Nasional

Ingat! Ciri-ciri Radikalisme itu Bukan Karena Pakai Celana Cingkrang, Jidat Item, Jenggot Awut-awutan

Ayonews, Jakarta
Mencegah masuknya paham radikalisme Islam bukanlah mudah. Paham ini sudah seperti virus. Siapa saja bisa terpapar paham yang bisa merusak ideologi Pancasila. Polisi dan TNI memang menjadi alat untuk menangkal, tidak menjamin bisa melenyapkan ideologi radikalisme. Sebab, ketika aparat bertindak terlalu jauh akan menjadi dilemma, pemerintahan ini ini bisa dituding Islam Phobia.

“Yang jadi pertanyaan, seberapa besar bahaya radikalisme di Indonesia? Selama ini kita mendengar, dari informasi intelijen. Mereka yang sudah terpapar paham radikalisme mencapai 3%. Itu sama dengan 12 ribu tantara bersenjata lengkap. Anda bayangkan kalau mereka itu melakukan tindakan-tindakan di luar kordinasi,” ungkap Direktur Aswaja Center, Kiai Misbahul Munir di Jakarta, Sabtu (17/8/2019).

Dalam pengamatan Kiai Misbahul Munir, saat ini banyak orang yang salah kaprah dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits.

“Baru belajar sedikit tentang Qur’an Hadits, mereka sudah merasa menjadi Islam yang paling benar. Pemilik kapling surge. Lalu mengkafir-kafirkan orang yang tak sepaham. Bahkan, kelompok-kelompok ini sudah menyusup dalam kerumunan umat Islam, menyelinap di majelis-majelis. Secara terbuka atau diam-diam mereka menyebarkan virus radikalisme. Bahkan mereka yang sudah ditangkap dan dipenjara juga malah merembet pada daging yang masih waras,” ungkap Kiai Misbahul.

Kiai Misbahul dan Habib Salim bin Jindan yang tergabung dalam Habib Relasi Jokowi (Harjo) termasuk vokal di lapangan menyuarakan Islam rahmatan lil alamin, Islam moderat sebagai benteng dari serangan Islam radikal.

“Sayangnya, begitu di lapangan, kelompok mereka bebas, bertelur beranak pinak di negeri ini. Bahkan ada yang duduk di pemerintahan,” ujarnya.

Menurut Kiai Misbahul, ciri-ciri radikalisme itu bukan karena pakai celana cingkrang, jidat item, jenggot awut-awutan.

“Ukurannya yang tahu itu ulama dan habaib. Ukurannya ada. Misalnya tauhid rubbubiyah, asmaul sifat, yang mengerti itu ulama bukan polisi atau TNI. Ukurannya ada. Jadi, kalua Presiden Jokowi salah pilih orang, yang tadinya mau meredam malah terkapar,” terangnya.

“Islam yang mana yang berbahaya? Misalnya Islam wahabi. Islam wahabi itu apa? Wahabi itu nggak mau tahlilan, bukan sekadar itu. Utuhnya seperti apa? Ya ulama dan habaib yang tahu itu. Bukan polisi atau tantara atau politisi,” katanya.(WRC Jakarta)

Most Popular

To Top