Nasional

Sungai Tertutup Material Pasir, Petani di Bantul Terancam Gagal Panen

Alat pompa yang digunakan warga untuk menyedot air yang menggenangi lahan pertanian untuk mengalihkannya ke aliran sungai.

BANTUL, Ayonews.com – Lahan pertanian warga di Kecamatan Sanden dan Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terancam gagal panen. Hal ini setelah material pasir yang dibawa gelombang tinggi di Pantai Selatan Jawa menutup aliran Sungai Opak dan Winongo.

Akibatnya, air sungai yang tertahan material tersebut pun meluber hingga menggenangi lahan pertanian warga. Kondisi ini mengkhawatirkan para petani setempat lantaran tanaman bawang merah milik mereka yang segera memasuki masa panen terancam rusak dengan adanya genangan air.

“Air dari sungai tidak bisa masuk ke laut karena tersumbat pasir,” Kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Perikanan dan Kelautan (DP3K) Kabupaten Bantul Pulung Haryadi, Kamis (2/8/2018).

Dia mengatakan, musibah ini bukan kali pertama terjadi di Bantul. Hampir setiap air pasang bergelombang tinggi, selalu menutup muara sungai dengan pasir. Kondisi itu menyebabkan muara sungai meluber Karena tidak lagi mampu menampung air dari atas.

Berdasarkan pendataan dinas terkait, setidaknya ada 15 hektare tanaman bawang merah yang terdampak. Selain itu, genangan air juga menutup 10 hektare lahan padi dan jagung. Warga saat ini sedang berupaya keras memompa air yang menggenangi lahan dan membuka muara agar aliran sungai kembali lancar. “Kalau airnya bisa surut, maka tanaman masih bisa diselamatkan,” ujarnya.

Bupati Bantul Suharsono mengatakan, saat ini pemerintah telah menerjunkan sejumlah pompa air dan juga alat berat untuk membuka atau membedah muara sungai ke laut yang tersumbat pasir. Harapannya muara sungai kembali terbuka agar aliran air kembali lancar.

“Semoga sungai bisa mengalir ke laut sehingga air genangan terus turun dan tanaman pertanian bisa diselamatkan,” ucap Suharsono.

Dia juga mendorong agar desa yang terdampak bisa mengajukan bantuan alat berat untuk membuka muara. Sebab musibah seperti ini sudah terjadi setiap tahun. Jika sampai terlambat maka areal pertanian warga bisa rusak, bahkan mati. “Ini harus cepat ditangani agar petani tidak rugi,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Bantul Suroto mengaku petani sudah sadar dengan fenomena alam tersebut. Jika masih bisa disedot dengan pompa air maka air hanya akan dibuang. Namun jika semakin besar, maka harus membuka muara. “Petani sudah berupaya maksimal dengan membuka tumpukan material pasir di muara sungai secara manual. Kalau mau bersih harus dengan alat berat,” tuturnya.(idr)

Most Popular

To Top