Politik

Jargon Penistaan Agama & Kriminalisasi jadi Alat Untuk Menjatuhkan Lawan Politik

Ayonews, Jakarta

Sejak Pilkada DKI Jaakarta dimana Ahok divonis pengadilan dengan tuduhan penistaan agama, maka diksi “penistaan agama” menjadi senjata untuk meneror dan menjatuhkan lawan. Ironisnya, senjata ini dipakai oleh orang-orang tertentu dari kelompok yang membawa-bawa agama sebagai jargon-nya dalam percaturan politik di Indonesia.

“Kelompok ini begitu fasih mengumbar diksi “penistaan agama” sebagai jargon utamanya kepada siapapun yang menentang dan menghadang keinginan mereka untuk merebut kekuasaan di Indonesia,” ujar politisi Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir di Jakarta (29/11/2018).

Jargon-jargon lain-nya seperti “anti Islam”, “kriminalisasi ulama”, “pembungkaman media Islam”, dan sebagainya, lanjut Inas, kian marak dilafalkan oleh mereka demi meraih kehausan ambisi politik kelompok tersebut.

“Yang sangat mengherankan, kelompok ini menghunuskan senjata tersebut bukan saja kepada orang-orang non muslim. Tapi juga kepada sesama saudara muslim-nya sendiri yang menolak mengikuti keinginan dan ambisi mereka,” tambah Inas.

Sehingga, katanya, dicari-carilah kesalahan dari saudara muslim-nya untuk kemudian ditembak dengan senjata jargon “penistaan agama” dimana seolah-olah kelompok merekalah yang keislaman-nya sudah benar 100%.

“Apakah yang dimaksud dengan penistaan agama? Penistaan agama merupakan tindakan penghinaan, penghujatan, atau ketidaksopanan kepada keyakinan dan ajaran suatu agama, dimana tindakan tersebut dilakukan dengan niat dan kesadaran yang penuh untuk menghina, menghujat dan berbuat tidak sopan kepada keyakinan dan ajaran agama tertentu tersebut,” terang Inas.

Kondisi orang yang seperti disebutkan diatas, sambung Ketua Fraksi DPR-RI dari Partai Hanura ini, tentunya tidak akan mau memeluk agama yang dihina dan dihujatnya tersebut hanya karena berbedanya keyakinan orang tersebut dengan agama yang dia hujat.

“Lalu bagaimana dengan orang yang memeluk agama Islam lalu dituduh menghina dan menghujat Islam? Seseorang yang sudah memeluk agama Islam, akan mencintai agamanya dengan sepenuh hati, karena agama adalah keyakinan dan ketika seseorang meyakini agamanya, maka dia akan mencintai agamanya,l. Tapi Islam sendiri terdiri dari berbagai golongan dimana masing-masing golongan merasa Islam-nya lah yang paling benar,” jelasnya

Situasi seperti inilah, ujar Inas, kemudian menimbulkan gesekan-gesekan antarumat. Setiap kesalahan dari umat Islam dari golongan yang satu akan dipolitisir oleh golongan lainnya.

“Bahkan dijadikan alat untuk menghakimi seseorang dengan tuduhan menista agama serta kemudian dikafir-kafirkan. Padahal yang berhak menilai benar atau tidaknya serta kafir atau tidaknya seorang muslim adalah hanya Allah SWT dan bukan imam dari suatu golongan tertentu,” tutupnya.(Agung/WRC Karawang)

Most Popular

To Top