Hukum

Polisi Tangkap Dua Kelompok Mafia Tanah Modus Pemalsu Surat Surat

Jakarta-Polda Metro Jaya menangkap tujuh orang tersangka yang tergabung dalam dua sindikat penipu jual beli rumah dan tanah di Jakarta. Para pelaku berhasil mendapatkan puluhan miliar rupiah dari perbuatan yang dilakukan.

Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono mengatakan, pelaku yang ditangkap berinisial K, RK, A, SD, HM, MGR dan S. Korban pertama yakni pemilik tanah seluas 694 meter persegi yang berada di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Sementara korban kedua pemilik rumah di Jalan Iskandarsyah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Sindikat ini dipimpin oleh SD dengan modus ketika ada orang menawarkan tanah atau rumah, mereka akan datang untuk negosiasi membeli dengan meminta sertifikat asli milik korban,” ungkap Gatot dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (22/8/2019).

Gatot menjelaskan, transaksi jual beli tanah di Pancoran dilakukan oleh lima tersangka yakni, tersangka RK, K, A, SD, HM. Mereka sepakat untuk membeli tanah milik korban seharga Rp 24 miliar pada 9 Agustus lalu. Kemudian, mereka meminta sertifikat tanah korban buat dicek keasliannya ke Badan Pertahanan Nasional (BPN).

“Pelaku menawar tanah yang hendak dijual oleh pemilik kemudian membujuk pemilik untuk melakukan pengecekan ke BPN. Kemudian pelaku menukarkan SHM asli milik korban dengan SHM palsu yang sudah dipersiapkan oleh kelompok pelaku,” tuturnya.

Selanjutnya, para tersangka menyerahkan sertifikat tanah palsu kepada korban. Sementara itu, sertifikat aslinya diagungkan ke bank.

Modus yang sama juga dilakukan kelompok kedua sindikat tersebut yang terdiri dari tersangka SD, S, MGR, HM, dan K saat membeli sebuah rumah seharga Rp 64,5 miliar di kawasan Jakarta Selatan pada Oktober 2018.

“Tersangka menawar rumah yang hendak dijual oleh pemilik kemudian membujuk pemilik untuk menitipkan sertifikat asli beserta dengan identitas pemilik di notaris fiktif dengan alasan untuk dilakukan pengecekan ke BPN,” jelas Gatot.

Sementara itu, Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Suyudi Ario Seto mengatakan pihaknya menerima laporan dari korban pemilik tanah dan rumah yang ditipu oleh sindikat ini.

Kedua korban ini merasa percaya dengan sindikat ini karena sindikat ini memberikan uang muka ratusan juta ke korban sebelum akhirnya para tersangka berhasil menukar sertifikat asli milik korban dengan sertifikat palsu yang sudah mereka buat.

“Modus operandi mereka ini dengan cara menawar tanah atau rumah yang hendak dijuak oleh korban. Kemudian mereka membujuk korban melakukan pengecekan surat-surat ke BPN namun para tersangka berhasil menukar surat-surat asli korban dengan surat palsu yang sudah disiapkan,” jelas Suyudi.

“Selanjutnya, surat-surat itu dibalik nama oleh tersangka dan diagunkan di founder,” sambungnya.

Para tersangka membagi uang hasil kejahatannya dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Otak dari sindikat ini, SD, diketahui residivis kasus penipuan batu bara dan pernah divonis penjara 9 tahun.

“SD ini dia pemimpinnya, dia residivis pernah ditangkap kasus penipuan batu bara,” kata Suyudi.

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya SHM tanah dan rumah asli milik korban, SHM palsu, dan buku tabungan dari tujuh rekening. Tersangka akan dijerat dengan Pasal 362 KUHP dan atau Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 266 KUHP. Ancaman hukumannya lebih dari lima tahun penjara.

Most Popular

To Top