Hukum

Jadi Saksi Pelapor, Advokat Palsu ini Ternyata Timses Agus-Sylvi & Orangnya SBY yang Punya Slogan “Jakarta Tanpa Ahok”

Ayonews, Jakarta

Fakta-fakta janggal dalam persidangan ke 4 kasus penistaan agama yang
didakwakan pada Cagub Petahana Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok makin terkuak. Ketidaksukaan dan persaingan politik menjadi motif para saksi untuk menjatuhkan Ahok melalui kasus ini.

Tim pengacara yang tergabung dalam Advokat Bhinneka Tunggal Ika menyatakan bahwa sentimen dan kebencian sudah ada sebelum pidato Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Lucunya, salah satu saksi bernama Gus Joy Setiawan alias Gus Joy mendadak menjadi pelupa di persidangan hari ini.

Dari keterangan saksi-saksi yang telah dimintai keterangannya pada hari
ini (03/01/2017), Tim Penasihat Hukum Ahok menyatakan keyakinan dan kejelasan saksi – saksi atas keterangan mereka yang secara nyata hanya merupakan keterangan bersifat sentimen/ketidaksukaan secara personal terhadap Ahok.
“Jadi bukan berdasar pada fakta hukum bahwa Ahok melakukan dugaan tindak pidana. Dan terhadap kasus yang kini bergulir diyakini merupakan crime engineering atau telah terencana terhadap Ahok,” papar salah satu pengacara Basuki Tjahaja Purnama, Tommy Sihotang, Selasa (3/1/2017) usai persidangan.

Tommy menegaskan bahwa saksi Gus Joy telah jelas dan nyata memiliki
sentimen atau ketidaksukaan secara personal dan memiliki agenda tersendiri demi kepentingan golongan/kelompok tertentu yang saksi dukung dan memiliki tujuan menjatuhkan Ahok dengan menggunakan senjata pidato Ahok di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

“Sudah ada niatan untuk mengkriminalisasi Basuki Tjahaja Purnama,” tegasnya.

Tommy mengungkapkan, di dalam fakta persidangan dan dari video Youtube yang dipublish pada 30 September 2016 dengan judul “Gus Joy Pidato Deklarasi Dukung Mas Agus dan Mpok Sylviana”, saksi Gus Joy diketahui sebagai Koordinator Koalisi Advokat Rakyat yang pada 30 September 2016 mendeklarasikan dukungan dan menjadi pendukung terhadap salah satu pasangan calon gubernur-wakil gubernur Agus-Sylvi.

“Dalam pidato deklarasi tersebut juga Gus Joy menyampaikan kata – kata provokatif yaitu; “Kita akhiri kepemimpinan Ahok yang arogan, suka menggusur rakyat kecil, hanyamembela kepentingan orang berduit, serta suka bicara kasar.” Atas hal – hal tersebut menjelaskan atas sikap subjektifitas Gus Joy terhadap Basuki Tjahaja Purnama yang merupakan lawan dari pasangan calon gubernur-wakil gubenur pilihannya,” papar Tommy.

Sebagai pendukung, kata Tommy, Gus Joy jelas memiliki sikap untuk membela pasangan Cagub-cawagub pilihannya.

“Yang sangat disayangkan cara yang digunakan sangat picik,” ujarnya.
Tak hanya itu, Tommy juga mengungkapkan bahwa dalam fakta persidangan, saksi Gus Joy telah terlebih dahulu menyatakan dukungan
terhadap Agus-Sylvi pada 30
September 2016 daripada melakukan laporan terhadap Ahok pada 07 Oktober 2016.

“Ini sudah jelas adanya
sikap dan agenda khusus saksi terhadap Basuki Tjahaja Purnama,” ucapnya.

Tommy juga memaparkan bahwa dalam fakta persidangan terungkap bahwa saksi ternyata bukanlah
seorang advokat.

“Waktu di BAP pun saksi Gus Joy lebih banyak menjawab lupa, tidak ingat, dan tidak mau menjawab, sehingga kredibilitasnya sebagai saksi patut dipertanyakan. Hal ini sesuai dengan isi Pasal 185 KUHAP yang berbunyi: “keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan”. Sehingga apabila saksi Gus Joy dalam persidangan lebih banyak menjawab lupa, tidak ingat dan tidak tahu, bagaimana bisa
keterangannya dijadikan alat bukti?” tanyanya.

Menurut Tommy, dari semua keterangan para saksi pelapor dalam BAP telah jelas dari semua Pelapor tidak satu pun yang melihat secara langsung pidato Basuki Tjahaja Purnama pada tanggal 27 September 2016 di Pulau Pramuka
Kepulauan Seribu.

“Mereka hanya berdasarkan informasi dari orang. Kemudian mendengar dan melihat dari unggahan video di Youtube dan atas unggahan tersebut diduga unggahan yang telah di buat komentar sedemikian rupa oleh Buni Yani sehingga memiliki makna dan arti berbeda. Kemudian menjadi viral di masyarakat dan menjadi fitnah bagi Ahok kemudian menjadi alat untuk mengkriminalisasi Basuki
Tjahaja Purnama,” jelasnya.

Menurut Tommy, dapat disimpulkan kalau saksi–saksi yang memberikan keterangan pada Selasa ini terhadap keterangannya sangat subjektif tidak berdasar yang merupakan asumsi pribadi dan cenderung lebih
kepada Ahok.

“Banyak kepentingan–kepentingan pribadi dan golongan untuk mencapai tujuan semboyan mereka yakni;
“Jakarta Tanpa Ahok”, sehingga terhadap keterangan saksi – saksi tersebut cukup berasalan untuk ditolak dan dikesampingkan,” tandas Tommy.(***)

Most Popular

To Top