Korupsi

Astaghfirullah, Wakil Ketua Komisi VII DPR ini Sebut Duit Suap itu Rejeki

Ayonews, Jakarta 

Anggota DPR dari Partai Golkar, Eni Maulani Saragih curhat melalui sebuah tulisan tangan usai  ditahan KPK. Dalam tulisannya, Eni membantah mengintervensi proyek PLTU Riau-1.

Eni ditangkap KPK karena diduga menerima suap dari Johannes Budisutrisno Kotjo. KPK menyebut Eni menerima suap dari Johannes selaku pemegang saham perusahaan Blackgold Natural Resources Limited yang terlibat dalam proyek PLTU Riau-1.

Tak lama setelah ditahan KPK, Eni menuliskan surat yang berisi penjelasan panjang lebar tentang perkara yang menjeratnya. Surat yang terdiri dari 2 lembar kertas bertuliskan tangan itu dititipkan pada pengacaranya.

“Beliau tulis tangan sendiri kemudian diserahkan kepada kami pada saat kunjungan,” ucap pengacara Eni, Fadli Nasution, Selasa (17/7/2018).

Berikut isi surat Eni:

Halaman pertama:

Proyek PLTU 2×300 Riau I yg saya lakukan adalah membantu proyek investasi ini berjalan lancar ini bukan proyek APBN.

Proyek Riau I, proyek dimana negara melalui PLN menguasai saham 51%, tidak ada tender maka dari itu tidak ada peran saya utk mengintervensi untuk memenangkan salah satu perusahaan dari proyek 35 ribu MW, baru Riau I yang PLN menguasai saham 51%. PLN hanya menyiapkan equity 10%, lebihnya PLN akan dicarikan dana pinjaman dengan bunga yg sangat murah 4,25%/th, harga jual ke PLN pun murah sekitar 5,3 sen sehingga di yakinkan kedepan PLN akan dapat menjual listrik yg murah kpd rakyat, saya merasa bagian yg memperjuangkan proyek Riau I ini menjadi proyek “Contoh” dari proyek 35 ribu MW, yg semua kondisinya baik, harga bagus, negara menguasai, biaya sangat rendah, di bandingkan dengan PLTU “BATANG 2×1000”, saya pernah kunker disana bersama kom 7, investasi proyeknya mahal 5,2 M dollar, full swasta negara tidak ada sama sekali sahamnya, harganya pun mahal diatas 5 sen, pdhl dengan proyek yg sangat besar ini 2×1000, seharusnya harga bisa dibawah 5 sen, dan yg luar biasa lagi negara menguasai proyek ini sampai 30 thn, tanpa ada kepemilikan negara di proyek ini – NOL – ada apa dengan proyek ini makanya saya perjuangkan proyek Riau I krn saya yakin ada sesuatu yg saya lakukan buat negara ini.

Pak Jokowi bpk presiden mohon jangan digagalkan model proyek Riau I ini krn model ini yg bapak mau.

Halaman kedua:

Banyak tangan atau kepentingan segelintir orang yg tdk mau model seperti ini bisa jalan mereka tidak mau negara menguasai aset (51%) mereka hanya mau kepentingannya saja.

Saya mohon Bpk Presiden turun tangan maju dgn proyek 35 ribu MW.

Ada lagi yg lebih gila lagi Proyek Paiton diatas 9 sen, luar biasa gilanya.

Saya membantu Riau I, karena saya tahu semangatnya Pak Kotjo dan Pak Sofyan Basyir adalah semangatnya buat negara, semuanya di press, di tekan agar hasil jualnya ke PLN menjadi murah dengan begitu listrik buat rakyat pun menjadi murah. 

Kesalahan saya, karena saya mengaggap pak Kotjo teman, satu tim, bukan orang lain sehingga kalau ada kebutuhan yg mendesak saya menghubungi beliau untuk membantu sponsor kegiatan organisasi, kegiatan umat maupun kebutuhan pribadi, dan pak Kotjo pun membantu karena mungkin beliau beranggapan yg sama kepada saya.

Kesalahan saya juga adalah merasa kalaupun ada rezeki yg saya dapat dari proyek ini karena saya merasa proyek ini proyek investasi dimana swasta menjadi agen yg legal, proses dari proyek ini benar, kepentingan negara no I (krn menguasai 51%), rakyat akan mendapatkan listrik murah (krn harga jual ke PLN murah), sehingga kalaupun ada rezeki yg saya dapat dari proses ini menjadi halal dan selalu saya niatkan utk orang2 yg berhak menerimanya.

Saya mengakui ini salah karena saya sebagai anggota DPR (karena jabatan saya melekat) dan kesalahan ini akan saya pertanggungjawabkan di depan hukum dan di hadapan Allah SWT.

Jakarta, 15 Juli 2018
Eni Maulani Saragih

Most Popular

To Top