Business

Laba Turun, Saham Anjlok, Pengurus PT PGN Minta Naik Gaji, Menteri BUMN Parah!

Ayonews, Jakarta
Kondisi anak perusahaan PGN, PGAS semakin mengkhawatirkan.
Publikasi laporan keuangan semester I 2017 PT Perusahaan Gas Negara, pada saat menjelang akhir hari libur Idul Adha, nyatanya tidak mampu menahan. PGAS yang semakin hari semakin mengkhawatirkan para para saham.

Ketua Forum Jurnalis Jakarta, Ahmad Yuslizar

Dalam tempo 5 hari para investor saham PGAS telah mengalami kerugian sebesar Rp 380 per sahamnya. Sayangnya hal ini tidak menarik perhatian OJK atau Kementrian Keuangan. Sudah cukup banyak.

Ketua Forum Jurnalis Jakarta, Ahmad Yuslizar mengatakan, penurunan kinerja PGAS ini sudah dimulai sejak lama dimana saat itu PGAS diperdagangkan pada kisaran enam ribu rupiah per sahamnya. Sejak itulah PGAS terus terdilusi hingga menembus Rp. 2000 per saham pada Senin, 4 September 2017.

“Kondisi ini menggelisahkan sebagian besar pemegang saham karena mereka menganggap angka 2000 ini sebagai batas terbawah dan tentu saja yang terlewati hampir pasti PGAS menuju Rp 1000 per saham atau bisa kurang dari itu” kata Yos sapaan akrabnya.

 

Menurut Yos, kinerja PGAS yang terus merosot ini luput dari perhatian berbagai pihak yang semestinya mengawasi. Tidak ada komentar dari OJK mungkin karena pimpinannya masih baru dan masih perlu banyak belajar. Lepas kalau kita klik halaman OJK disitu jelas tertulis tujuan OJK yang ke 3 adalah mampu melindungi konsumen dan masyarakat. Nyatanya, investor PGAS, baik sebagai konsumen pasar modal maupun masyarakat, sudah dirugikan. Jadi kapan dan bagaimana mereka akan berpisah jika OJK saja sudah tidak perduli.

 

Forum Jurnalis Jakarta juga menyoroti kinerja menteri keuangan yang tidak merasa dirugikan dengan turunnya saham dan dividen dari PGN selama tahun-tahun menguap triliunan rupiah.

 

“Kementrian BUMN lebih parah lagi, laba dan terus turun terus-pakai kok dibiarkan, kok tidak dicurigai, masa sih tidak ada yang salah dengan kebijakan pengurus perusahaan? Alih-alih ganti, pengurus perusahaan malah diganjar dengan kenaikan gaji yang sudah lumayan juta dan pemberian tantiem yang berharga miliaran rupiah dan tidak pernah turun Sangat sangat dengan harga saham dan laba yang dipercayakan bagi mereka untuk dikelola dengan baik, “tandas Yos

Contoh aksi yang teranyar yang menjadi pertanyaan adalah kondisi lapangan Kepodang, yang disampaikan awal Juni lalu. Lapangan gas yang baru berproduksi akhir 2015 lalu ternyata tidak mampu lagi mengalirkan gas setelah tahun 2018. rindu kontraknya sampai 2026. Lalu bagaimana dengan investasi Saka (anak usaha PGN) yang nilainya puluhan dolar dan bagaimana pula dengan pipa gas Kepodang tambak lorok ada dua juta dolar Memperhatikan investasi bodong Saka di lapangan Kepodang, bagaimana dengan investasi hulu lainnya? Kok tidak ada yang diperiksa?

 

Forum Jurnalis Jakarta juga menyoroti kasus FSRU yang katanya sudah masuk ke Kejaksaan, bagaimana utilisasi FSRU tersebut? Apa yang sudah termanfaatkan secara optimal, misal loh investasinya, belum lagi. Info yang kami punya pernyataan FSRU terserah tapi tidak berlaku sejak 2014. Jika memang demikian kondisinya. PGN semestinya mencontoh manajemen Petronas yang berani megabil keputusan yang sulit demi melindungi pemegang sahamnya. Jangan karena takut diperiksa kejaksaan kerugian dari FSRU terus ditutup-tutupi.

Tindakan dan reaksi cepat di atas. Para investor BEI sangat membutuhkan peraturan dan kepedulian Pemerintah atas dana yang mereka investasikan. (***)

Most Popular

To Top