Ibukota

Kalijodo di Jaman Anies Bikin Meringis, Kondisinya Tragis, Banyak Sampah Bau Amis

Kalijodo. Nama itu begitu fenomenal. Mulai terkenal sejak abad 16. Tempat yang dulunya jadi ajang cari jodoh, transaksi ekonomi rakyat Batavia, hingga menjadi lokalisasi prostitusi. Lalu disulap Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi sebuah taman yang indah.

Kamis siang (26/7/2018) matahari baru bergeser dari tengah. Panasnya terasa begitu menyengat. Peluh membasahi wajah dan leher Yuswadi, seorang pengemudi ojek online. Jaket hijaunya pun sebagian basah oleh keringat.

Yuswadi menepikan kendaraan roda duanya di sebuah pos peristirahatan di Taman Kalijodo yang terletak di Jalan Kepanduan II, Kelurahan Pejagalan Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara itu.

Warga Bekasi ini baru saja mengantar seorang penumpang hasil ngebid dari kawasan Grogol, Jakarta Barat.

Di sebuah bangku pos, Yuswadi berisitirahat sejenak. Jari telunjuknya terlihat menari-nari di touchscreen hp yang baru beberapa hari ia beli. Senyumnya mengembang. Baru setengah hari, sudah 12 poin aplikasi Gojek diraihnya.

Yuswadi bangkit berdiri. Ia ambil botol air mineral di motor. Seperempat air di botol jadi pelepas dahaga. Dahinya mengerenyit. Matanya sedikit menyipit. Ada yang membuatnya heran. Sekejap pandangannya menyapu berbagai sudut taman.

Gersang, kumuh, tak mengenakkan. Begitu yang Yuswadi rasakan. Taman yang usai diresmikan Gubernur Ahok 2017 silam saat itu terlihat bagus dan moderen. Kini, kondisi itu tak ia rasakan.

Pos peristirahatan yang tersebar di sepanjang taman terlihat kusam dan kotor. Cat putih di dinding pos tersebut mulai memudar. Demikian juga dengan Pull up bar.

“Seperti tak terawat. Bikin meringis,” keluhnya.

Warna-warni cat yang menyelimuti besi sebagian terkelupas. Pemandangan ini bisa ditemukan di setiap pull up bar yang ada. “Tragis kondisinya,” ucapnya.

Tong-tong sampah juga minim. Bingkai besi yang diperuntukkan untuk meletakkan tempat sampah pun banyak yang kosong, hanya ada tong sampah berukuran kecil dan jumlahnya pun sangat terbatas. Sampah-sampah pun berserakan. “Ada bau amisnya,” sambungnya.

Kali ini Yuswadi bisa tersenyum. Ada secuil pemandangan yang menyenangkan. Tapi bukan gadis bohay menawan yang menyita perhatiannya. Tapi hiasan tanaman rambat segar berbunga yang sedikit menggodanya.

Beberapa sudut taman ia foto. Tampak tanaman rambat itu sedikit menetralkan pemandangan gersang yang mendominasi Taman Kalijodo.

Yuswadi menilai Taman Kalijodo memang sudah gersang sejak lama. Soal rumput yang mati di sana-sini. Selain kurang perawatan, ulah pengunjung dan pedagang jadi penyebab.

“Bisa aja sih di akhir pekan kan jumlah pengunjung bisa membeludak. Sehingga rumput terinjak-injak. Tapi salah juga kalau nggak ada petugas yang mengawasi,” ujar anggota Ojol Tekab Cabang Bekasi ini.

Belum lagi minimnya jumlah tempat sampah menjadi masalah kala pengunjung yang datang berlibur melebihi kapasitas taman.

“Kurang banget sekarang ini tempat sampahnya. Padahal dulu waktu baru dibuka komplit semua,” tambah Yuswadi.

Senada dengan Monica, seorang pengunjung. Remaja berusia 17 tahun ini sering mampir di Taman Kalijodo. Menurutnya, banyak perubahan di Kalijodo. Sayangnya perubahan itu bukan semakin baik.

“Kurang cantik dan terkesan gersang,” kata.

Padahal, menurutnya, saat dia berkunjung pertama kali ke taman ini setahun silam, kondisinya masih cantik.

“Baru-baru aja kelihatan seperti ini,” kata Monica.

Tak hanya rumput, sejumlah fasilitas yang terdapat di taman tersebut juga, ujarnya, terlihat tak terurus.

Beda lagi dengan Rainan. Justru petugas kebersihan di Taman Kalijodo ini tak terima ketika ada yang menyebut taman ini kurang terurus. Ia menyebut setiap hari petugas kebersihan terus menyirami tanaman yang ada di seluruh taman.

“Rumput botak begini karena habis diinjak pengunjung dan pedagang,” cetus Rainan.

Kepala pengelola dan keamanan Kalijodo Jamaluddin mengakui masalah-masalah di Kalijodo. Namun ia membela diri bahwa pengelola sudah berusaha sekuat tenaga merawat taman.

Hanya saja, ia menilai kemarau panjang dan perilaku pengunjung yang sulit diatur membuat taman tak lagi seelok dulu.

Kalijodo, dulu tempat ini disebut Kali Angke dan menjadi lokasi dilaksanakannya tradisi Peh Cun pada tahun 1600an.

Salah satu tradisinya adalah pesta air yang diikuti muda-mudi laki-laki dan perempuan sambil menaiki perahu melintasi Kali Angke.

Ketika seorang laki-laki suka dengan seorang perempuan yang ada di perahu para perempuan, ia akan melemparkan kue tiong cupia yang terbuat dari campuran terigu dan berisi kacang hijau.

Jika perempuan tersebut juga suka, maka ia melemparkan kue yang sama kepada si laki-laki.(***)

Most Popular

To Top