Nasional

Cuma jadi Alat Pencitraan Pemerintah dan Capres, Derita Lombok Belum Berakhir, Ojol pun Harus Hadir

Musibah gempa Lombok menyisakan penderitaan berkepanjangan. Kondisi para pengungsi makin hari kian parah. Mulai dari kekeringan air, logistik berkurang, penyakit pun mewabah Tak hanya gempa, ancaman kriminal mulai menghantui para pengungsi.

Gempa Lombok menggugah setiap orang untuk turut serta membantu. Ray, Botak dan Jeff, tiga anggota Ojek Online ini pun tergerak untuk ikut serta dalam misi kemanusiaan di Lombok.

Menggunakan 2 motor, ketiga driver roda dua asal Jagakarsa, Jakarta Selatan ini meluncur dengan logistik dan persiapan apa adanya menuju kawasan bencana.

Uang hasil sumbangan para Ojol, baik itu dari kocek sendiri sesama rekan se-aspal dan sumbangan dari donatur lainnya, mereka bawa. Jumlahnya memang tak besar.

Tapi kendaraan yang mereka bawa itulah diyakini bisa membantu para korban bencana. Selain misi kemanusiaan yang membuat ketiga driver Ojol itu bisa sampai ke kawasan bencana.

Motor yang mereka bawa dapat dimanfaatkan para relawan untuk menolong korban- korban sampai ke pelosok Lombok. Karena memang, perjalanan hingga ke pelosok tak bisa menggunakan mobil untuk alat transportasi.

“Uang hasil sumbangan dari kawan-kawan dan donatur tak kami sentuh. Semuanya untuk para korban. Tekad besar ini yang mendorong kami untuk sampai ke sana,. Kami hanya bawa uang seadanya, cukup buat bensin. Kalau makan, kami tak khawatir, persaudaraan di Ojol seperti saudara sedarah,” ujar Jeff kepada Ayonews melalui pesan elektronik WA, Rabu (26/9/2018).

Ojol punya tradisi unik. Terlebih mereka masuk dalam komunitas. Hampir di tiap pelosok kota, perkampungan, desa atau daerah di mana ada aplikator ojek online, pasti ada komunitas Ojol.

Banyak basecamp-basecamp yang sengaja mereka bangun. Nama basecamp pun berkacam-macam. Tiap basecamp terdiri dari 10 sampai ratusan anggota.

Lambang yang mereka buat pun unik-unik sesuai visi dan misi mereka membuat komunitas. Ada lambang burung hantu, ada lambang kelelawar, lambang motor, lambang tengkorak, dan simbol-simbol lainnya yang menunjukkan identitas mereka.

Basecamp itu tak sekadar buat pangkalan onbid saat bekerja mencari customer. Tapi dipakai buat tempat istirahat Ojol lainnya yang mendapat orderan jauh.

Kadang, sebuah basecamp tak hanya menyediakan sarapan semata, tapi juga cinderamata berupa pin buat Ojol tamu yang datang sebagai buah tangan dan kenang-kenangan.

Istilah mereka yang menerima tamu sesama Ojol; ‘kondusif’. Artinya, saudara seojol yang sedang bertugas dari jarak jauh sudah mendapat tempat istirahat di basecamp tuan rumah. Bahkan sekadar diberi jamuan sederhana. Bisa air mineral, kopi, mi instan, bahkan sarapan nasi bungkus.

“Inilah keyakinan kami persaudaraan sesama Ojol. Sesama pejuang keluarga. Sesama pejuang aspal. Kami senang, mereka senang. Kami susah, saudara kami akan membantu,” ucap Jeff memantapkan rencananya bersama kedua rekannya untuk tetap jalan menuju Lombok saat itu .

Apalagi, misi perjalanan mereka sangat mulia. Ingin membantu sesama. Ketiganya mengorbankan waktu, mengorbankan tenaga, bahkan keluarga.

Ray harus meninggalkan istrinya dalam keadaan baru melahirkan secara cesar. Padahal, anak ketiganya itu masih butuh dirinya. “Alhamdulillah, istri saya mengizinkan saya menolong saudara kita yang terkena bencana. Soal rejeki, nggak takut. Pasti ada jalannya,” ujar Ray.

Begitu sampai di sana, ketiganya terkejut. Tak seperti yang diberitakan banyak media bahwa ada bantuan melimpah dari pemerintah, baik pusat atau pun daerah. Tak juga seperti yang dilihat adanya bantuan dari parpol atau Capres tertentu yang dating ke sana untuk sekadar menyumbang uang atau makanan.

Kehidupan para pengungsi ini miris. Satu tenda menampung 5 KK sampai 15 KK. Sanitasi juga tidak mendukung. MCK minim, 15 tenda hanya tersedia satu MCK.
Belum lagi masalah mental dan kesehatan. Para pangungsi masih trauma dengan adanya gempa susulan. Belum lagi tersiar kabar adanya tsunami. Kamp pengungsian sudah seperti pasar kotor dan jorok. Seperti kamp pengungsian di Lombok Timur. Lalat yang berterbangan udah kayak laron. Belum lagi ancaman malaria yang dating sewaktu-waktu.

“Tenaga kesehatan minim. Ada juga pegawai pegawai Puskesmas tanpa laboratorium. Kami membantu membuat tenda tenda baru dari dana-dana para ojol dari sumbangan-sumbangan. Masih jauh api dari panggang sumbangan kami. Tapi paling tidak kami sudah berbuat,” ujar Ray.

Hingga hari ini, sambung Ray, gempa masih terus berlangsung hampir 3-4 kali dalam seminggu. Sehingga para pengungsi belum berani untuk kembali kerumah mereka karena gempa lain masih menyusul dan takut rumahnya rubuh dengan kondisi retak panjang.

Ironisnya, dalam situasi seperti itu masih saja ada yang berbuat kriminal. Misalnya mengisukan tsunami setelah gempa sehingga banyak warga berhamburan untuk mencari tempat yang lebih tinggi. Di sinilah para penjarah berdatangan dan mencuri barang-barang berharga.

“Di beberapa wilayah sudah kesusahan air. Dalam keadaan susah ini pihak pemerintah daerah, seperti kecamatan dan kelurahan menengok saja tidak. Setelah semiggu kejadian gempa, kepa desa, camat belum ada yang ke sini. Tenda-tenda ini aja dibangun dari swadaya masyarakat dan relawan,” kata Dende, warga setempat. (Ardi/WRC Tangsel)

Most Popular

To Top