Nasional

Di Hari Pers Nasional, Jadikan Bahasa Indonesia Sebuah Kebanggan di Mata Internasional

Ayonews, Kalteng
Bahasa Indonesia merupakan salah satu elemen penting dalam menopang gagasan kebangsaan dan negara Indonesia. Bahasa Indonesia yang dikembangkan dari bahasa Melayu Pasar ini mampu menyatukan masyarakat yang berasal dari begitu banyak suku di masa-masa awal kebangkitan nasional.

“Sudah semestinya bahasa Indonesia dipergunakan untuk menjaga ikatan kebangsaan Indonesia tetap erat dan kuat,” kata Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Teguh Santosa ketika memberikan sambutan dalam perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2016 yang diselenggarakan PWI Kalimantan Tengah di Kabupaten Murung Raya, Selasa (31/5/2016), seperti dilansir RMOLJakarta.Com.

Memang, lanjut Teguh, ada sebagian kalangan yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia kaku dan kuno serta tidak mampu bersaing dengan bahasa-bahasa lain di kancah internasional.

“Kalangan inilah yang mencerminkan ketidakmampuan dalam meresapi arti perjuangan founding fathers yang telah mengorbankan diri dan nyawa mereka demi kemerdekaan Indonesia,” ujar bakal calon Gubernur DKI Jakarta ber-tagline Bang Teguh 24 Jam ini.

Padahal, lanjut Teguh, sejarawan asing yang mengamati kelahiran dan revolusi kemerdekaan Indonesia mengakui bahwa bahasa Indonesia yang dikembangkan dari bahasa Melayu Pasar ini mampu mengikat semua suku yang berbeda sebagai sebuah bangsa.

“Selain itu, perasaan senasib dan sepenanggungan di bawah penindasan penjajah direkatkan oleh bahasa Indonesia,” ujar Teguh.

Bahasa Indonesia, sebut dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini, terbilang unik. Keunikannya terletak pada fakta bahwa awalnya bahasa Melayu Pasar yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia hanya digunakan oleh suku Melayu yang terbilang minoritas.

“Rasanya, hanya di Indonesia, bahasa nasional yang menyatukan sebuah bangsa berasal dari suku minoritas. Ini memperlihatkan kemampuan bahasa Indonesia beradaptasi dengan bahasa-bahasa daerah lain, sekaligus memperlihatan bahwa orang Indonesia lebih mencintai persamaan di antara mereka daripada meributkan perbedaan,” ujar Teguh yang juga mengajar di London School of Public Relations LSPR (LSPR) Jakarta, dan kini tercatat sebagai Wakil Rektor Universitas Bung Karno (UBK).

Disebut Melayu Pasar, lanjut Teguh, karena bahasa itu awalnya ada di pasar, tempat pertemuan penjual dan pembeli, juga kaum cerdik pandai. Mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa yang sederhana itu.

“Dan pada gilirannya kita berhasil mengembangkan bahasa Indonesia seperti yang kita kenal sekarang ini,” masih kata Teguh.

Hal lain yang juga memiliki peran besar dalam meletakkan dasar-dasar kemerdekaan Indonesia, sambung Teguh, adalah insan pers nasional di awal abad ke-20. Insan pers nasional menuliskan laporan-laporan mereka mengenai situasi dan keadaan hidup di bawah penjajahan yang dialami oleh masyarakat di banyak tempat.

“Mereka menuliskan laporan dan cerita dalam bahasa Indonesia sederhana. Membuat orang-orang dari suku dan tempat lain yang membacanya perlahan-lahan menyadari bahwa mereka semua hidup dalam situasi yang sama, di bawah penjajahan. Pada titik inilah bibit rasa kebangsaan itu muncul,” jelas Teguh lagi.

Menurut Teguh, insan pers nasional tidak hanya memiliki peran di masa-masa pra dan awal kemerdekaan. Di masa kini, di saat Indonesia menghadapi persaingan yang semakin ketata dengan negara-negara lain, insan pers nasional dituntut untuk memainkan peran yang lebih signifikan lagi.

“Insan pers yang kita butuhkan adalah insan pers yang memiliki kesadaran dan pemahaman bahwa pekerjaan mereka dibutuhkan untuk menjaga api NKRI tetap menyala abadi. Untuk itu, insan pers harus memiliki kompetensi yang memadai dalam menjalankan tugas mereka,” kata Teguh.

Mewaikil ketua PWI Margiono yang berhalangan hadir, Teguh mengapresiasi kinerja PWI Kalteng yang telah menyelenggarakan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebanyak delapan kali.

“UKW adalah perangkat untuk membekali insan pers dengan kompetensi dasar yang harus dimiliki, sekaligus menyadarkan mereka akan tugas dan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat dan bangsa,” ujarnya.

Dalam peringatan HPN Daerah Kalteng, PWI Kalteng meluncurkan buku putih yang berisi nama sekitar 280 wartawan se-Kalteng yang telah mengikuti UKW.

Usai memberikan sambutan, Teguh menyematkan pin emas di dada kanan Bupati Murung Raya Perdie M. Yoseph yang dinilai memiliki perhatian besar dalam kehidupan wartawan dan ikut mengawal kebebasan pers.(***)

Most Popular

To Top