklusif.

Pada umumnya orang mengenal spa sebagai produk luar negeri. Dan hanya beroperasi di hotel-hotel berbintang atau di tempat-tempat hiburan tertentu. Padahal, spa tradisional yang dimiliki Indonesia sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara. Dan perlahan mulai merambah di dunia luar.

Dari sisi ketenagakerjaan, industri spa menjadi solusi dalam menurunkan tingkat pengangguran. Sementara di sisi lain dapat memberikan lahan baru bagi petani-petani rempah untuk terus meluaskan lahan pertaniannya. Sebab, spa tak sekadar pekerjaan teknik dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Spa butuh aromaterapi, spa butuh minyak atsiri dan bahan-bahan ekstrak alami lainnya.

Sayangnya, kekayaan rempah di tanah air belum banyak yang bisa mengelola menjadi bahan jadi. Indonesia hanya menjadi eksportir sekaligus importir bahan jadi yang asalnya dari negeri sendiri. Parfum misalnya, sejatinya 90% bahan pewangi berupa minyak atsiri tersebut berasal dari tanah air.

“Ada budaya di dalam terapi spa. Bukan sekedar Swedish massage, Thai massage, Siatsu, yang saat ini orang kenal. Dari jaman dulu kita sudah punya sendiri tradisi ini. Spa tradisional ini yang perlu kita kembangkan agar dikenal dunia luar,” papar Ketua Indonesia Spa Professional Association (Indspa), Dra Yulia Himawati di acara seminar bertema “Creative Solutions for The Spa Business” di Gaya Spa Jl Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan, Rabu (4/9/2019).

Seminar yang diselenggarakan Gaya Spa tak hanya diikuti para pelaku usaha spa, tapi juga para manajer, terapis dan mereka yang baru berminat untuk menggeluti usaha spa.

Selain Dra Yulia Himawati, seminar tersebut menghadirkan dedengkot spa Indonesia yang juga Ketua Umum Wellness Health & Enterpreneur Association (Whea) Dra Agnes Lourda Mardohar, Director Essentia Spa Academy Julia Kawilarang, Anggota Indonesia Wellness Master Association (IWMA) Dr Ir. Retno Sri Endah.

Ketua Indspa Yulia Himawati menyebutkan beberapa terapi spa tradisional yang sudah masuk dalam SKKNI. Di antaranya ethno spa Batak, Minang, Betawi, Sunda, Peranakan Semarang, Jawa, Madura, Bali, Timor.

“Masing-masing daerah punya ciri khas. Batak misalnya, ada dua jenis terapi spa, yakni Kusuk Batak Massage dan Oukup Batak. Di budaya Minang ada Uruik Badan Minang, Lulur Randang Minang, Batangeh Minang. Namun dari semuanya, Ethno spa Batak ini agak berbeda. Terapi massage Batak memulai dari kepala. Sementara ethno spa lainnya memulai dari kaki,” jelasnya.

Ada juga spa tradisional Betawi yang terdiri dari Pulet Legit Betawi, Berendam, Tangas Betawi. Di budaya Sunda juga dikenal dengan sebutan Peseul Sunda. Sedangkan Peranakan Semarang merupakan campuran spa tradisi China dan Spa Jawa.

Ethno wellness Spa Jawa tersendiri terdiri dari pijat Jawa, lulur dan Ratus. Madura dikenal dengan Micet Madura dan So’oso Madura. Untuk Bali ada tradisi Banyu Pinaruh dan Boreh Body Masker. Sedangakan spa tradisi Timor ada Laseng Timor.

Teknik spa tradisional Indonesia sangat luar biasa. Sudah saatnya ethno spa Indonesia menjadi bagian dari industri pariwisata demi mendongkrak devisa negara.

“Tanggungjawab siapa untuk mengenalkan spa tradisi kita ke dunia? Tentu saja menjadi tanggungjawab kita semua sebagai pelaku usaha. Agar menjadi daya tarik dunia, spa tradisional Indonesia harus memiliki keunggulan,” ujarnya.

Menurutnya, harus ada sesuatu yang khas dan tak terlupakan bagi wisatawan mancanegara ketika mencoba spa tradisional Indonesia.

“Mereka bisa bercerita sama keluarga dan teman-temannya ternyata spa tradisi Indonesia berbeda dengan yang mereka kenal selama ini. Bahkan lebih menarik dan unik dari spa lainnya,” urai Yulia.

Untuk menjadikan spa tradisional Indonesia dikenal dunia tidak mudah. Karena usaha spa tidak bisa asal-asalan.

“Sudah saatnya Indonesia menjadi tuan rumah dalam industri spa. Di Youtube memang sudah banyak dikenalkan teknik spa tradisional. Tapi apa orang langsung begitu saja bisa massage, bisa memberikan aromatherapi yang pas, setelah memilih herbalnya, belajar dari Youtube? Pasti akan berbeda saat praktik. Karena teknik spa harus betul-betul dipelajari secara manual,” terangnya.
Director Essentia Spa Academy Julia Kawilarang mengatakan, spa sudah menjadi bagian dari dunia usaha yang dikemas secara moderen dan profesional serta diakui negara.

“Mengelola usaha spa tidak bisa asal-asalan. Hanya karena sudah senior, sudah pengalaman sebagai manajer di hotel-hotel besar, lantas bisa mengelola sebuah spa tanpa memiliki pengetahuan mengenai spa dan seluk beluknya,” ujar Julia.

Dunia usaha spa tak hanya dikelola mengikuti perkembangan zaman. Tapi juga harus mengikuti aturan dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ( SKKNI) yang sudah ditetapkan Kemenakertrans.

“Di antaranya, manajer spa harus mengikuti training atau pelatihan yang diselenggarakan lembaga kredibel dan pengalaman dalam dunia spa. Setelah mendapat sertifikasi training, kemudian harus melalui tahap uji kompetensi yang diselenggarakan negara melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Tirta Nirwana Indonesia,” terang Julia.

Setelah mengikuti uji kompetensi, baru mendapatkan sertifikasi dari lembaga negara dan itu pun hanya berlaku selama 3 tahun.

“Setelah 3 tahun berakhir, harus memperbaharui sertifkasi dengan kembali mengikuti uji kompetensi lembaga profesi negara,” paparnya.***

Most Popular

To Top