Hikmah

Nabi SAW Benci Pada Kekafiran, Tapi Tidak Benci Pada Individu Orang Kafir

Oleh: Mufti Luthfi Yusuf Al-Banjari
Bismillahirrahmaanirrahiim

Ketika seseorang mengucapkan syahadat maka ia menyadari bahwa dirinya sudah berjanji di hadapan Allah, bahwa dia akan sungguh-sungguh menjalankan agama ini.

Perintah yang paling berat di kota Mekah bagi sahabat adalah agar mereka dapat menahan diri mereka dari mengangkat pedang karena ini perintah Nabi Muhammad SAW.

Sama seperti preman yang dihina atau kyainya dihina oleh orang lalu kyai tersebut nyuruh preman itu sabar. Menurut kamu beratan mana bagi itu preman menahan tangannya atau menghujamkan tangannya ke orang itu?

Begitulah sahabat yang mereka diperintahkan harus menahan pedangnya.

Kemudian beliau katakan ;

“ Seseorang tidak akan mampu mengangkat pedang di jalan Allah sebelum ia mampu menahan mengangkat pedang karena Allah ”

Sebagaimana Ali R.A ketika ia hendak menebas leher musuhnya di medan perang lalu musuhnya meludahi. Ketika itu pula Ali R.A meninggalkan musuhnya yang akan ditebas. Melihat hal itu sang musuh mengejarnya dan bertanya kepada Ali RA karena tidak jadi menebasnya.

Lalu Ali R.A menjawab ;

” Aku tidak jadi menebasmu karena aku takut ketika kamu meludahiku timbul rasa marah sehingga aku takut niatku membunuh karena Allah ternodai oleh nafsu amarahku ”

Esensinya, menangan bukan dengan menebas leher musuh dengan ujung pedang. Kemenangan dalam Islam yaitu ketika melihat manusia masuk Islam berbondong-bondong. Inilah yang namanya kemenangan dalam Islam, bukannya membunuh manusia, tetapi melihat manusia masuk ke dalam Islam.

Kemudian ustadz Luthfi katakan ;

Dengan dakwah ini nanti Allah hancurkan musuh islam dengan caranya sendiri, seperti :

✔ Nyamuk kecil Allah kirim untuk menghancurkan Raja Namrud yang besar
✔ Air yang menyelamatkan Musa AS, tetapi menenggelamkan Firaun
✔ Burung ababil yang mengalahkan pasukan Abrahah
✔ Kaum Luth dengan sekali teriakan malaikat, dan lain-lain.

Allah punya banyak cara untuk menghancurkan musuh² islam.

Ketika Fathul Mekah, orang Quraish khawatir mereka akan ditebas oleh Nabi SAW dan sahabat-sahabatnya. Tetapi apa yang dicontohkan oleh Rasullullah SAW. Saat semua pedang siap bicara untuk membalas keluarga yang dibunuh, kenangan ketika dihina, diusir, dikucilkan dari Mekah. Tetapi apa kata Nabi ; “Aku membebaskan kalian sebagaimana Yusuf AS membebaskan saudara-saudaranya ”

Siapa yang mampu melakukan demikian ?

Hanya Da’i yang mempunyai rasa sayang kepada umat. Inilah yang seharusnya menjadi fikir kita saat ini yaitu bagaimana menghadirkan rasa sayang terhadap umat dalam diri kita. Walaupun begitu pandangan resmi dari ulama atau masyaikh dalam kerja dakwah ini tidak ada. Kecenderungan gerakan ini adalah tidak melibatkan diri dalam perbedaan pendapat atau pandangan, dan hanya memfokuskan diri dalam kerja dakwah saja.

Namun inti dari kerja ini dapat memberikan gambaran tentang terorisme.

Seperti yang sudah di jelaskan bahwa kita ini adalah Umat yang da’i, yaitu umat yang memikirkan bagaimana umat manusia ini dapat selamat dari azab Allah dunia dan akherat. Inilah fikir yang harus dimiliki oleh seorang da’i, yaitu bagaimana umat ini bisa selamat di dunia dan di akherat.

Namun untuk bisa mempunyai fikir ini kita harus bisa mempunyai rasa sayang kepada umat, bukan membenci Di dalam perjalanan hidup Nabi SAW tidak pernah Nabi SAW ini membenci seseorang kecuali daripada kekafirannya atau keyakinannya atau cara hidupnya, inilah yang Nabi SAW benci bukan individunya.

Kisah kasih sayang Rasulullah SAW ;

✍ Pernah suatu ketika Nabi SAW sering dikerjai oleh seorang pemuda Quraish, namun ketika pemuda itu sakit Nabi SAW mengunjunginya. Asbab melihat akhlaq dan kasih sayang Nabi SAW ini akhirnya pemuda ini masuk Islam.

✍ Pernah Nabi SAW menangisi seorang pemuda yahudi yang mati belum mengucapkan kalimat syahadat. Lalu sahabat bertanya ;

” Mengapa engkau menangisi seorang anak Yahudi yang tidak beriman ? ” lalu Nabi SAW jawab, “ Aku menangis karena satu lagi manusia bertambah, masuk ke dalam neraka Allah ”

Inilah kasih sayang Nabi SAW kepada orang lain dan risaunya Nabi terhadap keadaan akherat mereka. Jadi inilah yang perlu kita tiru dari fikir, risau, dan kasih sayang Nabi SAW kepada umatnya.

Jadi yang perlu kita fikirkan bagaimana menyelamatkan umat bukan menghancurkan umat dan membiarkan mereka terjerumus ke dalam nerakanya Allah.

Hari ini kita fikirnya adalah menghadapi umat yang tidak beriman ini sebagai musuh Allah. Sehingga timbul dalam diri kita keinginan untuk memerangi atau membunuh mereka semua.

Padahal untuk menjadikan seseorang itu sebagai musuh agama, kita berkewajiban untuk mendakwahi mereka dulu, itupun kalau dia mau. Kalau mereka yang didakwahi tidak mau turut dengan perintah Allah, itupun boleh kita perangi setelah mereka menghalangi agama Allah dan membuat makar atas umat Islam. Dan kalaupun berperang, itupun harus dengan adab-adab perang yang dicontohkan oleh Nabi SAW.

Dan inilah yang dilakukan Nabi SAW semasa hidupnya sebelum menyerang kesuatu daerah :

✔ Apakah Dakwah sudah disampaikan ?
✔ Apakah Agama terhalang di daerah itu ?
✔ Apakah orang Islam di dzalimi di daerah itu ?
✔ Apakah Umat sedang diserang oleh musuh-musuhnya ?

Jika kondisi-kojdisi ini harus ditemukan terlebih dahulu, barulah perang dapat dilaksanakan. Dan itupun perang harus dilakukan dengan adab-adab perang yang telah diajarkan oleh Nabi SAW.

Di zaman nabi ketika berperang ;
✘ Tidak boleh merusak keadaan kampung bahkan tempat-tempat peribadatan umat lain sekalipun.
✘ Tidak boleh menyakiti wanita, anak-anak dan orang tua yang sudah udzur.
✘ Niat perang karena Allah bukan karena harta, dendam, dan lain-lain.
✘ Tidak boleh bunuh diri dalam perang walaupun dalam keadaan kesakitan.

Pernah setelah menang dalam suatu pertempuran pasukan islam masuk ke dalam suatu kampung, Nabi SAW berpesan agar jangan sampai telapak kaki kuda prajurit Islam ini membangunkan orang kampung yang tertidur.

Hari ini orang islam berperang berapa banyak adab perang Nabi SAW yang telah kita pakai. Hari ini kita dicap sebagai teroris karena fikirnya adalah membunuh manusia. Sehingga kita ini jauh dari predikat Rahmatan Lil Alamin.
Padahal dahulu ketika Nabi SAW berperang ada suatu kisah Nabi SAW menangkap tawanan perang. Lalu Nabi SAW berpesan kepada sahabat untuk memberi dakwah selama 3 hari kepada tahanan perang agar mereka mau masuk Islam, kalau tidak mau tawanan perang itu agar dibebaskan. Lalu sahabat bertanya kenapa dibebaskan ? kenapa tidak dibunuh saja ? lalu Nabi SAW menjawab, “Allah tidak butuh manusia ini masuk ke dalam neraka.”
Ini karena apa ? walaupun manusia ini durhaka sedurhaka-durhakanya mahluk itupun tidak akan mengurangi kekuasaan dan kekayaan daripada Allah Ta’ala. Allah juga tidak untung melihat manusia ini masuk ke dalam neraka. Tetapi Allah akan senang melihat manusia ini masuk ke dalam surganya Allah ta’ala.

Kita ini sebagai orang Islam tidak seharusnya dicap sebagai bangsa atau agama yang teroris padahal ;
①. Nabi kita ini adalah Rahmatan_Lil_Alamin dan Kaffatan_Lin_Naas
✒ Rahmat seluruh alam dan untuk seluruh manusia
②. Al Quránnya adalah Huddallin_Naas
✒ Petunjuk bagi seluruh manusia
③. Ummatnya adalah Khoiru_Ummat dan
Ukhrijat_lin_Naas
✒ Ummat yang terbaik dan dilahirkan ditengah manusia.

Seharusnya ini sudah bisa dijadikan tolak ukur tanggung jawab kita terhadap umat manusia saat ini. Inilah beban yang kita pikul atas seluruh manusia yaitu sebagai contoh suri tauladan untuk seluruh manusia, bukannya sebagai contoh gagal atau contoh yang rusak.

Semoga Allah SWT beri kepahaman kepada saya dan saudara-saudara semua, Amiin …

Most Popular

To Top