Politik

Bukan Macan Ompong, Bukan Kucing Garong, Kapitra Ampera Layak Jabat Jaksa Agung

Ayonews, Jakarta
Kelompok Habaib dan Ulama pimpinan Habib Salim bin Djindan menyodorkan nama Kapitra Ampera sebagai Jaksa Agung RI mendatang menggantikan Jaksa Agung Prasetyo kepada Presiden Jokowi dan Wakil Presiden terpilih Kiai H. Ma’ruf Amin. Pernyataan habib keturunan seorang Muhaddits ini bukan sekadar asal sebut.

“Munculnya nama Kapitra Ampera karena kita sebagai warga negara punya hak untuk memilih dan mendorong seseorang untuk lebih banyak berbuat demi bangsa dan negara. Karena Kapitra sudah banyak melalang buana dalam bidang hukum,” kata Habib Salim bin Djindan di Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Habib Salim menilai, selama ini, pengacara yang banyak menangani persoalan hukum yang menjerat para artis Indonesia, seperti kasus Diego Michiels, Tamara Bleszynski, Kristina, dan lain-lain itu dinilai sudah banyak berkiprah untuk NKRI. Termasuk berbuat banyak dalam memenangkan pasangan Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin dalam perhelatan Pilpres 2019 ini.

“Wajar kami dari para ulama dan habaib mengajukan Kapitra sebagai Jaksa Agung. Karena Kapitra bukan kucing garong, bukan macan ompong, tapi macan yang siap menerkam dalam penegakan hukum di Indonesia,” ujarnya.

Soal sanggup atau tidaknya, menurut Habib Salim, sampai saat ini ia dan Kapitra memang baru sekadar komunikasi.

“Karena adanya dorongan kuat dari para kiai dan habaib, Insya Allah beliau sami’na wa atho’na, dia akan mendengar dan melaksanakan,” tegasnya.

Secara kreadibilitas, sambung Habib Salim, kemampuan Kapitra dalam penegakan hukum tidak diragukan lagi.

“Beliau sudah menyandang gelar sarjana S3, Doktor di bidang hukum. Untuk mendapatkan gelar doktor dalam bidang hukum itu sulit sekali,” ujarnya.
Habib Salim tak mengelak adanya tawar-menawar posisi dalam proses penunjukan anggota kabinet pemerintahan dari partai-partai pendukung. Menurutnya, sah-sah saja partai politik mengusung calon lain.

“Mungkin mereka punya jatah, punya kontrak politik. Tapi sebagai warga negara, kami juga punya hak untuk mengusung siapa saja. Partai adalah pendukung dalam Pilpres atau Pilkada. Tapi ingat, tanpa suara dan dukungan rakyat yang memilih, mereka tidak akan bisa duduk sebagai jaksa atau menteri dari partai mana pun,” jelasnya.

Termasuk kemenangan Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin, Habib Salim menegaskan bahwa kemenangan itu adalah suara rakyat.

“Karena itu, kami meminta Pak Presiden Jokowi, sebelum menunjuk pembantu-pembantunya untuk shalat istikhoroh, tidak bimbang dan ragu,” paparnya.
Secara pribadi dan ulama lainnya, lanjut Habib Salim, dukungan ini muncul dari hati nurani.

“Insya Allah Pak Jokowi mendengar dan Pak Kapitra bisa menjaga amanat hukum untuk kepentingan rakyat. Bila kemudian amanah itu diberikan kepada Kapitra, beliau harus berpegang pada prinsip Qulilhaqqo walau kaa na murron, katakan yang benar walau kenyataan itu pahit,” tambahnya.

Habib juga berpesan kepada Kapitra, jika memang terpilih, tidak hanya membenahi sistem kejaksaan saat ini, tapi juga harus berani mencabut permasalahan sampai akar-akarnya.

“Pertama, kalau ada jaksa yang tidak mendukung 4 pilar kebangsaan harus sgera dipecat, jika menyalahi jabatan, pecat. Tidak lagi pakai SP 1, SP 2, SP3, langsung pecat. Masih banyak orang yang mau bekerja dan mengabdi pada negara ini. Saya yakin, Bang Kapitra idealis dan tidak pandang bulu dalam penegakan hukum. Beliau banyak membantu orang yang terdzolimi secara hukum. Membantu mereka yang tidak mengerti hukum, memberikan pendidikan secara hukum,” tandasnya.( Riyan Daryanto/WRC Jaktim)

Most Popular

To Top