Internasional

Lika-Liku Hubungan Amerika dan Iran, Semua Gara-Gara Nuklir

WASHINGTON, Ayonews.com – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi sorotan kembali. Tensi kedua negara kembali tegang sejak Presiden Donald Trump membawa AS mundur dari kesepakatan nuklir Iran pada Mei 2018 lalu. Trump juga akan menjatuhkan sanksi lebih berat sehingga memicu amarah Iran.

Sejak mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengundurkan diri pada 2013, prospek pemulihan hubungan kedua negara terus muncul.

Namun hal itu tidaklah mudah karena kedua negara memiliki hubungan buruk selama puluhan tahun. Pada 1953, Iran murka saat kudeta yang didukung AS-Inggris menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadeq, yang digantikan Shah Reza Pahlavi.

Setelah Pahlevi jatuh pada 1979, hubungan AS-Iran memburuk lagi dan mencapai puncaknya saat AS mendukung invasi Irak ke Iran. Peristiwa-peristiwa ini meninggalkan bekas mendalam dalam ingatan warga Iran, sementara AS tidak melupakan aksi Iran yang menahan 66 diplomatnya selama 444 hari sebagai sandera.

Ketegangan antara AS dan Iran saat ini pun kian meningkat setelah Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani saling menghina lewat media. Rouhani sebelumnya memperingatkan Trump agar tak bermain-main dengan ‘ekor singa’, yang ditanggapi dengan amarah oleh Trump. Dia memperingatkan Rouhani agar tak lagi mengancam AS.

Namun beberapa hari kemudian, Trump sedikit melunak dan mengatakan bersedia bertemu dengan para pemimpin Iran kapan pun dan tanpa syarat. Tapi, niatan itu ditolak Iran yang menyatakan, “Kami bukan Korea Utara.”

Perjalanan hubungan Iran dan AS sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Berikut kronologi peristiwa besar dalam hubungan antara Iran dan AS:

1953 – CIA dan Inggris membantu mengatur penggulingan salah satu tokoh populer saat itu, Perdana Menteri Iran Mohammed Mossadegh, serta memulihkan kekuasaan Mohammed Reza Pahlavi.

1957 – AS dan Iran menandatangani perjanjian kerja sama nuklir sipil, yakni hanya untuk kepentingan energi dan penelitian.

1967 – AS membantu pengadaan Reaktor Penelitian Teheran (TRR) untuk Iran, yakni reaktor nuklir 5-megawatt sekaligus senjata, di mana 93 persennya menggunakan bahan bakar uranium.

1968 – Iran menandatangani Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT) yang ketika diratifikasi dua tahun kemudian, memungkinkan Iran memiliki program nuklir sipil dengan imbalan komitmen untuk tidak membuat senjata nuklir.

1979 – Revolusi Islam Iran memaksa Shah yang didukung AS melarikan diri. Ayatollah Ruhollah Khomeini kembali dari pengasingan dan menjadi pemimpin tertinggi agama saat itu.

Para mahasiswa garis keras Iran mendesak AS menyerahkan Shah untuk disidang. Mereka menduduki kedutaan AS di Teheran pada 4 November lalu menawan staf sebagai sandera selama 444 hari.

1980 – AS memutus hubungan diplomatik, merebut aset Iran, dan melarang perdagangan dengan Iran. Misi penyelamatan sandera AS yang diperintahkan oleh Presiden Jimmy Carter gagal ketika helikopter jatuh dalam badai pasir, menewaskan delapan prajurit AS.

1981 – Iran melepaskan sandera AS beberapa menit setelah Carter mundur dan Ronald Reagan dilantik sebagai presiden AS.

1984 – AS mencantumkan Iran sebagai negara penyokong teroris.

1986 – Presiden Reagan mengungkap perjanjian senjata rahasia dengan Iran yang melanggar embargo senjata AS. Uang dari penjualan secara diam-diam diserahkan kepada gerilyawan anti-komunis di Nikaragua.

1988 – Kapal perang AS, Vincennes, secara keliru menembak jatuh pesawat penumpang Iran ke Teluk, dan menewaskan 290 penumpang.

2000 – Menteri Luar Negeri Madeleine Albright mengakui kerusakan yang dilakukan oleh peran AS dalam kudeta Mossadegh.

2002 – Presiden George W Bush menyatakan Iran, Irak, Korea Utara, sebagai poros kejahatan. Para pejabat AS menuduh Iran mengoperasikan program senjata nuklir rahasia.

Sebuah kelompok yang menentang pemerintahan di Iran mengungkapkan, Iran memiliki dua fasilitas nuklir rahasia yang sedang dibangun, yaitu pabrik pengayaan uranium di Natanz dan reaktor nuklir water-moderated di Arak.

2006 – AS menyatakan bersedia bergabung dalam pembicaraan nuklir multilateral dengan Iran jika negara itu terbukti menghentikan pengayaan nuklir.

Mei 2007 – Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki dan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice berbincang di sela konferensi di Mesir.

Desember 2007 – Sebuah lembaga AS, National Intelligence Estimate, mengungkap dengan yakin bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir hingga musim gugur 2003.

2008 – Presiden AS George W Bush untuk pertama kalinya mengirim seorang pejabat, Wakil Menteri Luar Negeri Bill Burns, untuk ambil bagian dalam negosiasi nuklir dengan Iran di Jenewa, Swiss.

2009 – Presiden AS Barack Obama mengatakan akan mengulurkan tangan jika para pemimpin Iran mengepalkan tinju, serta membujuk negara Barat dengan mengatakan bahwa Iran tidak mengembangkan bom nuklir.

2009 – Inggris, Prancis, dan AS mengumumkan Iran sedang membangun situs pengayaan uranium rahasia di Fordow, dekat kota suci muslim, Qom. Iran menyatakan pihaknya membuka fasilitas itu kepada pengawas nuklir PBB pada awal Januari 2016.

2009-2012 – Perundingan nuklir beberapa negara dengan Iran macet.

2012 – Undang-undang AS memberi Obama kekuatan untuk menjatuhkan sanksi kepada bank asing, termasuk bank sentral negara sekutu AS, jika mereka gagal mengurangi impor minyak dari Iran secara signifikan. Hasilnya Iran mengalami penurunan penjualan minyak secara drastis yang dampaknya memukul telak perekonomian negara itu.

2012 – AS dan pejabat Iran memulai pembicaraan rahasia yang intesif pada 2013 terkait masalah nuklir.

2013 – Hassan Rouhani terpilih sebagai presiden Iran dan berjanji meningkatkan perekonomian dan hubungan dengan dunia. Hal itu hanya bisa dicapai dengan keringanan sanksi program nuklir Iran.

Pada 28 September 2013, Obama dan Rouhani berbicara melalui telepon. Itu merupakan hubungan pejabat tertinggi antara kedua negara dalam 30 tahun terakhir.

Pada 23 November, berdasarkan perundingan rahasia, Iran dan enam negara kekuatan besar mencapai pakta sementara yang disebut Joint Plan of Action (JPOA). Isinya Iran setuju menekan pengembangan nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi. Keenam negara itu adalah AS, Inggris, China, Prancis, Jerman, dan Rusia.

Pada 14 Juli 2013, kesepakatan diteken, di mana Iran setuju mengambil langkah tegas antara lain memangkas jumlah bahan baku nuklir dan melumpuhkan bagian kunci dari reaktor nuklir di Arak, sebagai imbalan atas keringanan sanksi signifikan dari AS, PBB, dan Uni Eropa.

Kesepakatan itu disebut Joint Comprehensive Plan of Action atau Rencana Aksi Komprehensif Gabungan(JCPOA).

(2016)

Pada 14 Januari 2016, Iran membebaskan 10 pelaut AS kurang dari 24 jam setelah ditangkap. Mereka berada di dua perahu yang masuk ke wilayah perairan Iran.

Pada 16 Januari, AS dan Iran mengumumkan pertukaran tahanan. Empat orang AS yang dipenjara di Iran dibebaskan dengan imbalan grasi untuk setidaknya tujuh warga Iran, kebanyakan merupakan warga negara AS-Iran, yang dihukum atau menunggu pengadilan di AS. Orang Amerika kelima dilepaskan secara terpisah.

Kemudian, Badan Energi Atom Internasional menegaskan Iran mengambil langkah untuk membatasi kegiatan nuklirnya yang diperlukan di bawah kesepakatan JCPOA. AS mencabut sanksi terkait nuklir terhadap Iran.

(2017)

18 April – Trump menandatangani JCPOA yang berlaku untuk tiga bulan. Ketika pertama kali menghadapi kesepakatan nuklir Iran, pemerintah Trump menyatakan Iran mematuhi janjinya.

17 Juli – Trump menandatangani JCPOA selama tiga bulan. The New York Times melaporkan, Trump dengan berat hati menyatakan Iran mematuhi kesepakatan. Dia mengindahkan nasihat dari sebagian besar penasihatnya.

28 September – Iran menyatakan mundurnya AS bisa mengakhiri kesepakatan untuk semua orang. Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dapat menarik diri dari kesepakatan jika AS melakukannya terlebih dahulu.

11 Oktober – Uni Eropa secara agresif melobi kesepakatan nuklir Iran. Negara-negara Eropa yang menandatangani JCPOA sangat mendukung perjanjian dan mulai menyusun strategi untuk melanggengkannya. Fokus strategi Eropa adalah melobi para pembuat undang-undang AS. Perdana Menteri Inggris Theresa May secara pribadi menelepon Trump pada 10 Oktober dengan harapan agar AS tetap pada kesepakatan.

13 Oktober – Langkah resmi pertama Trump untuk mengakhiri kesepakatan nuklir Iran. Presiden Donald Trump membatalkan JCPOA. Keputusan itu memberi Kongres AS waktu 60 hari untuk menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran yang dihapus berdasarkan perjanjian internasional 2014. Namun Kongres AS tidak pernah mengambil tindakan.

(2018)

11 Januari – Trump memperpanjang JCPOA selama 120 hari untuk terakhir kalinya. Pemerintahan Trump menahan sanksi keras terhadap Iran untuk memberikan kesempatan kepada Uni Eropa dan Kongres AS memenuhi tuntutannya.

16 Maret – Negara-negara Uni Eropa mempertimbangkan sanksi baru terhadap Iran untuk mempertahankan AS dalam kesepakatan nuklir Iran. Reuters melaporkan, Inggris, Prancis, dan Jerman menyusun dokumen yang mengusulkan sanksi terhadap program rudal balistik Iran.

Rudal balistik bukan bagian dari perjanjian nuklir, namun pemerintahan Trump menyatakan rudal ini digunakan untuk mendestabilisasi kawasan, Yaman dan khususnya Suriah. Prancis secara khusus berusaha melobi dan menenangkan pemerintahan Trump.

3 Mei – Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak Trump agar tidak keluar dari kesepakatan. Berbicara kepada BBC, Guterres mengatakan ada risiko perang jika perjanjian 2015 tidak dilanjutkan.

4 Mei – Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, tuntutan AS untuk mengubah kesepakatan itu tidak dapat diterima.

8 Mei – Trump mengumumkan mundur dari JCPOA. Dia menyebut kesepakatan itu sudah busuk dan memalukan baginya sebagai warga negara.

Trump juga menegaskan akan menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran, yang dibatalkan ketika kesepakatan itu ditandatangani pada 2015. Dia juga mengatakan tak akan membiarkan AS diancam oleh negara yang pernah menyebut ‘Death to America’ tersebut.

Sanski baru AS terhadap Iran sedianya akan diumumkan pada Selasa (7/8/2018).(idr)

Most Popular

To Top