Megapolitan

Waspada, Pengemis Keren Gentayangan di Bulan Ramadhan

Ayonews, Jakarta
Bulan Ramadhan dan mendekati lebaran menjadi momen bagi bagi para pengemis untuk datang ke kota-kota besar di Indonesia. Dan ini menjadi masalah tersendiri bagi pemerintahan, terutama kota-kota besar.

“Setiap bulan Ramadhan pengemis menjadi masalah klasik yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia,” ujar Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam acara buka puasa bersama di kediamannya Jalan Widya Chandra IV, Jakarta Selatan, Rabu (15/6/2016) malam.

Bahkan, lanjut Khofifah, ada banyak pengemis palsu yang muncul setiap bulan Ramadan. Mereka meminta-minta di jalanan padahal hidupnya sebenarnya berkecukupan.

“Patut disayangkan masih adanya pengemis palsu. Gelandangan dan pengemis termasuk salah satu Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS),” ucapnya.

Menurut Khofifah, itu harus menjadi perhatian bersama termasuk pemerintah dan para pemuka agama agar melakukan upaya sosialisasi dan pendidikan agama di semua kalangan umat.

“Intinya perlu bergandengan tangan semua pihak, termasuk pemuka agama. Maka di sini tokoh agama penting, tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Jadi nanti ditanya amalannya itu yang jawab bukan mulut tapi tangannya di akhirat,” ucapnya.

Diketahui, seorang pengemis bernama Arif Komady diamankan oleh petugas Satpol PP saat dilakukan razia terhadap para gelandangan dan pengemis (gepeng) di daerah Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Sabtu (11/6). Setelah diperiksa, pengemis itu justru diketahui memiliki satu unit mobil dan kartu kredit.

“Kita sayangkan justru ditemukan di Sampit kemarin. Setelah disisir pengemis itu punya sedan, kartu kredit. Ini mah pengemis keren,” ucapnya.

Ditegaskan Khofifah, selama Ramadan ini pihaknya berjanji akan giat merazia pengemis dan mengembalikannya ke daerah asal masing-masing.

Kemensos sendiri, menurut Khofifah memiliki program jangka panjang untuk menanggulangi masalah pengemis. Di beberapa daerah, Kemensos bahkan sudah memiliki beberapa program. Contohnya adalah program Desaku Menanti yang memiliki fokus pada perumahan dan permukiman.

“Jadi Desaku Menanti itu nomenklatur untuk perumahan permukiman untuk pengemis. Jadi strategi jangka panjang, tidak hit and run,” ujar Khofifah.

Di antara program yang sudah berjalan, ia mencontohkan seperti di daerah Malang, Jawa Timur. Para pengemis yang telah menjalani program reintegrasi ini malah ada yang berkreasi menciptakan lagu dan mengunggahnya ke situs berbagi video.

“Dan mereka ada lagu, ada loh itu di Youtube. Aku bukan pengemis lagi, begitu. Lucu deh (lagunya),” tutur Khofifah.(***)

Most Popular

To Top