Nasional

Ojol NKRI dan Kelompok Aswaja NU Dukung Habib Salim bin Jindan jadi Penasehat Presiden dalam Menangkal Kelompok Islam Radikal

Ayonews, Jakarta
Untuk memperkuat jalannya pemerintahan dan mencegah merebaknya kelompok radikalisme Islam, Presiden Jokowi harus mengambil Watimpres atau Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), syukur-syukur jadi Menteri agama dari kalangan ulama dan habaib merah putih. Karena yang mengetahui akar persoalan Islam radikalisme itu hanya kalangan habaib dan ulama berjiwa NKRI.
“Wantimpres atau KSP juga harus bersinergi dengan institusi lain, seperti kepolisian, TNI, Polri, Kementerian agama, Kemenkominfo, dll dalam menanggulangi ancaman radikalisme dan terorisme,” ujar Ketua Presidium Garda Indonesia Igun Wicaksono di Jakarta, Sabtu (17/8/2019).

Igun sepakat bila penasehat presiden yang bertugas di Wantimpres atau KSP nanti dalam penanggulangan aksi terorisme dan paham radikalisme dari kalangan habaib dan ulama berjiwa Pancasila.

Sebagai aktivis yang berkecimpung dalam transportasi online, Igun menegaskan, pihaknya menjadi bagian dari ojek online (Ojol) berjiwa NKRI.

“Yang dekat sama kami dan selalu menyuarakan anti radikalisme hanya Habib Salim bin Jindan. Bahkan beliau kami angkat sebagai penasehat. Ojol NKRI Bersama Habib Salim selalu berjuang bersama mengkampanyekan Capres/Cawapres 01 agar menang pada pilpres 2019. Dan itu sudah terbukti,” ujar Igun.

Igun menegaskan, Ojol NKRI memandang sosok Habib Salim cocok untuk mendampingi Presiden Jokowi dalam menangkal Islam Radikalis.

“Kami siap mendukung apabila HBSJ dicalonkan jadi Wantimpres/KSP. Kami meminta kepada Presiden Jokowi agar dapat menggandeng Habib Salim bin Jindan menjadi bagian dari tim kerja nyata beliau dalam Kabinet Indonesia Kerja jilid 2 maupun sebagai Wantimpres/KSP,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Aswaja Center PBNU, Kiai H. Misbahul Munir pun sepakat bila Habib Salim bin Jindan atau Habib Salim Salahuddin Jindan bisa mendampingi Presiden Jokowi sebagai Kepala Kantor Staff Kepresidenan atau Wantimpres.

“Saya tahu bagaimana kami dan Habib Salim bin Jindan berjuang bersama-sama di Harjo (Habib Relasi Jokowi) untuk memenangkan Jokowi di Pilpres 2019. Kami sampai berdarah-darah, mendapat teror, intimidasi, dikucilkan, dikafir-kafirkan, dicap murtad, dan lain-lain. Namun kami tetap bersiteguh dalam perjuangan sebagai Habib dan Kiai berjiwa NKRI menghadapi kelompok-kelompok radikal yang ingin menumbangkan Presiden Jokowi di Pilpres lalu,” papar Kiai Misbahul Munir.

Menurut Misbahul, yang punya kapasitas dalam menyuarakan masalah ini nggak mungkin dari politisi. Harus dari kalangan habaib dan ulama.

“Menteri agama fungsinya apa selama ini. Semua saling bersinergi. Kita bicara begini karena paketnya Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf. Yang khusus menangani ideologi yang dialamatkan pada Islam, tentu saja dari kalangan habaib itu yang ngerti. Sehingga habib ini posisi seperti ini tinggal bagaimana sekarang menyampaikan pesan keagamaan. Harus ada symbolnya. Yang lain-lain soal penasehat militer, hukum, cari yang lain. Tapi soal keagamaan symbol ulama dan habaib ini penting,” paparnya.

Dikatakan Kiai Misbahul, nggak mungkin polisi atau tantara mendeteksi apa radikalisme. Yang bisa melihat titik salah dan benarnya itu hanya habaib atau ulama yang bisa mengeksekusi.

“Orang tahu bahayanya kelompok radikalisme, kalau tantara dan polisi terlalu jauh tidak mengerti persoalan nanti dianggap Islam Phobia. Selama ini kan kita membentengi diri dari serangan kelompok radikalis. Karena itu butuh posisi. Selama ini hanya menganjurkan. Kita nggak pernah seperti di Malaysia di mana keberadaan HTI memang benar-benar dilarang. Kita berharap Kiai Ma’ruf tidak jalan sendirian. Habib yang lain memang banyak juga yang berperan, namun yang tampak, muda dan enerjik hanya Habib Salim bin Jindan,” tutup Kiai Misbahul Munir.(WRC Jakarta)

Most Popular

To Top