Hukum & Kriminal

Aparat Impoten, Driver Ojol Dibiarkan jadi Korban Kejahatan Preman Opang Stasiun Pondok Ranji

Ayonews, Tangerang Selatan
Aksi premanisme kawanan ojek pangkalan (Opang) di Stasiun Pondok Ranji, Tangerang Selatan, Banten terhadap driver ojek online (Ojol) dan masyarakat pengguna aplikasi tersebut makin meresahkan. Pelaku tak hanya dari para Opang yang biasa mangkal di Stasiun Pondok Ranji saja, tapi juga melibatkan para preman setempat.

Tak hanya aksi kekerasan fisik yang dilakukan para Opang dan preman yang menjadi mitra mereka. Diduga, kedua kelompok ini berlindung di ketiak oknum aparat yang menjadi beking mereka.

Pasalnya, sudah belasan, bahkan puluhan kali driver Ojol menjadi korban kekerasan fisik dan perampasan kendaraan, namun aparat kepolisian diam saja. Padahal, tak jauh dari stasiun, banyak petugas kepolisian berseragam melakukan patroli.

Indikasi lainnya ada upaya perlindungan aparat kepolisian kepada para preman dan Opang adalah setiap kali driver Ojol menjadi korban dan melapor ke petugas kepolisian, tak pernah ditanggapi serius.

M Reza adalah salah satu Ojol korban premanisme Opang di kawasaan Stasiun Pondok Ranji. Motor bernopol B 6487 WSD dirampas preman dan Opang di stasiun tersebut. Hingga saat ini, motornya tak jelas ke mana. Dia pun sudah melaporkan aksi kejahatan itu ke petugas setempat.

Namun hingga saat ini, laporannya tak ditanggapi. Celakanya, preman dan Opang yang menjadi pelaku perampasan kendaraanya masih melenggang bebas di sekitar stasiun. Polisi pun sepertinya tutup mata dengan aksi kejahatan mereka.

Dari hasil investigasi Tim WRC, dalam beberapa sepekan hingga kemarin Sabtu (22/9/2018) sudah empat driver Ojol menjadi korban kejahatan para Opang dan preman Stasiun Pondok Ranji.

Kebanyakan dari para korban itu merupakan driver Ojol baru. Modusnya sama, dipancing pakai akun aplikasi Ojol, motor disandera atau dirampas, kunci disita, lalu diperas. Dan, diduga pelaku utamanya sama, preman setempat dan kawanan Opang.

Basmi Opang Preman

Kejahatan Opang dan preman Stasiun Pondok Ranji terhadap korban M Reza bermula ketika ia menurunkan customer di dekat Stasiun Pondok Ranji. Kebetulan, si customer membayar uang lebih yang ia harus kembalikan selisihnya. Sementara ia tak punya uang kembalian.

“Saya minta tolong ke customer untuk menukarkan uang bernilai besar dari nilai argo perjalanan itu ke warung atau minimarket terdekat. Rupanya, sejak saya menurunkan costumer sudah diincar preman dan kawanan Opang,” ujarnya.

Usai menerima pembayaran, lanjut Reza, beberapa preman dan Opang menghampirinya dan mencabut kunci motor miliknya.

“Sambil membentak mereka memaki saya dan meminta uang denda sebesar 200 ribu baru kunci motor dikembalikan. Karena saya nggak ada uang, motor saya pun diambil mereka. Saya cuma bisa pasrah,” tuturnya.

Ia pun menghubungi beberapa rekannya sesame Ojol untuk mencari jalan keluar bagaimana caranya agar motor miliknya bisa diambil. Ternyata, motornya sudah tidak ada. Pelaku pun masih berkeliaran di lokasi itu dengan bebasnya.

“Kata teman-teman percuma lapor polisi, nggak bakal ditanggapi,” ujarnya.

Akhirnya, seorang teman menyarankan untuk meminta bantuan hokum ke Team Khusus Anti Begal (Tekab) Indonesia untuk menyelesaikan masalah motor yang dirampas kawanan Opang dan preman Stasiun Podok Ranji.

Pada Sabtu (22/9/2018) laporan Reza diterima Ketua Umum Tekab Indonesia Ari Nurprianto di Markas Tekab di Jl Kodam Raya, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

“Akan kita lakukan proses hukum dan pendampingan korban untuk laporan ke kepolisian setempat,” ujar Ari.

Ari menegaskan, perampasan adalah bentuk kejahatan yang tidak bisa ditolerir dan aksi premanisme kawanan Opang harus dibasmi. Dia juga mempertanyakan komitmen jajaran kepolisian untuk memberantas aksi premanisme, namun nyatanya kejahatan di depan mereka pun cuek bebek.

“Seakan terjadi pembiaran aksi premanisme, kejahatan dan pungli di Stasiun Pondok Ranji. Patut juga dipertanyakan apakah ada keterlibatan ataupun pembiaran dari oknum petugas kepolisian dan keamanan setempat dilakukan para preman dan Opang sekitar. Dalam kasus ini aparat  impoten,” tandas Ari.

Tekab mendesak Tim Saber Pungli Kemenkopolhukam untuk turun langsung menginvestigasi karena semakin lama, tak hanya kalangan Ojol, masyarakat pengguna Ojol pun dibuat resah.

“Laporan kejahatan mereka yang masuk ke kepolisian juga terkesan tidak ditangani secara serius. Stasiun Kereta Api Pondok Ranji, Tangerang Selatan ini kan masuk wilayah Kementerian Perhubungan RI. Sudah kewajiban Kemenhub mensterilkan area Stasiun dari tindakan melanggar hukum, premanisme, pemerasan dan pungli,” tandasnya.(Ardhie/WRC Tangsel)

Most Popular

To Top