Nasional

Pro Kontra Wacana Bongkar Kuburan Massal Korban 65 Terus Mengemuka

Ayonews, Jakarta
Kuburan massal korban 65 yang tersebar di 122 titik di Indonesia terungkap dalam Simposium Membedah Tragedi 1965 yang digelar pada April lalu. Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) ’65 kemudian menyampaikan data sementara titik-titik kuburan massal kepada pemerintah.

Kemudian YPKP ’65 mulai bergerak mengumpulkan data dari kuburan massal yang tersebar tersebut. Pemerintah, melalui Menko Polhukam sendiri ingin mengetahui jumlah pasti korban tragedi 65.

Aktifis YPKP menyadari bahwa apa yang mereka lakukan berisiko. Tak hanya akan mendapat tentangan dari berbagai pihak, mereka pun merasa terancam. Bahkan, YPKP meminta perlindungan kepada pemerintah, tak hanya pada diri mereka. Tapi pada titik-titik kuburan massal agar tidak dirusak.

Pemerintah melalui Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan berjanji akan membentuk tim untuk membongkar misteri yang disebut YPKP. Namun bukan dalam rangka untuk membenarkan klaim YPKP. Tapi mencari kebenaran apakah korban 65 mencapai ratusan ribu seperti klaim yang beredar selama ini. “Apakah kamu mau disebut bangsa holocust,” sebut Luhut saat itu.

Baru bergulir wacana pembongkaran kuburan korban tragedi ’65, tentangan dari sebgaian kalangan masyarakat pun berdatangan. Salah satunya dari Letjen TNI Purn Kiki Syahnakri yang menyatakan penolakannya. Ia berpendapat, wacana ini dapat memicu konflik sosial.

“Lalu ada rekomendasi dari simposium kemarin, untuk membongkar kuburan. Ini sangat berbahaya, bisa memicu konflik horizontal. Justru simposium ini untuk meredam konflik seperti itu,” ujar Kiki di Dewan Dakwah Indonesia di Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (30/5/2016).

Sebanyak 70 organisasi akan turut serta dalam simposium nasional bertema “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain”.

Kiki mengatakan, simposium yang akan digelar ini dapat meredam konflik.”Itu dia. Justru simposium ini untuk mencegah jangan sampai hasil simposium Aryaduta kemarin agar tidak jadi konflik horizontal,” ujar Kiki.(***)

Most Popular

To Top