Politik

Mundur dari Bappilu Partai Hanura, GPS Lari dari Tanggungjawab

 

 Chalid Tualeka, anggota bidang organisasi DPP Partai Hanura

 

Ayonews, Jakarta
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Hanura Gede Pasek Suardika resmi mengundurkan diri sebagai Ketua Bappilu DPP Partai Hanura.

Namun pengunduran diri Gede Pasek dari partai yang diketuai Oesman Sapta Odang (OSO) ini menuai polemik di internal partai.

Berdasarkan surat yang diterima, dan dilansir pengunduran diri ditandatangani oleh Gede Pasek tanggal 3 November 2018. Namun, surat tersebut belum dikonfirmasi kebenarannya kepada Gede Pasek.

Berikut isi surat pengunduran diri Gede Pasek: Salam Bangkit, Jaya, Menang..!

Menindaklanjuti penyampaian via WhatsApp pada tanggal 31 Oktober 2018, maka pada kesempatan ini saya menyampaikan secara resmi permohonan Pengunduran Diri sebagai Ketua Bapilu DPP Partai Hanura. Adapun alasan pengunduran diri tersebut dengan alasan:

1. Saya tidak bisa mengatur waktu dengan kesibukan di DPD RI maupun kesibukan pribadi lainnya.

2. Saya merasa tidak mampu menyesuaikan diri mengikuti ritme dan pola kerja pemenangan Pemilu yang dilaksanakan selama ini, sehingga perlu ada sosok pengganti yang lebih baik dan lebih tepat.

3. Berdasarkan evaluasi rangkaian kegiatan pemenangan Pemilu sejak acara Rakerna di Pekanbaru, proses Pencalegan DPD RI hingga proses pelaksanaan kegiatan pembekalan caleg (calon anggota legislatif), keberadaan Bapilu tidak diberikan peran untuk bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana mestinya.

Pada kesempatan ini, saya juga meminta maaf atas segala kekhilafan, kekurangan dan ketidakmampuan sebagai Ketua. Dan juga mengucapkan terima kasih atas segala kesempatan dan kepercayaan yang pernah diberikan. Terima kasih. Denpasar, 3 November 2018. Hormat Saya, Gede Pasek Suardika.

Tentu saja putusan Gede Pasek Suardika (GPS) mundur dari jabatan Ketua Bapilu DPP Partai Hanura  berdampak pada kerja-kerja jelang Pileg 2019.

Sikap kritis muncul dari Wasekjen Bina Wilayah Wahab Talaohu yang memandang sikap Pasek sebagai bagian dari disersi dalam tugas organisasi kepartaian.

“Di internal semua tau, bahwa Pasek sejak awal menginginkan jabatan Bappilu. Namun setelah dipercaya dan diberi tanggung jawab oleh Ketum rupanya dia justru bersikap disersi, lari lepas tangung jawab”, terang Wahab.

Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) memiliki tugas penting dan strategis yaitu memenangkan dan memastikan Hanura Lolos parliamentary threshold 4 persen di Pemilihan Legiislatif 2019.

“Yang kita sayangkan ternyata ada pihak yang sengaja membangun isu bahwa Pasek didzolimi sehingga yang bersangkutan mundur. Padahal dinamika politik internal itu hal wajar terjadi dan Pasek semestinya dapat dengan lebih bijak mensikapnya”, Kata Wahab, salah satu Inisiator Rembuk Nasional Aktivis 98.

Lewat surat bertanggal 3 november 2018, Gede Pasek meyatakan tiga alasan pengunduran dirinya. Salah satunya terkait “keberadaan Bappilu tidak diberikan peran untuk bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana mestinya”.

Menurut Wahab, alasan tersebut terlalu dibuat-buat karena secara organisatoris, konstitusi organisasi sudah menggariskan bahwa Bappilu punya peran dalam menyiapkan dan melaksankan tugas-tugas terkait pemenangan Pemilu dan Pileg 2019.

“Jadi alasan itu terlalu mengada-ngada. Kita melihatnya seperti ada drama yang sengaja dikonstruksi untuk memposisikan Pasek sebagai protagonist dan Ketum OSO selaku antagonis. Padalah seharusnya Pasek harus introspeksi selama ini Ketum OSO telah memberi kepercayaan dan memfasilitasi penuh agenda-agenda Bappilu. Namun ternyata air susu dibalas tuba,” tegas Wahab.

Bagi Wahab, sosok yang tepat untuk menjabat Ketua Bappilu adalah yang memiliki personality matang, berpengalaman dan memahami organisasi secara mempuni. Karena tantangan yang dihadapi Hanura ke depan tidaklah mudah. Yaitu harus menang Pilpres dan harus lolos parliamentary threshold.

“Kita optimis target tersebut dapat terpenuhi, terlebih bila kita mampu menemukan sosok yang tepat mengisi Ketua Bappilu. Dan tidak larut dalam drama yang sengaja dikonstruksi oleh Pasek cs. Dia mundur tapi “show must go on,” tutup Wahab.

Wasekjen Bidang Pelatihan dan Badan Saksi Nasional DPP Hanura, Bambang Irawan menilai, langkah GPS untuk mundur tersebut tentunya sudah dipikirkan dengan matang, untuk kepentingan membesarkan partai kedepan.

Justru ia menyayangkan pernyataan dari Wasekjen Bina Wilayah Wahab Talaohu yang memandang sikap Pasek sebagai bagian dari disersi dalam tugas organisasi kepartaian tersebut.

“Wahab ini ko sangat na’if. Pengurus DPP partai tapi tidak mengerti tujuan berpartai,” ujarnya.

Lagi pula menurutnya rencana pengunduran diri tersebut telah dirundingkan dengan Ketum OSO terkait hal itu, walau OSO sendiri juga dengan berat untuk mengindahkan keputusan tersebut.

Menanggapi hal itu, Anggota Bidang Organisasi DPP Partai Hanura, Chalid Tualeka melalui rilisnya mengatakan, pihaknya mempertanyakan, mengapan Surat Penguduran GPS menjadi Ketua Bappilu Partai Hanura mesti Beredar Di Media Sosial dan Group DPD lainnya.

Padahal dalam situasi tahun politik seperti ini menurutnya, semua instrumen dari pusat sampai ke daerah harus melakukan konsulidasi dan kordinasi secara masif untuk dapat memenangkan Partai Hanura dan lolos PT.

“Selain itu, jika ingin mengundurkan diri seharusnya menggunakan mekanisme kepartaian ke organisasian, agar out put dari keputusan tersebut dapat di sikapi juga secara organisasi,” ulasnya.

Sedangkan menyikapi pernyataan yang disampaikan Wahab Talaohu selaku Sekjend Bina Wilayah Maluku dan Maluku Utara DPP Partai Hanura tersebut sudah benar.

“Justru apa yg di sampaikan Wahab Talaohu adalah bentuk kepatuhan kepada Partai. pernyataan tersebut sekaligus menjawab riak-riak yg terjadi daerah atas situasi yg terjadi pasca pengunduran diri GPS sebagai ketua Bapilu. Kalaupun GPS  sudah mundur, harusnya mantan ketua Bapilu kembalikan dong aset partai yang digunakan, gentle gitu lho,” imbuhnya.

Adapun point yang terpenting menurutnya adalah, Partai Hanura Harus tetap bergerak maju untuk mengejar target 5 besar, dengan fokus pada pencalegan, pemilihan DPD dan Pilpres, dan tidak terpengaruh dengan situasi yg terjadi, karena di daerah-daerah juga sudah ada struktur Bapilunya, sehingga konsolidasi pemenangan tetap harus berjalan sesuai arahan dan kordinasi dengan DPP Partai Hanura.

Sementara, pernyataan dari Bambang Irawan ini malah semakin membuat kepanikan tersendiri dan menurutnya nampak kekanak-kanakan, dalam membangun komunikasi politik.

“Wajarlah Bambang ini kan bukan aktivis pergerakan dan a historis. Tidak memahami sejarah pergerakan bangsa ini. Justru yang melahirkan Reformasi Bung Wahab Talaohu dengan Kawan-kawan. Memangnya si Bambang itu siapa? ingin Mengkader Wahab Talaohu yang merupakan Tokoh Reformasi, sedangkan Kerja-kerja Bambang saja  masih di pertanyakan bisa apa dia,” ujarnya.(Agung/WRC Karawang)

Most Popular

To Top