Hukum & Kriminal

Polisi, Jaksa & Hakim Telah “Dibeli”, Pengusaha yang Cabuli 58 Anak Gadis Diistimewakan Aparat

Ayonews, Jakarta
Soni Sandra alias Koko (60), pengusaha yang dituduh sebagai pelaku pencabulan terhadap belasan anak di Kediri, Jawa Timur, diduga telah membeli polisi, jaksa dan hakim untuk menutupi kasus pencabulan yang membelitnya.

Bahkan, Direktur Utama PT Triple’s. itu pernah sesumbar bisa membayar pihak manapun, termasuk Presiden Joko Widodo. “Si Soni Sandra memang punya kemampuan finansial yang kuat. Dia bahkan pernah sesumbar semua bisa dia beli, dari mulai hakim, jaksa, polisi, bahkan Jokowi,” kata Juru Bicara Masyarakat Peduli Kediri, Ferdinand Hutahaen, dalam konferensi pers di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (16/5/2016).

Ferdinand mensinyalir kekuatan finansial inilah yang membuat kasus-kasus Ferdinand tak pernah mencuat di permukaan.

“Soni Sandra cukup disegani dan ditakuti. Inilah yang diduga membuatnya diperlakukan khusus oleh kawan-kawan penegak hukum,” ujar Ferdinand.

Diduga, selama tahun 2015, ada 58 gadis remaja menjadi korban kejahatan seksual Soni Sandra. Baru 17 remaja yang sudah diungkap oleh LSM Kekuatan Cinta Indonesia (KCI) dan Masyarakat Peduli Kediri (MPK). Ada unsur kesengajaan yang dibuat para penegak hukum agar kasus ini menjadi buram.

Ferdinand menceritakan kejanggalan-kejanggalan yang membuat mereka menduga SS dilindungi para aparat penegak hukum, misalnya lamanya proses pelimpahan berkas penyelidikan dari kepolisian ke kejaksaan.

Pelimpahan berkas penyelidikan dari kepolisian ke kejaksaan, menurut Ferdinand, baru dilakukan setelah Kepala Polres Kediri diganti pejabat baru, yakni Ajun Komisaris Besar Bambang Widjanarko.

“Sebelumnya, kasusnya seperti mandek. Makanya, kami berterima kasih kepada Pak Bambang yang bisa mengupayakan kasusnya bisa P21,” kata Ferdinand.

Meski sudah dilimpahkan ke pengadilan, lanjut Ferdinand, kejanggalan lain muncul saat jaksa menuntut SS dengan aturan lama, yakni Pasal 81 UU Perlindungan Anak Tahun 2002 dengan ancaman hukuman 13 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

“Padahal, sudah ada revisinya, yakni UU No 35 Tahun 2014 yang ancaman hukumannya Rp 5 miliar dan penjara 15 tahun,” ucap dia.

Dari investigasi LSM itu, Soni Sandra sempat menawarkan uang tunai Rp 50 Juta dan sepeda motor kepada keluarga AK (13), salah satu korban. ” Tujuannya agar kasusnya tidak dilaporkan,” kata Ferdinand.

AK berserta ibunya, SR, turut hadir dalam kesempatan itu. SR sendiri seorang janda yang bekerja sebagai buruh cuci.

Menurut Ferdinand, seluruh keluarga korban Soni berasal dari kalangan ekonomi lemah. Kondisi itulah yang diyakini membuat banyak keluarga dari korban Soni enggan menempuh jalur hukum.

Menurut Ferdinand, 17 korban itu adalah mereka yang melaporkan dan data korbannya terdeteksi. Ia mengatakan, jumlah korban sebenarnya diperkirakan mencapai 58 orang.

Namun sebagian besar identitas keluarga korban sudah tidak jelas dan tidak ditemukan saat anggota Yayasan Kekuatan Cinta Indonesia mengecek ke lapangan.

“(Kasus) ini kalau tidak diangkat ke media, bisa-bisa kasusnya tenggelam dan menghilang begitu saja,” kata Ferdinand.

Sementara itu anggota Yayasan Kekuatan Cinta Indonesia, Jeane Latumahina, mengaku kerap diusir oleh hakim saat akan mendampingi para korban menjalani persidangan.

“Saya ingat hakim yang mengusir saya bernama Purnomo. Kami dilarang memberikan pendampingan,” ujar dia.
Dari 17 kasus, lima di antaranya sudah dalam proses pengadilan. Dari lima kasus, dua kasus diproses di Pengadilan Negeri Kota Kediri, sedangkan tiga lainnya di Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri.(***)

Most Popular

To Top