Nasional

Pemda Lumpuh, Ribuan Bangkai Manusia Berserakan, Penjarahan di Mana-mana, Palu Donggala Bak Kota Zombie

Dja’far Badjeber

 

Ayonews, Palu Donggala

Musibah gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala menyisakan pilu berkepanjangan. Kota porak poranda. Ribuan nyawa melayang. Mirisnya lagi, penjarahan di mana-mana.

Harta yang mereka miliki musnah
Uang kontan tak berharga, logistik berupa makanan dan minuman jadi barang langka. Penerangan tiada. Komunikasi telepon terputus.

Palu Donggala jadi kota mati. Semua mata dari segala penjuru Nusantara tertuju ke sana. Bencana besar itu pun tak luput menyita perhatian dunia internasional. Ya, saat ini hanya bisa sekadar rasa iba.

Palu Donggala bagaikan kota zombie. Menakutkan. Mayat-mayat korban gempa dan tsunami belum teratasi. Bau bangkai manusia mulai terasa menyengat.

“Cobaan demi cobaan terus mendera. Kami dan kita semua yang ada di luar kota Palu dan Donggala hanya bisa berdo’a . Kami dan kita semua tentu sangat prihatin. Kami dapat merasakan penderitaan saudara kita di sana. Kami juga ingin ke sana. Kami ingin membantu. Namun sarana dan prasarana tidak memungkinkan,” ujar politisi Senayan dari Partai Hanura, Dja’far Badjeber di Jakarta, Selasa (2/10/2018).

Mereka yang di Palu dan Donggala ingin segera keluar karena terus dilanda kepanikan akan musibah lanjutan. Yang ada di Pulau Jawa, Jakarta, Surabaya, Makassar, Manado dan Gorontalo serta beberapa daerah ingin ke sana. Membantu saudara-saudarnya yang terkena musibah. Tapi apalah daya, sarana penerbangan komersiel ke sana pun terbatas.

“Saya dapat memahami keprihatinan dan penderitaan semua saudara di sana. Presiden dan pemerintah memang langsung turun tangan dan memberikan bantuan. Tentunya bantuan kemanusiaan ini belum bisa mengatasi permasalahan berat. Ini baru awal dari perhatian pemerintah. Pemerintah tentu tidak akan diam dengan kejadian ini. Mudah-mudahan bantuan makanan dan minuman segera mengalir baik dari pemerintah ataupun relawan,” papar Dja’far.

Pemerintah pusat, lanjut Dia”far, harus turun tangan secepatnya. Mungkin situasi pemerintah daerah tidak bisa maksimal karena sebagian besar mereka atau keluarganya juga turut jadi korban.

“Mengingat situasi ini begitu mencekam dan sangat menghawatirkan karena masih ada gempa susulan. Ketakutan warga makin bertambah. Ancaman kriminal dan penjarahan di depan mata. Para oknum ini menari di atas penderitaan,” jelasnya.

Menurut Dja’far tak hanya makanan dan minuman yang perlu didrop. Pemerintah harus mengerahkan TNI , Polri dan relawan propesional serta dokter dalam jumlah besar.

“Trauma dan ketakutan kini melebar ke daerah lain di luar Palu dan Donggala.
Seperti warga sekitar Sigi dan Parigi Moutong. Sebagian ada yang menyingkir ke gunung dan berkemah di sana. Kondisi ini dimanfaatkan para pelaku kriminal dan penjarah yang terus mengenghembuskan isu gempa susulan dan tsunami,” sambungnya.

Menimbang dan memperhatikan situasi dan tingkat kerusakan yang demikian besar serta korban yang demikian banyak, imbuhnya, maka kejadian ini harus di jadikan bencana nasional. Karena pemerintah daerah pun sepertinya tak berdaya.

Warga yang trauma gempa dan tsunami susulan berhamburan ke sebuah lapangan. Foto: istimewa

Bantuan lamban

Sementara itu Yusuf Lakaseng, yang mewakili warga Palu, Donggala, Sigi korban bencana gempa dan tusnami sekaligus Jubir Jokowi-Ma’ruf Amin merasakan langsung musibah di luar kemampuan manusia itu.

Dia mendesak, pemerintah pusat segera mengambil alih penanganan bencana Palu-Donggala-Sigi. Karena pemerintah daerah lumpuh.

“Tidak ada jaringan komunikasi HP, listrik mati, korban belum terevakuasi dengan baik sehingga bau busuk mayat menyengat. Bantuan makanan tidak terdistribusi dengan baik dan cukup ke tenda-tenda prngungsian dan warga. Jalanan putus di kota Palu. Penjarahan marak terjadi karena lambanya distribusi bantuan,” ungkapnya.

Menurut Yusuf, salah satu penyebab lambannya evakuasi korban karena gempa yang sangat dahsyat dan tsunami menyebabkan daya rusak yang besar. Dia meminta pemerintah pusat sesegera mungkin dan sebanyak-banyaknya aparat TNI/Polri serta relawan kemanusiaan masuk ke Palu.

“Aparat dan relawan dari luar Palu diperlukan karena mereka tidak mengalami trauma sehingga di harapkan bisa menangani tanggap darurat dengan lebih terkoordinasi dan sistematis,” terangnya.

Yusuf mendesak pemerintah pusat segera menetapkan bencana gempa dan tsunami Palu-Donggala-Sigi sebagai bencana nasional mengingat banyaknya korban nyawa yang mencapai ribuan,.

“Belum lagi tingkat kerusakan rumah warga, bangunan pemerintah, bandara yg rusak dan infrastruktur lainnya termasuk jalan yang banyak terputus dan  melumpuhkan pemerintah daerah,” tandasnya.(TIM WRC)

Most Popular

To Top