Hukum & Kriminal

Ini Alasan Polisi Tak Langsung Menyerbu Napi Teroris di Mako Brimob

JAKARTA, AYOnews.Com
Sejak pecah kerusuhan pada Selasa (8/5/2018) malam, drama penyanderaan polisi di rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, berlangsung 36 jam. Peristiwa yang berujung gugurnya lima anggota Polri itu baru berakhir pada Kamis (10/5/2018) pagi.

Selama dua malam sejak Selasa itu, polisi terus menunggu. Banyak yang mempertanyakan, mengapa Polri dengan kemampuan senjata lebih hebat dan pasukan lebih banyak tak merangsek ke dalam blok yang dikuasai narapidana (napi) terorisme.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menuturkan, begitu mendapat informasi terjadi kerusuhan, dirinya langsung berkoordinasi dengan kepala Densus 88 Antiteror Polri, komandan dan wakil komandan Korps Brimob di tempat kejadian perkara. Tito juga memerintahkan Kapolda Metro Jaya dan Kabareskrim Polri untuk melaksanakan operasi di lapangan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, napi terorisme merampas beberapa senjata.

Kemudian saya memberikan instruksi untuk segera dilakukan perimeter. Artinya, pengepungan dengan kekuatan cukup besar. Di dalam ada 155 orang dan ada 1 bayi juga. Di dalam anggota disandera. Jumlah anggota yang mengepung 800 hampir 1.000 orang, saya kira cukup, kata Tito di Mako Brimob, Kamis (10/5/2018) petang.

BACA JUGA: Drama 36 Jam di Mako Brimob, Detik-Detik Mencengangkan

Tito menuturkan, situasi itu juga dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo. Presiden memberikan instruksi tegas bahwa negara tidak boleh kalah dengan terorisme. Presiden juga memerintahkan agar Kapolri mengambil tindakan tegas yang diperlukan.

Menurut Tito, saat itu polisi memiliki dua opsi: langsung masuk (menyerbu) atau memberikan warning (peringatan/ultimatum) beberapa waktu. Opsi ini muncul karena polisi mengetahui bahwa 155 napi dan tahanan teroris itu tidak satu gerakan.

Ada kelompok pro dan kontra. Ada yang ingin kekerasan, ada yang tidak ingin. Itu yang jadi opsi kita agar jangan ada korban banyak, padahal ada yang gak ingin kekerasan, kata dia.

Berdasarkan hal ini, Tito kembali melaporkan kepada Presiden. Kepala Negara kembali menggariskan agar dilakukan tindakan yang diperlukan. Atas dasar itu, polisi memilih opsi memberikan peringatan selama beberapa waktu.

BACA JUGA: Napi Teroris Serahkan Diri, Operasi di Mako Brimob Berakhir

Seperti diketahui, sejak Selasa malam hingga Rabu malam itu polisi berupaya mengendalikan situasi. Polisi melakukan negosiasi dengan napi teroris agar berupaya membebaskan sandera.

Kita kasih warning. Sepanjang malam itu warning sudah disampaikan dan alhamdulillah 1 sandera anggota polisi, Brigadir Iwan Sarjana pukul 12 malam (Rabu) dilepas. Besok paginya mereka kemudkan keluar menyerahkan diri, kata mantan Kapolda Metro Jaya ini.

Tito menuturkan, alasan lain mengapa polisi tidak langsung mengambil opsi pertama dan memberikan waktu kepada para teroris 1×24 jam agar mereka menyerahkan diri baik-baik. Ini sesuai standar internasional.

Menurut dia, ada dua peristiwa di Mako Brimob. Pertama, penyerangan kepada petugas yang mengakibatkan 5 orang gugur dan satu dari teroris tertembak. Kedua, penyanderaan dengan satu anggota Polri yang masih hidup.

Dalam teori penanganan penyanderaan, indikator keberhasilan itu adalah kalau sandera hidup. Kalau sanderanya mati, gagal. Alhamdulillah sander bisa hidup, kata mantan Kepala BNPT ini.

BACA JUGA: Insiden di Mako Brimob Dinilai Bukan karena Masalah Makanan

Alasan ketiga, dengan memberikan kesempatan kepada para pelaku untuk menyeragkan diri, polisi dapat melakukan proses hukum.

Jadi proses hukum kita laksanakan, ini harus dibedakan antara kita (Polri) yang bersenjata tapi memiliki aturan, dengan teroris. Mereka memang tidak mengikuti aturan, membunuh sembarangan. Kita tidak. Kita mngikuti aturan, kata dia. Tito mengungkapkan, seandainya para napi teroris tidak bersedia menyerah, polisi akan bertindak tegas.

Opsi kita jelas dan Bapak Presiden sangat tegas perintahnya kepada saya kalau seandainya tidak ada opsi lain tegas saja Bapak Kapolri dan saya sampaikan, Siap Pak akan saya laksanakana. Jadi kita akan bertindak tegas dan opsi itu dilakukan, kita (sudah) persiapkan plan B-nya, papar dia.

M.Daru Virgo Santoso
WWW.inews.id

Most Popular

To Top