Korupsi

Sukses Ciptakan Sistem Jual Obat Murah Anti Gratifikasi, Teganya KPK Seret Siti Fadillah ke Meja Hijau

Ayonews, Jakarta
Mantan Menteri Kesehatan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Siti Fadilah Supari menyampaikan eksepsi (nota keberatan) seusai jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membacakan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 6 Februari 2017.

Oleh jaksa penuntut umum Siti didakwa telah menyalahgunakan wewenang dengan melakukan penunjukan langsung (PL) kepada PT Indofarma sebagai rekanan dalam pengadaan alat kesehatan sehingga menyebabkan negara merugi hingga Rp 6,14 miliar.

Siti juga merasa keberatan dengan dakwaan yang menyatakan dia telah menerima gratifikasi Rp 1,875 miliar dari Direktur Keuangan PT Graha Ismaya Sri Wahyuningsih dan Rp 1,375 miliar dari Rustam Syarifudin Pakaya yang diperoleh dari Direktur Utama PT Graha Ismaya Masrizal Achmad Syarif.

Secara terpisah dengan penasihat hukumnya, Siti mengungkapkan terkait perasaan-perasaan yang dialaminya. Dengan terbata-bata, Siti memohon majelis hakim memberikan waktunya untuk curhat di ruang sidang
“Kok seperti ini, mengapa seperti itu. Apakah boleh?” ujar Siti yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dan telah ditahan sejak 24 Oktober 2016.
Menurut dia, perkara pengadaan alat kesehatan di Pusat Masalah Kesehatan Departemen Kesehatan pada 2005 telah selesai karena tak ada cukup bukti yang menunjukkan keterlibatannya.

Berikut eksepsi lengkap ya g disampaikan Siti di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, (6/2/ 2017):

Yang saya muliakan Majelis Hakim
Assalammualaikum WW
Pertama-tama saya haturkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengajukan eksepsi sederhana ini. Saya hanyalah warga negara biasa yang pernah menjadi Menkes pada tahun 2004-2009 dalam pemerintahan SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono-red). Saya menjadi menteri bukan karena aggota partai apapun juga bukan anggota PAN (Partai Amanat Nasional-red) seperti yang diisukan selama ini. Saya menjadi Menkes yang berasal dari ormas Muhammadiyah.

Bapak dan Ibu Majelis hakim yang saya muliakan.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Bapak dan Ibu dan kepada lembaga-lembaga hukum di negara kita tercinta ini, sebenarnya saya ingin mengungkapkan rasa heran saya terhadap apa yang terjadi pada diri saya saat ini. Seperti Bapak dan Ibu yang Mulia dengarkan apa yang didakwakan kepada saya, benar-benar saya merasa sangat heran kok bisa terjadi seperti itu. Kalau boleh saya ungkapkan, keheranan saya adalah mulai dari dakwaan pertama yang berkaitan dengan kasus dokter Mulia Hasjmy (MH) sudah divonis karena melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama dengan Hasnah, eselon tiga di Depkes.

Di dalam amar keputusan pada bulan Juni 2012 terdapat keterangan dari Majelis Hakim sebagai berikut: “Bahwa tuntutan dari tim pengacara MH yang mengatakan bahwa tindakan Tipikor MH mendapat perbantuan dari Menkes ternyata tidak terbukti”.

Maka Majelis Hakim menolak tuduhan tersebut. Sebagai orang yang awam hukum, saya merasa hal tersebut sudah selesai. Apalagi kejaksaan sebelumnya selalu membalikkan berkas ke Bareskrim Polri karena tidak lengkapnya alat bukti untuk dijadikan P21 terhadap diri saya

. Tiba-tiba pada akhir tahun 2013, berkas perkara saya di Bareskrim dilimpahkan ke KPK. Jubir KPK mengumumkan bahwa status TSK di Bareskrim tidak serta merta menjadi TSK di KPK, karena KPK akan mengulangi pemeriksaan. Namun sampai tahun 2014, saya tidak pernah diperiksa atau dikonfirmasi tentang kasus ini.

Tiba-tiba saja saya mengetahui juga menjadi TSK dalam kasus ini setelah ditahan di Rutan Pondok Bambu dan hanya di-BAP satu kali. Saya sebagai orang awam di bidang hukum hanya bisa kooperatif saja karena saya yakin tidak melakukan apa yang dituduhkan pada diri saya.

Namun di dalam hati saya banyak tanda tanya yang belum bisa mendapakan jawaban sampai saat ini. Apakah referensi Majelis Hakim yang ada di amar keputusan pengadilan MH itu berbeda dengan Majelis Hakim yang lain? Apakah keterangan atau catatan Majelis Hakim dari amar keputusan pengadilan yang mengikat tidak bisa dianggap sebagai fakta hukum yang valid?

Mohon maaf yang setinggi-tingginya Bapak Ibu Majelis Hakim yang mulia. Ini sekedar pertanyaan-pertanyaan dari orang awam di bidang hukum. Saya yakin Bapak dan Ibu Majelis Hakim yang Mulia sangat mumpuni dalam mendalami suatu kasus dengan nurani yang tulus demi keadilan yang harus ditegakkan.
Bapak dan Ibu Majelis Hakim yang saya muliakan,
Masalah yang kedua adalah soal gratifikasi, di mana saya didakwa telah menerima TC (Travel Checque) sebanyak kurang lebih 1,2M rupiah. Demi Allah saya tidak pernah menerima TC dari siapapun dan untuk apa bila ada yang memberikan TC kepada saya. Karena menurut dugaan penyidik, pemberian itu ada hubungannya dengan satu proyek di mana saya tidak mempunyai wewenang apapun di proyek tersebut. Karena nilai proyek di bawah 50M rupiah.

Pada amar keputusan tentang kasus yang terkait dengan proyek tersebut dinyatakan bahwa tidak ada kerugian negara di dalam proses tender proyek tersebut (BPK).
Mohon maaf yang sebesar-besarnya Bapak dan Ibu yang mulia bila saya lancang dalam bercerita ini. Tidak ada niat apapun kecuali untuk menyampaikan hal yang sebenarnya. Saya yakin Bapak dan Ibu Majelis Hakim adalah penegak keadilan yang dirahmati Allah Swt karena apapun yang Bapak dan Ibu akan putuskan tanggung jawabnya adalah kepada Allah Swt. Mudah-mudahan Allah Swt selalu membimbing Bapak dan Ibu Majelis Hakim yang mulia ini.
Bapak dan Ibu Majelis hakim yang Mulia,
Tidak lengkap rasanya bila saya tidak bercerita bagaimana sikap saya terhadap kejujuran ketika memimpin Depkes.
Pada awal saya menjabat Pak Teten Masduki, ketua ICW sempat memberikan apresiasi kepada Depkes yang saya pimpin karena dianggap bersih berdasarkan hasil survei beliau.
Sejak awal menjabat gonjang ganjing bencana alam yang sangat luar biasa mewarnai pemerintahan SBY. Depkes selalu tampil di depan dan prima dalam melindungi rakyatnya di wilayah bencana. Banyak penghargaan internasional terutama dari WHO dan PBB dalam mengatasi tsunami di Aceh.
Di penghujung tahun 2005, Indonesia dirundung wabah flu burung yang menggemparkan dunia. Saat itu Indonesia hampir saja diembargo karena telah diumumkan di CNN bahwa di Indonesia yaitu di tanah Karo telah terjadi human-to-human transmition yang artinya penularan antar manusia.

Dengan perjuangan yang gigih dan tidak mudah akhirnya Indonesia mampu mengatasi wabah flu burung bahkan mengubah/merevisi aturan internasional tentang “virus sharing” di dunia. Sehingga perjalanan virus ganas yang membahayakan dunia melalui wabah bisa dipantau dan dikendalikan dengan transparan.

Kesibukan saya tercurah untuk urusan-urusan seperti itu. Sehingga oleh Sekjen Depkes semua proyek yang akan berjalan, dibuat tidak tergantung pada saya, supaya lancar (saya lebih fokus pada program-program terobosan) dan saya tidak perlu menandatangani sebagai pertanggungjawaban. Maka sangat tidak mungkin saya mengurusi proyek-proyek kecil seperti dakwaan-dakwaan tersebut.
Di dalam negeri, mungkin baru periode 2004-2009 harga obat turun bermakna. Menurunkan harga obat untuk kepentingan rakyat membutuhkan integritas seorang menteri dan menuntut keberanian yang luar biasa untuk menghindari gratifikasi-gratifikasi yang tidak kelihatan. Selain itu memasang HET di tiap kemasan obat agar rakyat membeli obat sesuai dengan harga yang tercantum. Untuk obat-obat bebas pada periode itu ada obat seribu, sehingga rakyat dapat menjangkau obat-obatan bebas.

Untuk mensukseskan program seperti ini sudah pasti sangat jauh dari gratifikasi bahkan pasti dimusuhi bagi yang merasa dirugikan oleh kebijakan ini.

Jamkesmas: Periode itu belum ada BPJS. Depkes yang saya pimpin membuat program yang membuka mata yaitu rakyat miskin mendapat layanan kesehatan gratis dari pemerintah tanpa iuran apapun. Singkat kata, Jamkesmas mendapat alokasi dana 5,1 triliun untuk melayani 76,4 juta rakyat Indonesia (sekarang membengkak menjadi 19T untuk 100 juta PBI di BPJS).

Kala itu dana sebesar 5,1triliun saya titipkan ke kas negara agar selamat dari korupsi siapapun. Meskipun beberapa bank berusaha merayu agar dititipkan di bank, tentu saja dengan memberikan keuntungan, alhamdulillah semuanya bisa ditolak dan dana itu dikelola melalui kas negara.

Sistem ini saya ciptakan agar tidak dikorupsi. Maka dakwaan-dakwaan bahwa saya menerima sesuatu (gratifikasi) sangat tidak relevan atau tidak cocok dengan integritas yang saya miliki dalam memimpin Depkes ketika itu (bisa dilihat dari program-program yang berjalan pada saat itu). Mudah-mudahan gambaran-gambaran yang seperti itu dapat menambahkan wawasan Bapak dan Ibu Majelis hakim yang Mulia dalam mengkaji perkara yang saya hadapi. Yang saya tuliskan ini hanya sebagian kecil karena akan terlalu banyak bila semua saya tulis.
Yang terakhir Bapak dan Ibu Majelis hakim yang Mulia, saya sekarang sudah tua, 67 tahun, hampir 70 tahun dengan segudang penyakit permanen (hipertensi, jantung, arrial-fibrilasi plus Diastolic Dysfuncition, auto-immune disease dengan manifestasi uveris yang menyebabkan glaucoma). Sejak tiga minggu lalu saya sudah mengajukan permohonan untuk operasi mata oleh karena glaucoma (penyebab utama kebutaan di negara maju).
Bapak dan Ibu Majelis hakim yang Mulia,
Saya mohon kebijakannya untuk mengijinkan saya dioperasi segera untuk menghindari kebutaan dan kami mohon maaf bila kondisi badan saya sudah tidak prima karena ketuaan (kami menderita Osteo Arthrertis di tulang belakang sampai dengan tulang ekor) sehingga akan tidak tenang bila duduk terlalu lama seperti saat ini.
Demikianlah yang perlu saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu Majelis hakim yang Mulia. Mohon maaf sebesar-besarnya atas kelancangan saya menyampaikan hal ini kepada Bapak dan Ibu Majelis hakim yang Mulia. Mohon dimaafkan pula bila ada kata-kata yang tidak berkenan, juga tulisan saya yang tidak indah karena terbiasa menulis resep untuk pasien.
Saya terpaksa memberanikan diri untuk menulis dengan tangan karena di Rutan Pondok Bambu tidak diperkenankan membawa laptop dan tidak ada fasilitas laptop yang disediakan.
Hormat kami,
Dr. dr Siti Fadilah Supari SpjP.K.

Most Popular

To Top