Politik

Buka Hati Nurani Masyarakat Agar Memilih Partai Hanura

Ayonews, Kota Tangerang

Pembekalan Caleg Kota Tangerang dalam program Kampus Caleg DPC Partai Hanura Kota Tangerang berlangsung meriah. Tak tanggung-tanggung, DPC mendatangkan tokoh nasional yang terkenal vokal di era Orde Baru Dja’far Badjeber.

Tak hanya Dja’far, tokoh Banten yang juga menjabat Ketua DPD Partai Hanura Provinsi Banten H. Ahmad Subadri turut hadir memberikan bekal dan semangat kepada para Caleg di acara Kampus Caleg di kantor DPC Partai Hanura Kota Tangerang, Minggu (14/10/2018) ini.

Dalam pembekalan itu, Ahmad Subadri memberi pesan kepada para Caleg agar sukses menjadi anggota legislatif yang paling utama adalah harus punya bekal ilmu.

“Ilmu itu bisa didapat dari banyak sumber. Bisa dengan cara membaca buku, tanya Mbah Google dan bertanya pada mereka yang sudah berhasil duduk di legislatif,” papar Ahmad Subadri.

Ahmad Subadri juga menekankan kepada para Caleg agar terus membangun jaringan sebagai upaya mendulang suara di Pileg 2019 mendatang.

“Jaringan dimulai dari keluarga sendiri, saudara, teman dekat. Bahkan teman lama juga harus disapa. Bangun juga teman-teman baru. Masuk sebuah komunitas lebih bagus,” tambahnya.

Dia juga mengingatkan, sesama Caleg Partai Hanura harus bekerja sama. Jangan dijadikan musuh.

“Cari tandem buat meraup suara sebanyak-banyaknya. Tandem bisa dari sesama Caleg Kota, Caleg Provinsi atau Caleg DPR RI,” terangnya.

Namun demikian, Ahmad Subadri mengatakan, ketiga upaya itu tak berarti apa-apa bila Caleg tidak memiliki daya juang yang tinggi.

“Jangan mudah menyerah. Latih kemampuan komunikasi agar mendapat simpati dari masyarakat. Buka hati nurani mereka agar memilih Caleg dari Partai Hanura,” tandasnya.

Ahmad Subadri mengisahkan perjalanannya sukses duduk di kursi DPD dari Provinsi Banten sebanyak dua kali.

Dia memberikan semangat kepada para Caleg Partai Hanura Kota Tangerang bahwa terpilihnya kader menjadi Caleg saja sudah menjadi orang pilihan Allah.

“Jadi jangan merasa menjadi Caleg dhuafa. Akhirnya tidak memiliki strategi untuk memenangkan di Pileg 2019 nanti. Saya nggak terpilih jadi anggota DPR RI tidak penting. Saya akan nangis Bombay kalau tadinya DPC Partai Hanura 3 kursi di DPRD Kota Tangerang, malah tinggal 1 kursi di 2019,” tutupnya.

Sementara itu, Direktur eksekutif DPP Partai Hanura Dja’far Badjeber mengungkapkan bagaimana caranya menjadi Caleg tangguh. Menurutnya, suara perorangan sangat bermanfaat bagi suara nasional.

“Akan bermanfaat bagi suara Partai Hanura secara nasional. Kemudian suara Caleg adalah suara pribadi dari usaha pribadi. Karena itu kalau ada warga yang masih pragmatis atau belum ada pilihan, ajak orang itu pilih Hanura,” paparnya.

Dja’far mengatakan, Caleg Partai Hanura secara personaliti harus memiliki hati nurani, memiliki team work yang bagus dan terdiri dari orang-orang yang terpercaya.

“Setiap TPS memiliki 7 – 10 suara saja sudah luar biasa. Kemudian bangun jaringan, tokoh masyarakat, majelis ta’lim, ormas. Modal sosial juga harus dibangun. Logistik itu juga penting. Tapi logistik yang minim bisa ditutupi dengan kepercayaan dari masyarakat. Kalau masyarakat menilai Caleg itu orangnya baik, berintegritas, pasti mereka akan memilih walau tanpa logistik,” paparnya.

Tingkat elektabilitas, kapabilitas, mampu, terampil dan kreatif, menurut Dja’far memang penting. Orang percaya akan kemampuan Anda menjadi Caleg. Orang yakin Anda layak mewakili mereka.

“Memang tergantung nasib tapi juga jangan pasrah,” ucapnya.

Dja’far berkisah bagaimana ia mendapat kepercayaan dari masyarakat karena perjuangan yang panjang sejak jaman Orde Baru.

“Saya peroleh ini bukan dengan mudah. Era Orde Baru saya paling vokal. Sering dipanggil Kodim. Saat itu saya pasang badan untuk rakyat. Di sini saya bisa populer. Orang percaya saya karena memang saya pasang badan buat rakyat di jaman itu bersama Umar Biki,. Nggak perlu logistik, tapi rakyat percaya saya dan kepercayaan itu masih sampai sekarang,” paparnya.

Namun demikian, Dja’far mengingatkan bahwa tiap daerah memiliki watak dan budaya berbeda. Cara penyampaian dan sosialisasi di masyarakat berbeda-beda.

“Misalnya Caleg dari Kota Tangerang ini menghadapi masyarakat yang justru lebih pintar dari Caleg. Kita justru harus banyak mendengar aspirasi dari masyarakat. Jangan mengajari ikan berenang. Masyarakat itu pintar. Kita akan dihargai ketika mendengar keluhan orang lain dan berusaha membantunya,” jelasnya.(one)

Most Popular

To Top