Ibukota

Viral Obrolan di Medsos di Diskotek Top 10 Jakarta Barat Diduga Jual Narkoba

Jakarta – Sebuah grup Facebook yang bernama ‘Top 10 Fans Club (TFC)’ sebutan salah satu penggemar Diskotek Top 10 yang berada di Jalan Kebon Jeruk Taman Sari Jakarta Barat banyak perbincangan soal Narkoba.

Diduga anggota grup tersebut adalah pelanggan Diskotek yang usai berkunjung dan menceritakan serta curhat soal Diskotek.

Di medsos yang beranggotakan ribuan orang tersebut para mamber terlihat tidak canggung berbicara tentang dunia malam. Bahkan mereka juga berbicara tentang ‘Vitamin’ dan kenceng (sebutan untuk orang yang masih dalam pengaruh obat obatan).

Namun sejak Sabtu siang (29/6/2019) tiba tiba obrolan tentang narkoba di grup tersebut langsung dihapus dan admin langsung membuat peraturan baru yang intinya dilarang membicarakan hal hal yang terkait dengan Narkoba.

Padahal berdasarkan pantauan tim media, beberapa hari yang lalu grup tersebut masih terbuka dan banyak obrolan yang berkaitan dengan narkoba.

Hingga saat ini tim media masih mencoba mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut kepada pihak Management Diskotek Top 10 dan pihak kepolisian. Namun hingga berita ini tayang masih belum ada tanggapan. Apabila ada tanggapan maka akan ditayangkan diberita selanjutnya.

Sementara itu, Ketua Forum Ormas Anti Narkoba, Jefri Tambayong menilai saat ini peredaran narkoba di tempat hiburan malam masih masif dan menyasar para kaum muda yang juga diketahui sebagai generasi penerus bangsa.

Oleh karena itu, dirinya meminta agar aparat penegak hukum baik itu BNN dan Polisi harus memberikan sanksi tegas kepada pengusaha hiburan malam yang diduga menyediakan narkoba dan membiarkan pengunjung masuk membawa narkotika.

“Harus disikat habis diberikan sanksi tegas. Karena yang jadi korban ini banyak kaum muda, ini generasi penerus bangsa malah diracuni dengan narkoba,” tutur Jefri ketika dihubungi wartawan Sabtu (29/6/2019).

Jefri menilai, maraknya narkoba di tempat hiburan malam diduga karena lemahnya pengawasan baik itu dari Polri ataupun dari BNN serta pihak manajemen tempat hiburan malam. Akibat dari itu ada oknum tempat hiburan malam yang diduga justru menyediakan narkoba.

“Harus ada jadwal rutin pemeriksaan urine untuk pengunjung atau razia ke tempat hiburan malam,” katanya.

Selain itu, lanjut Jefri, Polisi dan BNN juga terkadang salah dalam memberikan sanksi kepada warga yang tertangkap. Karena kadang aparat justru memenjarakan pengguna narkoba yang seharusnya direhab. Sedangkan bandar narkoba yang seharusnya ditahan justru direhabilitasi.

“Tahanan di Jakarta ini untuk kasus narkoba sudah penuh atau over kapasitas,” katanya.

Most Popular

To Top