Pilgub

Senjata Pamungkas Ahok Saat Closing Statement Debat Bikin 2 Paslon Lawannya Bertekuk Lutut

Acara Debat Cagub-Cawagub DKI ke III yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan pada Jumat (10/2/2017) malam berlangsung seru. Masing-masing Paslon Gubernur DKI unjuk kebolehan dalam memaparkan berbagai program kerja mereka bila terpilih memimpin ibukota.


Tak jarang mereka saling serang. Bahkan, tak hanya menyasar program yang dibawa masing-masing Cagub-Cawagub. Beberapa kali, Cagub-Cawagub nomor urut 2 yang berposisi sebagai petahana mendapat serangan secara personal.

Debat bertambah seru saat pasangan nomor urut dua Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat tak mau pasrah mendapat ‘serangan verbal’ dari pasangan nomor urut 1 dan 3. Keduanya membalas dengan fakta dan data yang sengaja mereka bawa dalam lembaran kertas.

Ada satu pernyataan Ahok yang tak hanya membuat dua pasangan calon nomor urut satu dan tiga terhenyak tak mampu membalas, tapu juga menghentak ratusan juta mata penonton acara debat dari seluruh Indonesia. Tenyu saja kedua pasangan calon dari nomor urut 1 dan 3 tak bisa membalas. Pasalnya, statetment menohok Ahok itu dilakukan di akhir sesi debat.

Sepertinya kesempatan terakhir itu dimanfaatkan betul oleh mantan Bupati Belitung Timur ini sebagai senjata pamungkas untuk menekuk kedua pasangan lawan yang sebelumnya terus memborbardirnya. Publik pun bersorak. Ahok menang!
Sambil membawa gulungan kertas ukuran A3, Ahok pun menjelaskan gambar itu dengan berkata :

“Ini gambar orang pikir di luar negeri. Bukan! Ini Kalijodo, tempat dulu perempuan diperdagangkan (prostitusi), tempat narkoba diedarkan, tempat anak-anak dipekerjakan. Kami bukan menjual progran. Kami ubah jadi taman seperti ini. Ini kelas Internasional. Jadi memimpin Jakarta seperti hubungan orang tua dengan anak-anaknya. Kami mempunyai peraturan. Kami ingin anak-anak itu sehat dan dididik dengan baik, punya karater yang baik, punya budi pekerti yang baik, orang tua ingin anaknya berhasil. Tapi tolonglah pasangan calon satu dan tiga yang ibarat Om dan Tante yang datang ke rumah, dia pengen dapat simpati sama anak-anak kita lalu semua diboleh-bolehin. Dikasi 1M yang gak jelas, mau dikasi rumah yang murah padahal gak bisa dicicil aja gak mampu…….janganlah karena mau jadi gubernur ini ibarat Om sama Tante merusak aturan yang sudah dibuat oleh orang tua. Mendidik anak itu susah, membangun itu gampang, mendidik anak itu bertahun-tahun. Kami ingin warga Dki yang sudah kami didik dengan baik jangan dirusak gara-gara pengen jadi gubernur saja. Terimakasih.”

 

By Abu Jihad

Most Popular

To Top