Ibukota

Dituding jadi Penyumbang debu Polusi Terbesar, Motor di Jakarta Bakal Kena Aturan Ganjil Genap

Ayonews, Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI telah mensahkan aturan ganjil genap untuk mobil di beberapa ruas jalan ibukota. Bahkan, menjelang Asian Games 2018 ini, aturan tersebut diperluas ke beberapa ruas jalan lainnya.

Saat ini tengah ramai bakal ada aturan serupa khusus untuk pemotor yang melintas di jalanan Jakarta.

Usulan ini dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menyarankan pemerintah memberlakukan guna memperbaiki kualitas udara di Jakarta,.

Hal tersebut didasari oleh fakta bahwa penyumbang debu partikular PM 2,5 terbesar adalah sepeda motor.

Waktu itu saat kami koordinasi, saya sudah omongin, saya minta motor juga diberlakukan, tapi sampai saat ini, teman-teman dari instansi terkait lainnya masih fokus di kelancaran arus lalu lintas, belum berfokus ke kualitas udara,” ujar Dasrul Chaniago, Direktur Pengendalian Pencemaran Udara di Jakarta.

Ia pun berasumsi, jika ada peraturan ganjil genap untuk motor, kualitas udara di Jakarta bisa membaik hingga 40-50 persen.

“Saya yakin bisa sampai 40-50 persen, kalau sekarang (konsentrasi PM 2,5) itu rata-ratanya 40 mikrogram, kita berharap nanti (jika diberlakukan) ada di posisi 20-25 mikrogram,” lanjutnya.

Pernyataan senada juga dilontarkan oleh Karliansyah, Direktur Jendral Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian LHK.

Ia mengatakan, terlihat kecenderungan peningkatan kualitas udara yang besar jika adanya peraturan tersebut.

“Jika nanti motor bisa dikendalikan, itu penurunannya pasti luar biasa,” ujar Karliansyah.

Namun, ia mengatakan, ide tersebut baru berupa usulan.

Pembatasan kendaraan bermotor, dinilai KLHK, merupakan cara paling efektif untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta.

Karliansyah mengilustrasikan, saat masa libur lebaran 2017, adanya penurunan konsentrasi PM 2,5 sebesar 61,26 persen, di angka 14,8 mikrogram.

Sedangkan di tahun 2018, konsentrasi PM 2,5 di masa cuti lebaran ada di angka 30 mikrogram.

Hal tersebut menurut Karliansyah diakibatkan banyaknya proyek pembangunan infrastruktur di wilayah Jakarta.(Yuswadi/WRC Bekasi)

Most Popular

To Top