Ekonomi

Ini Harta Karun! Cuma 0,04% dari 500 Ribu Jenis Rempah Indonesia yang Bisa Diolah jadi Minyak Atsiri

Ayonews, Jakarta
Spa tak hanya menjadi salah satu hasil kekayaan budaya tanah air. Ada harta karun lainnya yang masih terpendam, yakni minyak atsiri. Tercatat dalam sebuah penelitian, ada 750 ribu jenis tanaman yang bisa menghasilkan minyak atsiri. 500 ribu jenis hanya ada di Indonesia. Sayangnya, baru 250 jenis tanaman yang bisa dimanfaatkan menjadi bahan baku minyak atsiri.

“Masyarakat Indonesia ini dimanjakan Allah. Bayangkan, dari 500 ribu jenis tanaman yang sudah diteliti, baru 250 yang sudah dikembangkan dan dimanfaatkan menjadi minyak atsiri. Artinya, baru 0,04%. Jadi masih banyak sekali. Minyak atsiri adalah harta karun bangsa ini,” kata Anggota Indonesia Wellness Master Association (IWMA) Dr Ir. Retno Sri Endah di Jakarta, Jumat (6/9/2019).

Retno mengajak semua kalangan yang peduli akan kekayaan alam Indonesia untuk ikut membantu mengungkap harta karun lainnya yang masih banyak terpendam di Indonesia.
“Prospeknya masih sangat besar. Misalkan, bahan atsiri sereh wangi, sekilonya cuma 300 rupiah. Dari satu kwintal, bila disuling menjadi bahan minyak atsiri hasilnya 4 kilogram. Harganya bisa mencapai 60 dolar. Kalau dijernihkan lagi harganya naik menjadi 90 dolar,” papar Retno.

Kalau memang ada kemauan dari masyarakat petani rempah, lanjut Retno, sebenarnya tanaman bibit minyak atsiri ini bisa disuling secara manual. Sayangnya, sampai hari ini belum ada penyuluhan secara besar-besaran dari intansi terkait untuk mengembangkan hasil kekayaan alam ini.

“Menyuling satu kwintal sereh wangi secara manual misalnya, bisa dilakukan seharian penuh. Bisa dikerjakan di rumah. Diproduksi secara massal pabrikan lebih bagus. Sayangnya mesin penyuling masih terbilang mahal. Masih sedikit investor dalam negeri yang minat dari sektor ini. Padahal produksi minyak atsiri sangat prospektif sekali. Kita hanya bisa mengekspor bahan mentahnya, pabrikan luar yang mengolah menjadi bahan jadi,” terang Retno.

Dari minyak atsiri Indonesia sejatinya memiliki peluang menguasai ekonomi dunia. Atsiri tidak sekadar menjadi bahan produk spa semata, tapi bisa menjadi bahan pembuat parfum, minyak gosok, obat-obatan dan lainnya.

“Tanaman jenis Nilam misalnya, hanya bisa hidup di indonesia. Beberapa negara besar berusaha mencoba mensintentiskan Nilam. Jepang, Amerika, negara-negara Eropa dan negara-besar penghasil produk parfum merek terkenal di dunia berusaha mengembangbiakkan Nilam. Nilam ini pencipta bau dan rasa. Ternyata mereka nggak bisa. Tanaman jenis ini hanya cocok dan tumbuh di tanah air. Kalau kita nggak ekspor Nilam, pabrik parfum kelas dunia pada tutup semua,” paparnya.

Ratusan ribu harta karun berupa jenis tanaman penghasil atsiri yang belum digarap dan dijadikan bahan minyak atsiri itulah, lanjut Retno, menjadi tugas lembaga IWMA.

“IWMA kerjaannya di belakang layar. Anggotanya terdiri dari para peneliti. Kalau tidak ada research ratusan ribu jenis tanaman atsiri itu tidak akan berpotensi sebagai penghasil devisa negara. IWMA juga bertugas menerawang prospek berbagai jenis tanaman atsiri ke depannya. Mana yang paling laku, mana bahan baku yang paling cepat dan murah untuk diolah, tapi harganya bagus,” papar Retno.

Tak hanya sampai di situ, IWMA juga bertugas mencari pasar yang mau menerima jenis tanaman yang baru diteliti dan diolah menjadi bahan baku minyak atsiri. Karena itu, IWMA bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Diknas dan Kemendag.
“Semua intansi terkait kita jalin kerjasamanya. Apa yang menjadi hasil penelitian dan pengembangan prospek bahan baku minyak atsiri tersebut harus melibatkan intansi-intansi tersebut. Karena jangan sampai hasil yang kita dapat sia-sia. Misalnya kita berhasil meneliti dan membuat prospek salah satu jenis tanaman, nanti yang menanggung produksinya siapa, pasarnya di mana, tentu harus melibatkan banyak intansi dan stake holder,” jelasnya.

Bicara soal ethno spa atau spa budaya, menurut Retno, sama seperti membahas tanaman atsiri. Masih banyak ethno spa yang belum digali dari beragam budaya Indonesia. Karena ethno werness pada dasarnya harus memperhatikan suku bangsa. Ethno spa juga harus mengikuti bahasa, norma dan etika budaya asli dan potensinya.

“Kita baru memiliki 15 Ethno Wellness Spa Indonesia yang sudah ditetapkan Kemenakertrans dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) berdasarkan Kepmenakertrans RI No 46 Tahun 2017. Padahal masih banyak Ethno Wellness Spa lainnya dari berabagai budaya Indonesia yang bisa dikembangkan. Ini bukan pekerjaan ringan. Perlu semangat yang tinggi untuk terus menggali beragam budaya dari 34 provinsi di tanah air,” tutupnya.***

Most Popular

To Top