Politik

Propaganda Fasis & Komunis Ala Rocky Gerung Bagian Demokrasi Bandit Ala Prabowo 

Inas Nasrullah Zubir, Anggota TKN.

Ayonews, Jakarta
Secara terang-terangan dalam acara ILC pada hari Sabtu (26/3/2019)
pengamat politik Rocky Gerung dengan mengatakan bahwa ILC adalah tempat untuk ngibul. Lucunha, pernyataan Rocky ini diamini oleh Karni Ilyas.

“Nggak salah nih! Omong kosong jika survey Indikator mengatakan bahwa TV One adalah stasiun televisi paling dipercaya. Ini juga ternyata ngibul! Buktinya ada nara sumber yang sengaja diundang di TV One hanya untuk ngibul demi meraup pundi-pundi iklan semata,” kata salah satu anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Inas Nasrullah Zubir di Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Menurut Inas, argumen-argumen Rocky dalam ILC pada Selasa lalu tidak ada yang baru dan masih berkutat melulu tentang Jokowi.

“Pernyataan-pernyataannya semakin nampak bahwa dia terjebak dan tenggelam dalam obsesinya kepada Jokowi. Tapi justru pernyataan Rocky Gerung yang seperti itulah yang diinginkan oleh ILC demi memikat pemirsa-nya dan menjadikan Rocky Gerung sebagai ikon ILC dan Karni Ilyas menikmati-nya,” papar Inas.

Parahnya lagi, lanjut Inas, Rocky Gerung masih juga terjebak oleh argumen-nya sendiri ketika mengatakan bahwa kebebasan pers dan kebebasan berpendapat sudah tidak ada di era Jokowi.

“Padahal saat itu dia sedang bebas sesuka hati menghujat Jokowi di ILC TV One. Walaupun Rocky sering menghujat Jokowi di ILC TV One, tapi dia tidak pernah ditangkap untuk dipenjarakan dan ILC tvOne-nya pun tidak pernah dibredel oleh yang berwenang,” jelas Ketua Fraksi Partai Hanura DPR RI ini.

Jadi, sambung Inas, demokrasi seperti inilah yang diinginkan oleh Rocky Gerung dan konco-konconya.

“Ini demokrasi ala gue, layaknya demokrasi ala bandit yang sering kita tonton dalam film laga Holywood,” ujar Inas.

Selain itu, Rocky Gerung dengan garang mempertontonkan kefasisan-nya dengan menentang tekad Jokowi untuk melawan setiap hoax terhadap kehidupan pribadi dan perjuangan-nya.

Inas mencontohkan, ketika Jokowi mengatakan bahwa selama ini dia diam. Tapi sekarang akan melawan setiap hoax yang ditujukan kepada dirinya, tapi justru hak seorang warga negara yang dimiliki oleh Jokowi tersebut, direbut begitu saja oleh Rocky Gerung dengan mengatakan bahwa Jokowi harus ditangkap karena melawan kepada rakyat-nya.

“Itulah propaganda fasis dan komunis ala Rocky Gerung dalam mengkriminalkan rakyat atau bahkan pejabat negara,” tegas Inas.

Inas memaparkan, kelakuan Rocky Gerung tidak berdiri sendiri karena dia terkait juga dengan kelakuan BPN melalui Dahnil Anzar Simanjuntak yang melayangkan surat keberatan kepada KPU soal Metro TV sebagai televisi penyelenggara debat keempat Pilpres 2019, dimana sikap BPN yang keberatan terhadap keputusan KPU tersebut menurut peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI, Wasisto Raharjo Jati justru mencerminkan pihak BPN sebagai figur otoriter.

“Jadi, semakin terang benderang bahwa mereka adalah sekumpulan bandit demokrasi yang ingin memberangus kebebasan pers dan kebebasan berpendapat, kemudian diganti dengan sistem demokrasi ala gue yakni bentuk kebebasan pers dan kebebasan berpendapat yang menguntungkan kelompok mereka saja,” tuturnya.

Menurut Inas, “Demokrasi ala gue” atau lebih tepatnya “Demokrasi Bandit” ini lebih cenderung kepada faham otoritarian dimana kekuasaan untuk menentukan salah dan benar ada di tangan mereka atau pemimpin mereka.

“Contohnya adalah ketika Prabowo mengatakan bahwa rakyat Indonesia 99% miskin maka semua harus setuju dan membenarkan argumen Prabowo tersebut, walaupun mereka sadar bahwa omongan Prabowo tersebut adalah dusta belaka,” tandasnya.(Agung/WRC Karawang)

Most Popular

To Top