Pilgub

Hiruk Pikuk Pilkada Jakarta dan Munculnya Manusia-manusia Sotoy

Lahaula wala quwwata Illah billahil aliyyil adziim…

Alhamdulillah saya diberi kekuatan/kebaikan oleh Allah untuk selalu sholat fardhu 5 waktu di masjid dan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW.

Di saat pembukaan surat  ini, ada sedikit yang mengganjal. Ada beberapa saudara muslim saya menyuruh kembali bersyahadat. Artinya saya sudah dianggap murtad. Lucunya, vonis murtad itu hanya karena saya menjelaskan kebaikan yang Allah berikan kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Sedikit mengingatkan bahwa setiap kebaikan itu datangnya dari Allah SWT dan kalau ada keburukan itu datangnya dari diri kita sendiri. Bukankah Rasulullah telah mencontohkan akhlaq hasanah, karimah dan adzima..?

Kalau mau konsisten kenapa harus menyikapi Ahok seperti seolah-olah ada Tuhan lain yang menciptakan beliau dan atau ada yang menganggap bahwa Allah salah berkehendak (nauzubillahimin dzalik) dalam memutuskan Ahok sebagai orang yang tidak pantas menerima dan menjalankan kebaikan-kebaikannya…?

Ini soal Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang sarat dengan nuansa serangan SARA. Kalau mau fair dan jujur, bukankah sistem Pilkada itu produk Barat. Bukan produk Islam. Memilih pemimpin dalam Islam tak ada sistem Pilkada. Semua berawal dari wasiat pemimpin sebelumnya yang diputuskan melalui musyawarah, bukan menggunakan jargon suara rakyat, suara Tuhan, seperti dalil demokrasi ala Barat.

Rasulullah SAW mengingatkan, jangan memilih pemimpin yang minta dipilih. Nah, berarti supaya tidak dilematis alias bingungin, maka sebaiknya kita jangan paksakan bahwa Pikada itu berkaitkan dengan surah Al-Maidah dll.

Ini pemilihan gubernur, kita harus tahu arti gubernur dulu dan pakai kesadaran sesadar-sadarnya bahwa Allah SWT yg menciptakan kemajemukan ini agar supaya kita tidak terhalang masuk surga.

Mengutip sebuah hadist bahwa yang akan menghalangi masuk surga itu adalah kesombongan walaupun sebesar biji dzarrah. Dan penyebab sombong itu hanya dua ; 1. menolak perintah Allah, 2. meremehkan manusia.

Agar lebih jelas lagi kita dingatkan bahwa Allah Maha Indah dan sangat menyukai keindahan (Al-hadist). Janganlah takut sama perubahan kalau perubahan itu kepada perbaikan supaya lebih baik (indah). Lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, sama dengan kemarin itu orang yang merugi, dan lebih buruk dari kemarin itu orang yg celaka.

Jadi oleh orang-orang bijak telah membuat wadah untuk menyikapi masyarakat yang majemuk dengan konstitusi berazazkan Pancasila. Agar dalam keberagaman ini kita dapat hidup bersatu dalam kasih sayang dan saling menularkan kebaikan kebaikan, tidak saling menghina mengolok-olok sehingga membentuk kolam besar fitnah dan gibah (Al-Hujurat 11,12&13).

Kenapa negeri kita ini Allah jadikan berbentuk kepulauan (archipelago) dan kenapa pula negeri kita bisa memiliki falsafah Pancasila yang begitu indah/serasi antara pulau-pulau/masyarakatnya (suku-suku) dan falsafahnya. Siapa yang bisa membuat seperti ini, adakah manusia yg dapat menciptakan negeri (bangsa) seperti ini yg sangat kaya…? tentu jawabannya ‘tidak’.

Bukankah Allah telah berfirman: “barangsiapa mensyukuri nikmatKu maka Aku tambahkan nikmat baginya dan barangsiapa ingkar pada nikmatKu maka sesungguhnya adzabKu sangatlah pedih”.

Oleh ulah oknum yang mengaku tokoh/ustad/majelis ulama tega-teganya membuat agama Allah jadi kelihatan menyeramkan gara-gara soal pilkada memilih manajer kota (gubernur).

Waktu Bung Karno memilih Frederich Silaban sebagai pemimpin proyek (pimpro) pembangunan Masjid Istiqlal, tidak bermasalah sama sekali. Mengapa demikian? Karena jawabannya sederhana saja. Agama tidak disalah gunakan dalam berpolitik. Namun di Pilkada ini banyak yang kebablasanpaham alias sotoy. Ayo semua kita bercermin dalam Al-Qur’an (QS Al-Anfāl 48 dan Al-Hazr 16).

Ahok juga butuh hidayah. Maka mereka yang muslim harus memberikan contoh yang baik. Indonesia bukan NII tapi NKRI. Kita bangsa yg majemuk/heterogen/multi etnik yang hidup di banyak gugusan pulau-pulau. Allah menciptakan manusia dalam berbagai suku bangsa supaya saling mengenal.

Janganlah memelihara kebodohan/kepicikan/fanatisme-buta krn adanya partai Islam yang membuat kasih sayang jadi burem. Pilkada itu memilih manager kota (pinjam kata ‘pemimpin’ ya) atau gubernur (kepala pemerintahan tingkat provinsi/ sebagai wakil pemerintah pusat di wilayah provinsi bersangkutan), kurang lebih sama dengan menteri lah.

Jadi jelas bukan pemimpin seperti yg dimaksud kitab yg suci yakni “Al-Qur’an”. Pilkada DKI bukan soal Ahok. Tapi soal apakah negara ini akan tetap menggunakan Pancasila sebagai dasar negara, atau berdasarkan agama. Ahok juga ciptaan Allah yang dititipkan pada lingkungan kalian supaya saling mengenal/mensyukuri atas karuniaNya dan ujianNya.

Hai saudara muslimku janganlah menjadi penghalang hidayah. Kalau memang ada yang lebih baik untuk mewujudkan Jakarta Baru jangan pilih Ahok. Dalam pesta demokrasi kita diberi hak yang sama dalam membuka jalan buat pilahan kita dan mendukung siapapun yang terpilih nanti. Penulis bukan memilih Ahok karena kakaknya, tapi karena melihat hasil kerjanya dan berjanji akan mencapai Jakarta Baru.
Wallahua’lam bissawaab…
(Andi Analta Amier)

Most Popular

To Top