Pilgub

Demi Demokrasi & Pancasila, Andi Analta Siap Pimpin Sulsel

Hiruk pikuk politik Jakarta selama proses Pilkada DKI 2017 telah berlalu. Bersama mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, Andi Analta Baso Amier (Pua) kenyang menelan pahit getirnya politik. Namun itu tak membuatnya patah arang untuk terus berdemokrasi. Justru ia mau balik kandang. Bertekad jadikan Sulawesi Selatan menjadi contoh kebaikan demi Pancasila Yang Rahmatan Lil Alamin.

Pua panggilan terdekat bagi Andi Analta Baso Amie. Pria bersuku Bugis ini sempat menyita perhatian di Ibukota DKI Jakarta selama musim ini. Pria yang akrab disapa Bang Alla/Pua ini dikenal sebagai abang angkat mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Selama perjalanan Ahok menuju kursi DKI 1, 2016 – 2017, Pua terus setia mendampingi Ahok sekalipun dengan vonis penjara 2 tahun.

Ada cerita seru soal hubungan persaudaraan tak sedarah antara Pua dan Ahok. Berawal di dekade 1970-an, mendiang ayah Ahok, Indra Tjahaja Purnama ((Zhong Kim Nam) dan ibu Buniarti Ningsih (Bun Nen Caw), teman semua, Andi Baso Amier dan Misribu. Pertemuan tak sengaja saat ini saat ayah Alla otoritas kursi Bupati Era 1970an

Setelah pindah ke Jakarta dan menjadi pengurus teras persatuan tenis meja indonesia, dia dekat dengan banyak atlet pimpong dan bulutangkis yang memang kala itu, didominasi turunan Tionghoa.

Sekitar sekitar tahun 1983, lama sebelum Andi Baso Amier, pindah ke kompleks Kalibata Indah, ayah Ahok yang berasal dari Bangka-Belitung, mengucapkan sumpah dengan bangsawan asal Bugis itu.

“Anakmu itu anakku dan anakku adalah anakmu,” begitu bunyi sumpah kedua itu. ”

Kisah sumpah setia ini diceritakan Hajjah Misribu Baso Amier sekitar 2012 kepada Pua. Menurut Misribu, sumpah setia itu dengan cara menyatukan tiga tangan di ruang tengah rumah di Jl Bulutangis, Senayan.

“Tangan Mami saya (Misribu), tangan Ayah dan Ahok ditumpuk lalu berikrar, sehidup semati,” tutur pria yang sehari-hari bersorban ini. Juga seperti Ahok sendiri sampaikan dengan kalimat. “Ikatan saudara sehidup sedunia-akhirat.

Bisnis

Sejatinya, latarbelakang salah satu ponakan mendiangan Jenderal M. Yusuf itu adalah murni pengusaha. Sebelum lulus kuliah Pua memantapkan diri menjadi pengusaha walupun tawaran fasilitas relasi ayahnya terbuka lebar menjadi PNS akan tetapi semangat berwiraswasta lebih besar dan terbukti dengan membuat Yayasan Tunas Wirausaha Indonesia dan Bisnis Advisory . Bakat bisnisnya ini sudah ada sejak ia masih bersekolah dan duduk di bangku SMA.

Selepas SMP 115 Tebet Jakarta, Pua sudah membiayai sendiri biaya sekolahnya di SMA 6 Bulungan.

“Teman-teman sekolah sendiri yang menjadi pelanggan jasa foto, fotocopy dan Sablon saya, “uangkapnya.

Setelah lulus kuliah dari Fakultas Hukum UKI Salemba 1987, Pua mendirikan perusahaan kontraktor dan salah satu proyeknya sebagai sub kontraktor pembuatan jalan layang disalah satu ruas di kawasan Tomang sekarang depan Mall Taman Anggrek.

Masih banyak bidang usaha bisnis yang  pernah ia geluti. Mulai dari pabrik sepatu dari Kawasan Industri Pulogadung dipindahkan ke Bantargebang Cikiwul, juga di bidang Supplier di Babek ABRI, Mesin penyulingan air asin menjadi air minum (marine desaltor), bidang pariwisata, dan lain-lainnya.

Karena ekspansi bisnis yang terlalu cepat dan banyak bidang serta pendelegasian penuh membuat Pua mengambil kebijakan untuk tidak membebani kepada teman teman setianya seperti Ahok. Adik kandungnya itu dimotivasi untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Prasetia Mulia agar kelak menjadi konglomerat.

“Eh memang takdir yang berbicara lain malah lebih besar dengan menjadi seorang Gubernur Jakarta,” ucapnya.

Mengikuti perjalanan Ahok di Pilkada DKI, secara tak langsung Pua ikut berpolitik. Dari sinilah, ia mulai melibatkan diri dalam dunia politik. Pua melihat langsung bangaimana politik itu kejam. Dia menilai, selama perjalanan pesta demokrasi Pilkada DKI, agama dijadikan komoditas lawan-lawan politik untuk menjegal Ahok untuk ditumbangkan dengan cara yang tidak terhormat.

Meski Ahok sudah divonis penjara, tentu saja ia pun mengaku akan terus mendukung dan memberi semangat Ahok.

“Sudah sejak awal kita mendukung dan memberi dukungan untuk Ahok. Kami yakin Ahok tidak seperti apa yang dituduhkan,” katanya.

Menurut Pua dukungan ini juga diberikan sebagai bagian dari amanah fakta Andi Baso Amier, dan ayah Ahok, Indra Tjahaja Purnama, agar anak-anak saling membantu dalam kebaikan.

“Sudah sejak awal saya punya tanggung jawab moril. Ini amanah dari senior kandung,” ujarnya

Seruan

Setelah Pilkada DKI, Sulawesi Selatan yang menjadi tanah kelahiran Pua menjadi pusat perhatiannya. Ada yang menjadi perhatian khusus terhadap Provinsi yang dikenal dengan adanya 4 suku, Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja (GisMaDarTo). Nah, singkatan GisMaDarTo ini sempat dijadikan trend oleh ayah Pua.

“Yang orang yang belajar bersyukur atas karunia Allah, pertimbangan ini mulai dari trah sampai materi dan di dalamnya ada kejadian nasional dan internasional, inilah yang dimaksud oleh Pua sebagai panggilan atau seruan untuk ikut serta dalam Pesta Demokrasi dan mempraktikkan Pancasila sebagai sumber segala hukum bernegara,” urainya.

Pua bertekad untuk mewujudkan Sulawesi Selatan sebagai prototipe bagi provinsi lainnya di seluruh indonesia. Hal dalam ekonomi, sosial dan budaya. Apalagi, dengan adanya trah bangsawan, Alla mewarisi darah biru sebagai raja yang adil, arif dan bijaksana.

“Ini bagian proses untuk mengabdi dan memberi manfaat kepada masyarakatnya. Berdemokrasi dan mempraktikan pancasila. Mewujudkan Sulsel yang maju,” paparnya yakin.

Alla berpendapat, politik bukan ajang untuk ajang untuk balas dendam. Menurutnya politik itu segala sesuatu yang berhubungan dengan kepedulian dan empati terhadap orang banyak atau mengorbankan kepentingan pribadi/keluarga untuk kemaslahatan orang banyak (masyarakat).

“Harus mau berkorban untuk kepentingan orang banyak. Nilai politik itu ada dalam diri Rosululloh. Politik itu harus suci sedikit saja ditunggangi niat jelek, politik jadi kotor. Orang banyak dikorbankan, agama buat alat politik, akhirnya jadi kotor,” ucapnya.

Pelajaran untuk mengedepankan kepentingan orang banyak ini sudah mulai mulai dari kecil. Saat duduk di bangku SD. Sebagai orang berdarah bangsawan tentu saja Pua hidup lebih dari kecukupan. Namun lingkungan sosial untuk lebih mengedepankan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi.

Hal kecil yang ia lakukan saat usia 7 tahun atau kelas 1 SD. Pua tidak ingin diantar sopir ke sekolah menggunakan kendaraan pribadi. Bilapun ia dipaksa mau diantar ke sekolah tetapi ia meminta kepada sang sopir untuk tidak turunnya di depan pintu sekolah, tapi jauh dari sekolah kemudian ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

“Ini sebuah kepedulian sosial. Saya ingin merasakan sama dengan yang lain datang ke sekolah dengan berjalan kaki, walaupun kami punya,” ucap Pua.

Selain berusaha untuk kepentingan sosial, Pua berusaha untuk menjadi seorang yang mandiri.

Sebagai anak laki-laki, Pua muda juga beberapa berkelahi. Bahkan ia menantang untuk dikeroyok. Kebetulan ia tinggal di Jl Amanagapa, Ujung Pandang depan ada komplek guru (SPG) dan PM. Ia suka berkelahi dengan anak-anak di kedua komplek itu. Tapi bukan tawuran. Duel satu lawan satu.

“Duelnya fairness Saya dikaruniai bukan lelaki macho Tapi kalau berkelahi, saya tidak mundur, pernah di Lapangan Karebosi, tempat main bola jadi ajang duel. Saat berjalan menuju Karebosi saya dikawal musuh dan teman. Disana berkelahi sampai kelenger,” kisahnya.

SDM Sulsel
Tapi itu masa lalunya. Kini pria yang tiap hari bersorban ini menatap tanah kelahirannya Sulsel. Ia ingin kembali ke Sulsel. Ia ingin membangun Sulsel. Dengan bekal pengalaman Pilkada DKI, Pua bertekad untuk mercusuarkan Sulsel.

“Sulsel itu tidak ada yagn kurang, cuma penaganannya selama ini kurang serius saja. Saya berfikir lagi penanganan provinsi ini harus lebih profesional Masih banyak masalah yang tak tertangani dengan baik. Alam Sulsel itu kaya. Budaya yang beragam. Soal SDM, jangan ditanya. Orang Sulsel berkiprah dalam membangun bangsa dan negara ini, “ujarnya.

Menurut Pua, selama ini hasil alam di Sulsel belum dieksploitasi atau diolah dengan baik. Ia mencontohkan soal industri pariwisata di Sulsel.

“Semakin ke belakang jumlah turis yang datang ke tempat wisata budaya ini semakin sedikit dan berkurang, dari tahun ke tahun. Lepas, soal wisata ini banyak view-view menarik di wilayah wisata untuk dibangun, “jelasnya.

Soal SDM, lanjut Pua, masyarakat Sulsel 95% rajin mengkonsumsi ikan. Tentu saja intelijensinya relarif lebih baik (smart). Mental untuk bekerja cukup baik. Sayangnya, pembangunan SDM ini tidak mendapat prioritas. Lepas, SDM ini yang menentukan aspek pembangunan lainnya.

“Yang saya catat banyak peluang-peluang bisnis tidak dikelola secara optimal. Sulsel itu pernah menjadi lumbung beras nusantara dengan swasembda beras,” paparnya

Soal budaya ini, Pua mengatakan bahwa budaya di Sulsel itu banyak dipengaruhi dari China turun lewat Thailand Raja Campa. Menurutnya, banyak pengaruh budaya dari India juga cukup besar. Sementara pengaruh Islam datang melalui ulama-ulama dari Sumbar. seperti Datok Ribandang, Datk Rilau, Datok Ditiro, Datok Patimang dan lain lain (***)

 

Most Popular

To Top