Ekonomi

Indonesia Disebut Negara dengan Utang Paling Berisiko di Asia

NEW YORK, AYOnews.com – Indonesia bersama India masuk dalam negara dengan tingkat utang paling berisiko di kawasan Asia. Tak heran, mata uang kedua negara itu melemah cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dilansir Bloomberg, Selasa (29/5/2918), risiko tersebut terlihat dari eksposur utang luar negeri dan cadangan devisa yang dimiliki untuk meng-cover eksposur itu.

Dalam indeks Moody’s Investor Service’s external vulnerability, rasio utang Indonesia terhadap cadangan devisa mencapai 51 persen sementara India mencapai 71 persen. Dalam indeks itu, utang tersebut mencakup utang jangka pendek, jatuh tempo utang jangka panjang, serta tabungan nonresiden.

Menariknya, Malaysia dan Filipina yang masuk dalam daftar negara dengan utang paling berisiko justru depresiasi mata uangnya tidak terlalu dalam. Ringgit Malaysia bahkan masih positif terhadap greenback sementara Peso Filipina mencatat kinerja terburuk kedua di Asia setelah melemah 5 persen terhadap dolar AS.

Makin ketatnya likuiditas global membuat pembayaran utang berdenominasi dolar AS semakin mahal dan memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara-negara emerging market. Moody’s menyebut, sejumlah negara seperti Indonesia dan Filipina, imbal hasil (yield) obligasi pemerintahnya menanjak. Kondisi ini dinilai mirip dengan taper tantrum pada 2013.

Dalam riset sebelumnya, Moody’s juga menyoroti kurs rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS. Jika terus berlanjut, ekonomi Indonesia secara keseluruhan akan terdampak. Menurut Moody’s,rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang mencapai 40,1 persen pada akhir tahun 2017 memberikan tekanan terhadap rupiah.

Selain itu, rasio pembayaran bunga utang yang mencapai 11,7 persen dari total belanja negara juga menjadi sorotan karena lebih rendah dari median negara-negara dengan rating Baa 8,2 persen. Rating utang Indonesia saat ini diganjar Baa oleh Moody’s. Tak tertutup kemungkinan jika kondisi ini tidak segera diatasi, akan memberikan konsekuensi negatif terhadap rating utang Indonesia.

iNews.id

Most Popular

To Top