Internasional

Polling Terbaru di 50 Negara Bagian, Hillary Ungguli Trump

Ayonews, Washington
Dua pekan sebelum pemilihan presiden (Pilpres) AS, capres dari Partai Demokrat Hillary Clinton mengungguli capres Partai Republik Donald Trump dalam polling terbaru.

Namun polling ini digelar sebelum FBI mengumumkan akan mengkaji ulang kasus email Hillary.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (29/10/2016), polling terbaru Reuters/Ipsos yang digelar 21-27 Oktober menunjukkan 42 persen responden, baik yang sudah memilih lebih awal atau yang baru akan memilih pada 8 November nanti, mendukung Hillary.

Hanya 36 persen responden yang menyatakan mendukung Trump. Dengan demikian, selisih suara keduanya mencapai 6 persen. Jumlah itu tergolong naik jika dibandingkan dengan selisih pekan lalu yang mencapai 4 persen untuk keunggulan Hillary.

Untuk kategori pemilih perempuan, Hillary juga mengungguli Trump dengan selisih 10 persen. Jumlah itu naik dari selisih 4 persen dalam polling pekan lalu. Hillary sendiri selalu memimpin polling untuk kategori pemilih perempuan dalam dua bulan terakhir.

Kendati demikian, Trump sedikit lebih unggul dari Hillary untuk kategori lebih spesifik, yakni pemilih wanita kulit putih. Trump unggul dengan selisih 2 persen dalam kategori ini. Namun jumlah itu menurun drastis jika dibandingkan selisih dalam polling pekan lalu, yang mencapai 12 persen.

Secara keseluruhan, pemilih perempuan di AS memang lebih condong ke Partai Demokrat daripada Partai Republik. Namun polling Reuters/Ipsos bulan ini menunjukkan mayoritas pemilih perempuan memiliki pandangan tidak menyenangkan untuk Hillary, yang merupakan capres wanita pertama di AS.

Kebanyakan pemilih perempuan, menurut polling Reuters/Ipsos menyakini Hillary tidak jujur dan tidak tulus.

Kedua polling Reuters/Ipsos itu dilakukan secara online di sebanyak 50 negara bagian, dengan melibatkan 1.627 warga AS dewasa yang kemungkinan besar akan memilih dalam pilpres mendatang. Margin of error polling ini mencapai 3-4 persen.

Polling itu digelar sebelum Direktur FBI James Comey mengumumkan rencana untuk mengkaji ulang kasus email Hillary, setelah ada temuan baru. Comey menyebut pengkajian ulang perlu dilakukan demi mencari tahu apakah temuan baru itu mengandung informasi rahasia negara. Kekhawatiran baru pun muncul bahwa pengkajian ulang kasus email Hillary itu akan mempengaruhi dukungan publik terhadapnya.(***)

Most Popular

To Top