Politik

Memilih Jokowi, Memenangkan Orang Baik

oleh : Kajitow Elkayeni

Lukas Enembe, Gubernur Papua telah bertekad menyerahkan suara Papua untuk Jokowi sepenuhnya. Perlu diketahui, Lukas ini dari Partai Demokrat. Anehnya, dia memilih membangkang dari partainya. Mirip Tuan Guru Bajang. Kenapa mereka melakukan itu? Karena mereka melihat sendiri, Jokowi bekerja dengan hati.

Orang ini tidak peduli, daerah tertentu dulu tidak memenangkan dirinya. Misalnya Sumatera Barat, Riau, Jabar. Ia adalah presiden, nasib rakyat jadi kewajibannya. Maka, semua daerah harus dibangun dengan adil. Jangan hanya Jawa sentris. Indonesia ini luas sekaligus memprihatinkan. Pembangunan harus dimulai dari pinggir.

Karena telah terbukti Jokowi ini orang baik. Bukan pendendam. Dia tahu masa pemerintahannya terbatas, sementara impiannya begitu panjang. Maka dia terus membangun siang-malam. Hitung-hitungan politik tak masuk kamus pembangunanya. Semua rata, tercukupi, diperhatikan.

Oleh karena tak ada celah untuk menyerang Jokowi, musuhnya mulai melakukan fitnah. Nawacita dilawan Nawaduka. Isinya penghasutan. Persis seperti dulu, namanya dirusak dengan tuduhan keji. Hasil kerjanya diburamkan dengan prasangka. Keluarganya yang tak tahu apa-apa, ikut dinistakan. Pendek kata, Jokowi dihabisi dengan berbagai cara kotor.

Pencurian start kampanye pun dimulai. Gerakan ganti presiden dijadikan kendaraan. Mereka menolak kalau disebut kampanye. Padahal kalau bukan kampanye, justru itu jadi gerakan makar. Inkonstitusional. Melawan hukum.

Di beberapa daerah mulai ada penggiringan suara. Semacam perang psikologis. Mereka tidak sadar, peta politik telah berubah. Banyak mata telah terbuka. Mereka melihat bukti, seorang presiden yang benar-benar bekerja. Kondisinya tidak sama dengan tahun 2014 lagi.

Riau dan Sumbar memang basisnya Prabowo. Lalu ada yang sesumbar, Riau dan Sumbar akan memenangkan Sandi. Ok. Sampai di sini tidak ada masalah. Persoalannya pada jumlah. Penduduk Riau hanya 6 jutaan, Sumbar 5 jutaan. Seluruh Sumatera, saya ulangi, SELURUH SUMATERA penduduknya hanya 50 jutaan. Anda tahu, Jabar saja penduduknya 46 juta. Gubernurnya Ridwan Kamil, Pro Jokowi.

Memang tidak persis mewakili suara, tapi itu instrumen yang sangat penting untuk memperbaiki kekalahan pemilu sebelumnya. Motor yang sangat kuat untuk menggerakkan massa. Untuk mengubah persepsi guna memenangkan orang baik. Yang dulu difitnah PKI, Kristen, Cina, antek asing.

Dengan logika sederhana, kalaupun Riau dan Sumbar dikawinkan, melawan Banten saja ampun-ampun. Anda tahu, jumlah penduduk Banten itu 12 jutaan. Dan Ma’ruf Amin itu tokoh yang sangat dihormati di Banten. Jelas itu akan mengubah haluan suara secara signifikan. Pertarungan sudah tak sama lagi.

Mau melawan Jawa Tengah dan Jawa Timur? Jawa Tengah jelas Kandang Banteng, Jogja dikecualikan, karena itu provinsi lain. Jawa Timur, paling minus Pacitan, kandangnya SBY. Bali dll, tak perlu diomong lagi.

Pada akhirnya, Jawa adalah koentji, sejak dulu selalu begitu. Mau menang di Indonesia, harus mengalahkan Jawa. Sejak dulu selalu begitu. Membandingkan dengan Riau dan Sumbar ya kejauhan. Padahal sekarang peta di sana juga telah berubah. Banyak yang telah sadar diri. Jokowi ternyata muslim yang taat, bersih, kerja nyata.

Pilpres 2019 ini sebenarnya lebih mudah. Hanya karena harus hati-hati dan tidak boleh meremehkan musuh, maka harus tetap waspada dan bekerja keras menangkal fitnah.

Sebagaimana Lukas Enembe yang terbuka mata hatinya melihat kesungguhan Jokowi bekerja, tidak ada alasan menolak orang sebaik Jokowi sebagai pemimpin. Kecuali ada pilihan yang lebih baik darinya. Dan untuk urusan ini, sebaiknya jangan coba-coba. Jakarta adalah contoh paling nyata. Kota yang hampir bangun dari tidur panjangnya itu, kembali ambruk di tangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Anggaran kacau dan tidak transparan. Janji politik diingkari semua. Orang miskin tetap digusur, sungai semakin keruh, banjir mulai mengancam lagi. Jakarta kembali bergerak mundur. Kumuh, tak manusiawi, amburadul.

Indonesia di tangan Jokowi adalah Indonesia yang punya harga diri. Indonesia yang dipandang dunia. Raksasa yang tertidur ini mulai bangun dan membikin ngeri banyak negara. Potensinya yang begitu besar, nasionalisme rakyatnya yang tinggi, kemampuan untuk beradaptasi yang kuat, menjadikan negara ini saingan berat di masa depan.

Memilih Jokowi adalah memenangkan orang baik. Memenangkan orang baik berarti menegakkan wajah Indonesia di percaturan dunia. Ini bukan lagi negara inferior yang diremehkan. Miskin, tertinggal, infrastruktur buruk, bar-bar, bodoh, penyakitan, kurang gizi. Indonesia sekarang ini adalah negara yang penuh percaya diri menatap 2030 sebagai negara kuat, dan 2050 sebagai negara maju.

Tidak ada alasan untuk coba-coba. Jangan meniru nasib buruk Jakarta. Serahkan Indonesia pada ahlinya. Pada orang baik yang telah diberikan mandat Lukas Enembe untuk memimpin suara Papua. Memilih kembali Jokowi, meletakkan orang baik di tempat semestinya.(dikutip Yuswadi/WRC Bekasi)

Most Popular

To Top