Politik

Prabowo jadi Wapres Gagal, Jadi Presiden Gagal, Sandiaga Uno Bikin Jakarta Berantakan

Ayonews, Jakarta

Pilpres 2019 semakin dekat. Pertarungan head to head antara Petahana Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bakal semakin keras.

Namun demikian, masyarakat Indonesia harus cerdas mencermati manuver capres-cawapres 2019 ini. Pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin lebih berpeluang menang.

Tak hanya sebagai tokoh nasional, tapi hasil kerja Jokowi-Ma’ruf lebih nyata terbukti. Jokowi sebagai Umaro, banyak memperlihatkan hasil kerjanya di bidang infrastruktur selama 4 tahun ini terlihat jelas.

Sementara, Ma’aruf Amin mewakili ulama, mampu menjadi pemersatu bangsa dengan ide-ide nasionalismenya.

Bagaimana dengan lawan Jokowi-Ma’ruf, yakni Prabowo-Sandi?

“Belum ada bukti kerja nyata. Kan Prabowo belum pernah jadi presiden. Sementara wakilnya, Sandiaga Uno hanya betah selama 10 bulan di Pemerintahan DKI Jakarta sebagai Wakil Gubernur,” kata Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (18/8/2018).

Sandiaga, menurut Inas, banyak meninggalkan program mangkrak yang digagas sendiri olehnya.

“Program yang digagas tersebut dalam hitungan waktu kurang dari 10 bulan sudah mangkrak bahkan tidak sesuai janji,” kata politisi yang kembali menjadi Caleg DPR RI periode 2019 mendatang.

Wakil Ketua Komisi VI DPR ini menyebutkan kegagalan program Sandiaga Uno. Salah satunya program Ok Oce.

Ternyata, terang Inas, itu bukan program UMKM dan Kewirausahaan seperti yang dijanjikan pada saat kampanye Pilkada DKI yang lalu. Itu cuma program pelatihan kewirausahaan belaka.

“Jadi tanpa ada bantuan pinjaman dana bunga rendah seperti yang pernah digembar-gemborkan pada saat kampanye pilkada DKI yang lalu, bahkan Sandiaga mengatakan bahwa media salah dengar,” ujarnya.

Selain itu, sebut Ketua Fraksi Partai Hanura DPR RI, program pelatihannya pun tidak pernah terdengar, selain hanya sekedar mengumpulkan member di website mereka https://okoce.me.

Disinggung soal realisasi program OK Otrip yang mengintegrasikan angkutan kota dengan bus Trans-Jakarta, menurut Inas, masih jauh dari target.

“Padahal semula dalam tiga bulan diyakini seluruh pengemudi angkot sudah gabung Ok Otrip. Uji coba berlangsung sejak 15 Januari 2018 hingga 15 April 2018 ternyata juga gagal,” imbuhnya.

Dikatakan Inas, boleh saja, masyarakat menyebut Sandiaga piawai dalam bisnis, tapi tidak piawai dalam pemerintahan. (***)

Most Popular

To Top