Hikmah

Rahmat Allah & Ahok; Saat Nabi SAW Membela Yahudi & Menghukum Thumah yang Muslim

SUATU hari di Madinah, Thumah bin Abiraq mencuri baju perang. Kelakuan orang Arab beragama Islam ini dipergoki oleh pemilik baju besi itu.

Khawatir tindakannya dilaporkan kepada Rasulullah SAW, Thumah buru-buru membuang barang bukti itu ke halaman sebuah rumah. Kebetulan, rumah itu milik seorang Yahudi.

Usai membuat alibi, Thumah buru-buru kabur ke rumah keluarga besarnya. Kepada mereka laki-laki Arab ini bercerita jujur apa yang sudah dia kerjakan, tapi di saat bersamaan dia juga meminta kaumnya bercerita bohong kepada Rasulullah SAW demi membela dirinya. Keluarganya pun setuju.

Berbondong-bondong mereka mendatangi Nabi SAW lalu menggebu-gebu merekayasa laporan bahwa seorang Yahudi telah mencuri baju besi milik seorang Anshar.

Dengan cara yang sangat taktis, orang-orang ini berhasil memprovokasi Nabi SAW hingga ia yakin bahwa Yahudi itu memang bersalah. Apalagi di tangan Yahudi itu ada barang bukti.

Rasulullah hampir saja menjatuhkan vonis kepada Yahudi itu kalau saja Jibril AS tidak turun dari langit lalu menghentikan tindakan Muhammad SAW. Rupanya Allah tidak rela kekasih-Nya terjebak dalam kesalahan saat memutuskan perkara hanya karena provokasi dan demonstrasi.

Allah kemudian mengingatkan utusan-Nya yang agung itu lewat firman-Nya yang diabadikan dalam QS An-Nisaa ayat 105:

إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَٮٰكَ ٱللَّهُ‌ۚ وَلَا تَكُن لِّلۡخَآٮِٕنِينَ خَصِيمً۬ا (١٠٥)

”Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang [orang yang tidak bersalah], karena [membela] orang-orang yang khianat.”

Demikianlah, lebih dari 1400 tahun lalu, sejatinya Islam telah mengajarkan umat manusia sedunia bagaimana seharusnya sebuah peradaban tinggi (high civilization) didirikan.

Ciri-ciri peradaban serupa ini adalah ditegakkannya kebenaran kendati pahit dirasakan. Dalam kasus Thumah, kebanyakan orang tampaknya cenderung berpendapat mestinya Muhammad SAW sebagai orang Arab yang beragama Islam membela Thumah yang juga orang Arab dan beragama Islam.

Tapi fakta sejarah berkata lain. Lewat kasus Thumah, Allah membimbing utusan-Nya untuk bertindak benar guna melahirkan sebuah peradaban tingkat tinggi yang tiada duanya di muka Bumi ini.

Lewat kasus Ahok, masyarakat Indonesia kini diuji untuk melewati masa krisis yang pernah dilewati masyarakat Madinah di era Nabi itu. Adakah si Yahudi benar-benar mencuri baju besi seperti yang disangkakan padanya?

Sebuah pengadilan yang fair harus digelar. Adakah Ahok benar-benar bersalah dalam kasus penistaan Al-Quran yang disangkakan kepadanya?

Sebuah pengadilan yang fair juga harus digelar. Bukan demonstrasi yang berhak menentukan salah atau benarnya seorang tersangka, melainkan sebuah lembaga pengadilan. Inilah yang ditunjukkan akhlak Islam lewat vonis yang dijatuhkan Nabi pada Thumah. Inilah yang diajarkan Allah dari langit untuk kita umat manusia.

Dalam hal ini kita semua harus kembali kepada hati nurani yang mampu merasakan apa yang sesungguhnya terjadi. Bahwa Ahok dapat dikatakan telah digunakan oleh Allah untuk menunjukkan siapa kita sebenarnya.

Karena tanpa yang dilakukan oleh Ahok kita tidak pernah menjadi benar benar paham akan besarnya potensi dan kekuatan islam di negeri ini. Sebuah tindakan yang dianggap menistakan agama islam nyatanya telah mampu menyatukan kelompok kelompok yang sebelumnya dianggap berseberangan untuk bersatu padu dan berjuang bahu membahu.

Lewat Ahok jualah Allah mengkaruniakan rasa kebangsaan yang satu dalam keberagaman suku-suku, etnik manusia sehingga kita semua mengenali sejatinya nusantara. Lewat Ahok kita diingatkan kembali akan arti kata persatuan Indonesia yang telah digaungkan oleh pendahulu bangsa ini.

Jadi, apakah kita mau menyalahkan Ahok yang – berbeda dengan Thumah yang jelas mencuri- tanpa ia sadari mulutnya telah digunakan oleh-Nya untuk menebarkan berkah tersembunyi berupa persatuan kepada negeri yang dicintainya? Atau, kita mampu menyingkirkan sikap permusuhan dan mampu bersyukur karena kasus Ahok justru berhasil menunjukkan modal sosial kita yang luar biasa besar untuk menghadapi tantangan zaman yang sesungguhnya…

Jika hanya mengikuti alur pikiran kepentingan pribadi mungkin sulit untuk memahami bahwa sikap yang kita tunjukkan dalam menyikapi persoalan akan menentukan nasib dan derajat kemanusiaan kita.

Namun, dengan mata hati yang diliputi rasa cinta pada sesama kita bisa bijak memahami bahwa masalah adalah sebuah peluang yang diberikan oleh Allah agar manusia saling menghormati dan lebih menghargai nilai nilai kebersamaan.

Dan, dengan nurani yang selalu mengharapkan Ridho dan Kasih Sayang-Nya kita bisa memahami masalah sebagai masanya Allah menuntun manusia memperbaiki perilaku yang salah. Sehingga kita bisa menjadi manusia yang lebih ikhlas memberi dan menerima setiap kelebihan dan kekurangan saudara kita sendiri.

Lewat kasus ini Ahok memiliki peluang untuk menjadi manusia yang lebih beradab. Dan, lewat kasus Ahok kita memiliki peluang untuk menjadi masyarakat yang berbesar hati dan budi pekerti yang luhur.

Namun demikian, jika kata pengadilan Ahok bersalah, ia harus dihukum yang setimpal. Tak satu pun boleh marah, siapa pun dia, sebab demikianlah peradaban tinggi mengajarkan kita.

Tapi sebaliknya, jika pengadilan membuktikan Ahok tak bersalah, tak satu pun boleh marah, siapa pun dia, sebab demikianlah peradaban tinggi mengajarkan kita.

Ya Allah, persatukan kami dalam damai, bimbing kami dalam mewujudkan peradaban tinggi sebagaimana Engkau ajarkan para nabi jauh sebelum kami melihat awan bersaf-saf berarak di atas planet Bumi …

#satulangitsatubumi

Most Popular

To Top