Hukum & Kriminal

Rabithah Alawiyah: Gelar Habib Novel Bakmumin Palsu

Ayonews, Jakarta

Dalam sebentar saja nama Novel Chaidir Hasan Bamukmin jadi kondang. Bukan karena ketokohannya yang telah memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tapi sebagai salah satu saksi pelapor kasus Ahok, lantaran menyandang nama panggilan ‘Habib Novel” sikapnya yang kontroversial.

Pemilik nama asli Novel Chaidir Hasan Bamukmin ternyata bukan seorang yang pantas menyandang gelar bernama depan ‘Habib’. Begini ulasannya…

Organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia, Rabithah Alawiyah, menegaskan Novel Bamukmin bukan berasal dari garis keturunan Rasulullah (sayyid). Artinya, Novel bukan habib yang secara bahasa artinya keturunan Rasul. Artinya gelar habibnya palsu.

Kesaksian tersebut sebenarnya sudah disampaikan oleh sang Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah, Sayyid Zen Umar bin Smith, sejak Oktober 2014.

“Novel Bamukmin itu bukan sayyid apalagi habib,” kata Sayyid Zen Umar bin Smith, pada Oktober 2014.

Pada Oktober 2014, orang yang disebut ‘Habib Novel’ menyita perhatian publik karena menjadi dalang demo Front Pembela Islam (FPI) yang berakhir rusuh.

Dijelaskan oleh Sayyid Zen, bahwa gelar Habib tidak bisa disematkan kepada setiap sayyid. Setiap habib harus sayyid, tetapi sayyid belum tentu habib. Seorang sayyid tidak bisa mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah habib.

Sayyid Zen menyayangkan, saat ini banyak orang mengaku sebagai seorang habib, padahal bukan.

Pengakuan habib harus melalui komunitas dengan berbagai persyaratan yang sudah disepakati. Di antaranya cukup matang dalam hal umur, harus memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, berhati-hati serta bertakwa kepada Allah.

Pendek kata, akhlaknya baik. Keteladanan dilihat orang lain. Menjadi habib atau dicintai orang kalau mempunyai keteladanan yang baik dalam tingkah lakunya. Maka, menjadi aneh jika seseorang mengaku dirinya seorang habib.

Sayyid Zen menekankan kepada sayyid-sayyid tentang pentingnya menjunjung aturan-aturan yang berlaku dalam sebuah negara yang ditempati. Di mana pun sayyid dan habib berada harus menjadi warga negara yang baik dan mengikuti semua aturan di tempat tersebut.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” imbuh Sayyid Zen.

Kemudian juga soal nama belakang asli dari Habib Novel, yaitu Novel Chaidir Hasan Bamukmin — nama Bamukmin merupakan salah satu suku yang berasal dari Yaman atau Hadramaut, tetapi tidak mempunyai silsilah atau garis keturunan dari Rasulullah.

Latar belakang Novel sendiri. Berdasarkan hasil BAP polisi. Dia pernah bekerja di gerai Pizza Hut selama empat tahun (1992-1995). Keluar dari Pizza Hut, Novel Bamukmin bekerja di PT Multi Laras Harapan Abadi yang bergerak di bidang jasa pengiriman ekspor dan impor, sampai tahun 2006.

Catatan masa kecilnya, lulus SD 05 Pagi Karet Tengsin, Jakarta Pusat di tahun 1985, melanjutkan ke SMP PGRI 17 Petamburan, Jakarta Pusat, lulus 1988. Ia juga tercatat pernah menempuh bangku kuliah di Politeknik D3 Trisula Rawa Bunga, Jakarta, lulus tahun 1995.

Ketika bergabung dengan ormas Front Pembela Islam sejak tahun 2006, ia mengaku sebagai Habib Novel. Tahun 2014, ia dijebloskan ke penjara selama tujuh bulan, karena memimpin aksi penolakan Ahok sebagai Gubernur DKI yang menggantikan Jokowi dan berakhir rusuh.

Penolakannya karena mengidentifikasi Ahok sebagai orang kafir yang tidak layak memimpin umat Islam di DKI Jakarta. Novel juga tegas menyatakan anti Barat, padahal pernah menjadi OB di restoran cepat saji Eropa Pizza Hut selama empat tahun.

Identitas lain dari Novel Chaidir Hasan Bamukmin merupakan kelahiran Jakarta, 15 Desember 1972, sesuai KTP-nya beralamat di Jalan Pejaten Barat II/32 RT 015/008, Pejaten Barat, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.(***)

Most Popular

To Top