Serba Ramadhan

Sambut Bulan Suci, Warga Tangerang Ritual Keramas Bersama di Sungai Cisadane

kramas

Ayonews, Tangerang
Ada tradisi turun temurun menyambut datangnya bulan ramadhan. Tiap daerah memiliki kebiasaan berbeda. Ada pawai obor, atraksi bedug, pawai kentongan, aksi bledugan pakai bumbungan bambu dan lain-lain.

Tradisi menyambut bulan berkah juga dilakukan warga Kota Tangerang di Sungai Cisadane. Kebiasaan keramas bersama menjelang bulan ramadhan menjadi tradisi di kota ini.

Puluhan hingga ratusan warga dari berbagai usia, pada Minggu (5/6/2016) sore memadati pinggir Sungai Cisadane dari Jalan Perintis Kemerdekaan ke arah kawasan wisata Pasar Lama. Masing-masing warga sudah menyiapkan shampo sachet dengan gayung di tangan.

Mulai dari anak-anak di bawah sepuluh tahun hingga orang dewasa memadati pinggir Sungai Cisadane tempat kebiasaan keramas dilakukan.
“Ini merupakan tradisi tahunan dari nenek moyang warga Kelurahan Babakan,” kata Lurah Babakan Abu Sofiyan yang mendapat kehormatan membuka acara tersebut.

Lokasi acara keramas bersama diadakan persis di pinggir Sungai Cisadane yang bisa ditempuh dengan tangga turun dan tempat berdiri berbahan semen selebar tiga sampai empat meter yang berbatasan langsung dengan sungai.

Setelah pak lurah memberi kata sambutan, acara keramas bersama pun dimulai. Warga berbaur membasahi dirinya dengan air dari Sungai Cisadane lalu menuangkan shampo sachet yang sudah mereka bawa masing-masing sebelumnya.

Puluhan anak kecil yang sudah mengerumuni tempat keramas bersama sebelumnya nampak basah karena mereka “colong start” dengan langsung “nyebur” ke sungai. Baik anak laki-laki maupun perempuan, sama-sama bermain air sembari menunggu orang dewasa membawakan gayung dan shampo untuk mereka.

Mereka yang terjun ke sungai seakan tidak takut pada dalamnya dasar Sungai Cisadane. Kebanyakan dari anak-anak itu terlihat pandai berenang. Meski demikian, pihak Kelurahan Babakan tetap menurunkan sejumlah pengawas yang bertugas menjaga agar tidak ada warga yang tenggelam ketika berenang.

Kebiasaan keramas ini, kisah pak lurah, awalnya dilakukan oleh warga setempat dengan menggunakan merang, yakni benih padi dari hasil panen yang dibakar lalu abunya dibiarkan semalam untuk kemudian dijadikan bahan alami perawatan rambut. Namun, karena merang kini sulit didapat, maka diganti dengan shampo saja.

Setiap kebiasaan keramas bersama digelar, ada pesan moral yang ingin disampaikan kepada warga. Pesan itu lebih sebagai pengingat agar warga dapat mempersiapkan diri, termasuk membersihkan diri, menjelang bulan ramadhan yang akan tiba.

“Keramas juga sebagai simbol kegembiraan menyambut bulan suci ramadhan. Selain itu, dengan keramas, warga juga diajak untuk menghormati dan memelihara Sungai Cisadane yang sampai saat ini masih digunakan sebagai sumber air baku masyarakat Tangerang dan mengingatkan supaya tidak buang sampah sembarangan ke sungai, termasuk bagi pengusaha supaya tidak buang limbah ke sungai,” ujar Abu.

Setelah keramas bersama, warga akan diajak untuk mengikuti rangkaian acara lainnya dalam rangka menyambut bulan ramadhan. Acara digelar di masjid terdekat dengan turut mengajak warga yang sudah menyelesaikan keramasnya.(***)

Most Popular

To Top