Nasional

Hanya Kelompok Habaib & Kiai Berpaham Islam Nusantara yang Mampu Cegah Virus & Ancaman Radikalisme

Ayonews, Jakarta
Presiden Joko Widodo kembali terpilih untuk memimpin Indonesia setelah memenangi konstestasi Pilpres 2019. Tantangan Jokowi semakin berat ke depan. Bukan cuma persoalan ekonomi dan politik. Tapi juga gejolak sosial, ancaman disintegrasi bangsa, ancaman terhadap ideologi Pancasila yang belakangan ini semakin sengit digencarkan kelompok radikalis.

“Kemenangan Jokowi di Pilpres 2019 lalu itu bukan hasil perjuangan keras partai politik atau TKN (Tim Kampanye Nasional). Mereka hanya menyumbangkan sebagian kecil suara saja. Bahkan berbagai organisasi kemasyarakaytan pun, nyatanya tidak banyak yang berbuat atau turun saat Jokowi berkampanye. Kemenangan ini hasil kerja keras para relawan, pendukung dan simpatisannya di lapisan bawah,” ungkap Sekretaris MUI DKI Jakarta, sekaligus salah satu pengurus pusat PBNU Kiai H Misbahul Munir di Jakarta Kamis (15/8/2019).

Bahkan, Kiai Misbahul terang-terangan bahwa hanya sedikit saja ulama atau kiai dari NU yang mau turun berkampanye mendukung Jokowi.

“Bahkan dari kalangan NU sendiri tidak solid untuk memenangkan Pak Jokowi. Lihat saja saat kampanye lalu, siapa kiai atau ulama NU yang mau turun berkampanye untuk mensosialisasikan Pak Jokowi, bisa dihitung dengan jari,” kata Kiai Misbahul.

Namun demikian, ada beberapa tokoh NU sekaligus Habib yang mau berdarah-darah, bahkan menjadi korban bully, hinaan, caci maki dari sesama muslim lainnya turun ke lapangan demi memenangkan Pak Jokowi.

“Terus terang saja, kelompok Islam radikal ini memanfaatkan momentum Pilpres untuk merebut kekuasaan setelah aksi terorisme dan makar. Dan alhamdulilah, berkat kekuatan ideologi Pancasila dan UUD 45 ancaman itu gagal, “ jelasnya.

Misbah buka-bukaan soal kelompok habib dan ulama yang memang terang-terangan mendukung Jokowi dalam persaingan Pilpres lalu.

“Kami yang tergabung dalam Habib Relasi Jokowi (Harjo) terang-terangan mendukung Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin. Bahkan kami sampai berdarah-darah, banyak dari para habaib, ulama dan kiai yang terbuka menyatakan dukungannya kepada Jokowi harus menerima konsekwensi dimusuhi, dikucilkan, diteror, rumahnya dilempari batu oleh kelompok Islam radikal yang mendompleng lawan Pak Jokowi,” terang Direktur Aswaja Center PBNU ini.

Sekarang ini, sambung Kiai Misbahul, Indonesia sedang menghadapi ancaman radikalisme. Karena itu perlu ada tokoh dan pemimpin yang mampu mencegah semakin mewabahnya virus yang membuat bangsa ini bisa terpecah belah, bahkan pertumpahan akibat perang saudara, seperti di Suriah atau Irak.

“Para Kiai dan Habaib yang cinta NKRI adalah Islam ahlussunah wal jamaah. Islam Nusantara yang sudah ada sejak dulu. Yang mampu mencegah radikalisme sampai akar-akarnya dari kelompok habaib dan kiai yang memang sudah paham akan Islam rahmatan lil alamin,” jelasnya.

Menurut Kiai Misbahul Munir, Jokowi ke depannya harus selektif dalam memilih pembantu-pembantunya di kabinet, Watimpres atau Kepala Staf Presiden. Karena mereka lah yang menjadi penentu pembangunan dan keberlangsungan pemerintahan lima tahun ke depan.

“Tentu saja Pak Jokowi harus memilih menteri dan pembantunya dari mereka yang memang kredibel, ahli dan terbukti mampu. Jangan Cuma karena tekanan dari partai politik atau kelompok kepentingan. Jangan dengarkan mereka yang memaksakan kehendak. Termasuk soal cara penanganan ancaman radikalisme Islam harus orang yang benar-benar ahli dalam penanganannya,” tambahnya.
Misbahul menyebut yang pantas untuk menjadi Watimpres atau KSP yang menangani dan mampu mencegah virus radikalisme Islam adalah dari kelompok habaib dan kiai yang memang Islam ke Nusantaraannya tidak diragukan lagi.

“Saya kira Pak Jokowi tahulah mana Kiai dan para Habaib yang gencar menyuarakan ancaman radikalisme. Banyak habiab dan kiai yang juga mendukung Jokowi tanpa pamrih. Karena mereka tahu bahwa Jokowi adalah presiden yang menjunjung tinggi pluralisme, Islam NKRI nya pun tak diragukan lagi,” tandasnya.(WRC Jakarta)

Most Popular

To Top